21 January 2020

Beragama Tapi Kehilangan Etika (Untukmu Felix Siauw)

Mengaku beragama tapi lisannya tajam berbisa. Siapa yang tak sepaham, kau cela habis-habisan. Sebenarnya engkau mualaf atau hanya misionaris yang ingin merusak Islam dari dalam.

Engkau boleh berbeda tapi tak layak engkau mencela. Apalagi yang kau cela adalah sosok panutan yang sudah punya andil bagi bangsa. Sedangkan kau? Ah, baru kemarin belajar agama, berlagak paling ahli segalanya.


Aku tak mengaku paling beragama walau aku sudah lama belajar agama. Bukan hanya sekedar karbitan atau instan. Tak pula menjual tampang dan cuitan. Tapi aku menaruh hormat dan cinta pada setiap perbedaan.

Jika tak sependapat, jawablah dengan argumen yang berkelas. Bukan kata-kata buas. Keluarkanlah dalil-dalil yang ilmiah dan beradab. Bukan celotehan tanpa adab. Akupun tak senada, tapi aku tak akan berlaku hina dan menista.

Agama tanpa akhlak, begitulah jadinya. Jumawa seolah pemegang kunci surga. Dalil sakral menjadi senjata, menghantam siapa saja yang tak sekata. Untungnya, tak banyak yang berperilaku sepertinya walau fitnahnya tiada tara.

Beragama tak cukup hanya kepintaran. Tanpa adab dan akhlak, akan kehilangan arah dan tujuan. Yang dituju bukan Tuhan tapi nafsu dan kesombongan. Akibatnya, tauhid hanya menjadi umbul-umbul, topi dan bendera pajangan. Sambil takbir di jalanan.

Dengan mengenal Islam, seharusnya engkau menebar damai dan kerahmatan. Mencintai makhluk Tuhan yang beraneka ragam. Bukan mengumbar celaan. Saya jadi ragu. Sebenarnya kau ini mendapat hidayah atau malah tersesat semakin dalam.

Jika engkau mengaku muslim namun Islam semakin tercoreng dengan kehadiranmu, lantas apa manfaatnya kau mengenal Islam? Jangan-jangan kau belum kenal Islam, kecuali hanya dari bungkusnya. Itupun bungkus yang dibawa kaum pembawa gonjang-ganjing dan penebar fitnah akhir zaman.

Apakah kau perlu diajari tata krama dan adab oleh guru-guru kami agar lebih lembut dalam bertutur? Ataukah kau perlu beri pelajaran agar tak semakin beringas tak karuan? Ah, nanti pasti kau akan teriak kriminalisasi ulama. Terus pasukanmu akan mengerahkan demo entah jilid yang keberapa.

Semoga kau semakin dewasa dalam beragama. Tak angkuh lagi tapi semakin lembut hati. Kau boleh mengaku benar tapi jangan kau musuhi orang-orang yang kau anggap tak benar. Agama itu menyemai perdamaian, bukan menyulut permusuhan.

By Suryono Zakka , Aswaja Sumsel