17 December 2019

Ketika Orang Dungu Banyak Nyinyir

Di era dunia maya yang amat demokratis ini, semua orang punya kesempatan sama untuk mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Masalah timbul ketika tingginya semangat untuk berekspresi tapi tidak diiringi dengan bekal tingginya pengetahuan dan keahlian yang dimiliki. Yakni, ketika kompleksitas politik dianalisa dan dikomentari oleh orang-orang amatiran, fatwa agama dikeluarkan orang-orang yang baru belajar agama, dan seterusnya. Akibatnya, dunia menjadi bising dan gaduh sebagaimana yang kita dapati di media sosial belakangan ini.


Menurut Imam al-Ghazali, perselisihan di dunia ini dipicu oleh ketidaksanggupan kaum bodoh untuk berhenti menanggapi hal yang tidak ia pahami dan kuasai dengan baik.

لِأَجْلِ الجُهَّالِ كَثُرَ الخِلَافُ بَيْنَ النَّاسِ وَلوْ سَكَتَ مَنْ لَايَدْرِيْ لَقَلَّ الخِلَافُ بَيْنَ الخَلْقِ

"Karena orang-orang dungulah terjadi banyak kontroversi diantara manusia. Seandainya orang-orang yang bodoh berhenti bicara, niscaya berkuranglah pertentangan di antara sesama." (Imam al-Ghazali dalam kitab "Faishilut Tafriqah bainal Islâm wal Zindiqah")

Kebodohan seyogianya melahirkan semangat untuk belajar dan menahan diri mengomentari segala hal. Ketika mereka secara leluasa turut berbicara apa pun yang ada di sekelilingnya, saat itulah sebuah malapetaka bisa terjadi.

Harus diingat pula, manusia senantiasa dalam keterbatasan.
Pandai dalam segala hal adalah sesuatu yang mustahil. Misalnya, orang yang mahir soal seni belum tentu ia mahir pula soal ekonomi; orang yang pandai tentang politik, belum tentu pandai pula di bidang agama. Begitu juga sebaliknya. Sehingga yang dibutuhkan adalah rasa tahu diri akan kapasitas diri sendiri.

Ibnu al-Jauzi berkisah dalam kitabnya, akhbar al-hamqa wa al-mughaffaliin. Suatu hari, dalam sebuah forum yang diampu oleh Ibnu Abbas, ada seorang lelaki yang bolak-balik interupsi dan berkomentar. Setiap kali orang itu berbicara, selalu saja salah. Ibnu Abbas beberapa kali meluruskan pembicaraannya, tapi masih saja lelaki itu berkomentar dan salah lagi, salah lagi.

Setelah berulang beberapa kali, nampaknya Ibnu Abbas sudah mulai lelah. Ia kemudian menoleh ke arah budaknya, sembari berkata, “wahai budakku, aku merdekakan engkau sejak saat ini.”

Merasa aneh, si lelaki bertanya kepada Ibnu Abbas. “Wahai Ibnu Abbas, kenikmatan besar apa yang membuatmu bersyukur seperti ini, sampai-sampai engkau memerdekakan budakmu?”

Ibnu Abbas menjawab singkat: “Aku bersyukur karena Allah tidak menjadikan aku seperti dirimu. Lelaki itu pun tercekat air liur di tenggorokannya dan wajahnya berubah kecut”

Kisah tersebut memberi pelajaran kepada kita, berfikirlah sebelum banyak bicara karena banyak bicara membuat kita sedikit berfikir.

Al-Imam Ali bin Abi Thalib memberikan nasehat kepada kita; إذا تم العقل نقص الكلام.

Seseorang yang akalnya sempurna, berfungsi baik, niscaya dia akan sedikit bicaranya. Dia hanya akan berbicara mengenai hal-hal yang penting dan bermanfaat.

Mengomentari perkataan Imam Ali ini, Syeikh Az-Zarnuji menulis sebuah syair:

إذا تم عقل المرء قل كلامه # وأيقن بحمق المرء إم مكثرا
"Orang yang akalnya sehat, sempurna, berfungsi normal, dia akan sedikit bicara.
Dan yakin lah, bahwa orang yg banyak bicaranya, pasti dia adalah orang yg dungu".

Bodoh dan dungu itu berbeda. Orang bodoh bisa disadarkan, tapi orang dungu susah disadarkan. Orang bodoh itu membicarakan sesuatu yang tidak ia ketahui, orang dungu membicarakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Jadi, kalau kita bertemu dengan orang yang banyak bicara, pandai beretorika, jangan takjub dulu, jangan keburu melongo, karena hal itu tak menjamin kepandaian yang sebenarnya. Jadi sabar saja dulu, siapa tahu dia sedang dalam perjalanan menampakkan kebodohannya sendiri. Berbahaya kalau terburu-buru jatuh cinta, nanti bisa ketularan. Salah pun dibela karena terlanjur cinta.

Hari ini, memang agak susah untuk tidak berpartisipasi dalam majelis perbincangan. Tema-tema yang dibincangkan terlalu menarik untuk dilewatkan tanpa ikut berkomentar. Aku berbicara maka aku ada, kira-kira begitulah dalilnya.

Berbeda dengan zaman dulu. Semakin banyak bicara, semakin takut dan khawatir banyak salahnya. Seperti yang disampaikan oleh Umar bin Khatthab;
ما ندمت على سكوت مرة # ولقد ندمت على الكلام مرارا

“Sesalku bukan karena diamku sekali, tapi karena bicara ku berulang kali.”

Kita memang diberi mulut untuk berbicara, tetapi kita juga diberikan akal untuk berfikir dan menimbang sebelum bicara. Sebagaimana pesan Nabi SAW, jika tak bisa bicara baik, maka sebaiknya tak bicara. Wallahu A'lam...

(Madras Ribath)