2 December 2019

Tanggapan Netizen Terkait Pernyataan Gus Muwafiq 'Rembes'

Da'i ideal kalau menurut saya Pak Quraish, lebih banyak membaca daripada bicara. Waktu seorang Habib melakukan etnografi di Pekalongan, kadang diundang ceramah, pasti beliau menuliskan materi yang akan dibicarakan terlebih dahulu, setidaknya point penting. Katanya para profesor hebatpun melakukan itu agar kerangka bicara jelas.

Saya sering diajak menghadiri acara maulid oleh 'beliau', biasanya ada penceramah sebelumnya yang berbicara, tentu saja tokoh, hampir satu dekade bertemu diberbagai tempat materi dan guyonan ceramahnya itu-itu saja, tidak ada kebaruan, tidak ada bacaan baru, apalagi revisi atau pemutakhiran pengetahuan kegamaan.

Dari sosok itu saya melihat, memang jam terbang para penceramah menghilangkan minat baca, seperti orang yang terlalu sibuk dan banyak pikiran tidak berminat dan tidak enak makan. Apalagi kalau sang Da'i tidak punya hobi belajar atau membaca.
Saya sendiri kalau sibuk dan banyak pekerjaan, membaca terasa hambar, apalagi para dai tenar yang jam tayangnya luar biasa, sehari bisa 3 hingga 4 lokasi pengajian. Sepanjang tahun. Mana sempat baca. Dosen yang jam ngajarnya lebih 30 jam perminggu sulit untuk menjadi dosen bermutu.

Saya penasaran apa rahasianya di Yunani kuno lahir para raksasa pemikir dan cendikiawan yang rumusan eksakta dan politik-sosial humanioranya, seperti Phitagoras, Aristotels, Plato dan puluhan filsuf lainnya spektakuler dan abadi.

Saya menemukannya di Betrand Rusel, menurutnya di Yunani ada tradisi Leisure, santai, mengangur, kalangan elit tidak melakukan pekerjaan teknis dan lapangan, pekerjaan seperti itu dilakukan para budak, bertani, memasak, melayani dll. Sementara masyarakat elit, menganggur dan bersantai. Sehingga mereka fokus dan banyak waktu untuk belajar.

Kemarin baru ngobrol dengan Profesor New York Univesity, katanya disana ia hanya mengampu 6 jam perkuliahan, 3 jam s2 3 jam s3. Sisa waktunya dihabiskan dierpustakaan pribadi maupun kampus. Menurutnya kebijakan apapun, jika jam mengajar masih diatas 20 jam sulit bisa meningkatkan kompetensi dosen dan kualitas mahasiswa.

Kembali ke pembicaraan kita diatas, kita, apapun profesinya pengusaha, dosen ataupun dai penceramah, membutuhkan waktu menganggur, santai, leisur, untuk membaca diri, membaca lingkungan, dan bagi penceramah tentu saja membaca buku atau kitab, jika tidak masyarakat atau hukum akan memaksa kita rehat dari kesibukan tiada akhir itu.

Tulisan diatas tidak dimaksudkan untuk menilai Gus Muwafiq, ini untuk saya dan kawan-kawan seusia yang secara pribadi saya minta untuk saling mengingatkan dan mengingatkan saya jika saya salah jalan.

Saya sudah menyimak videonya dengan seksama, tidak dalam kapasitas saya untuk mengkritik tokoh sekelas beliau. Tapi untuk menjadi renungan saya dan kawan-kawan, dalam materi yang sedang menjadi kontroversi sendiri jelas saya tidak setuju dengan pemaparan Gus Muwafiq, sebab bagaimana keistimewaan Nabi jelas termaktub dalam Syamail Rasul, kitab maulid dll. Betul Nabi secara lahir diasuh oleh kakeknya, tetapi secara hakikat Nabi diasuh oleh Allah swt langsung, beliau saw bersabda,
أدبني ربي فاحسن تاديبي

Allah swt (langsung) yang membimbingku, dengan sebaik-baiknya pengajaran.

Gus Muwafiq sepertinya amat jarang menyimak atau membaca buku maulid Nabi seperti Barzanji, simthut Durar, Diba, Syaraful Anam, dhiyaul lami' dan buku lainnya. Karena disitu semua sangat rinci dan jelas. Berdasar hadis-hadis yang saheh.

Dan saya juga tidak setuju dengan Gus Muwafiq, bahwa Nabi Ibrahim lahir dari seorang Ayah pembuat patung. Sebab itu bertentangan dengan irhash dan ishmah para Nabi. Ahlu Sunah wal jamaah meyakini, mustahil para Nabi dilahirkan dari sulbi non muslim, jika bapak Nabi Ibrahim non muslim, berarti dalam darah Nabi saw juga mengalir darah penyembah berhala. Itu mustahil.

Video klarifikasi Gus Muwafiq Terkait Pernyataan 'Rembes' Pada Saat Mengisi Mauidhoh Hasanah di Purwodadi;


Penjelasan seperti itu, dalam kitab tipis syarah jauhar tauhidpun ada. Anehnya sekelas beliau tidak up tp date, minimal menjelaskan qaul muktamad dalam masalah ini. Apalagi terkait dengan pribadi Nabi saw.

Kalau Anda kecewa, mau demo atau apa terserah, tapi jangan dipolitisasi dan jangan sumpah serapah, membela Nabi saw dengan cara yang diajarkan oleh Nabi.

Oleh: Ahmad Tsauri