13 October 2019

Radikalisme Tumbuh Dari Dalam Islam?

Radikalisme telah mengurat mengakar dalam tubuh umat Islam, sejak tahun-tahun pertama Islam berkembang. Setelah imam Ali ditipu dan dikhianati dalam diplomasi perang Siffin oleh kubu Muawiyah bin Abu Sufyan, lebih 18000 pasukan imam Ali desersi [pengingkaran tugas atau jabatan tanpa permisi (pergi, bebas atau meninggalkan)] terhadap kepemimpinan Ali.


Kelompok tersebut disebut khawarij. Mereka beranggapan baik Ali maupun Muawiyah telah kafir karena menetapkan hukum, atau ketentuan diluar ketentuan Allah. Slogan mereka  ﻻ ﺣﻜﻢ ﺍﻻ ﻟﻠﻪ  , hukum hanya otoritas Allah swt. Mereka memisahkan diri dari kelompok Islam lain, hidup secara ekslusif untuk menerapkan hukum-hukum Allah secara sempurna.

Mirip-mirip dengan sekarang, Islamic State, Perumahaan Syariah, united-united itu, dll. Mereka memisahkan diri karena mereka berfikiran hanya dengan ekslusifitas, ajaran agama bisa diamalkan. Bagi mereka, hidup itu untuk agama, padahal agama ada untuk kehidupan.

Pada mulanya Imam Ali membiarkan mereka, sampai mereka menyiksa dan membunuh Abdullah bin Arat, istrinya yang sedang hamil dan 3 perempuan lain. Imam Ali dan Abdullah bin Abbas mengajak mereka kembali dengan pemahaman keagamaan yang benar, 6000 orang insaf dan kembali berbaur dengan umat Islam.

Imam Ali melihat bahaya kelompok radikal ini, dan menyiapkan 40.000 pasukan, sedangkan dari khowarij 4000 orang dipimpin oleh Abdullah Arasibi Dzul Khuwaisiroh. Perang antar umat Islam yang dikenal peristiwa Nahrawan terjadi pada 9 Sofar 38 H/ 16 Juli 758 M. Pasukan khawarij nyaris gugur semua, hanya 9 orang yang tersisa, sementara dari pasukan imam Ali hanya ada 9 orang yang wafat.

Ketika imam Ali ditanya apakah Khawarij Kufur, imam Ali menjawab : "Mereka Muslim/ Islam", tapi " ﻗﻮﻡ ﺑﻐﻮ ﻋﻠﻴﻨﺎﻓﻘﺎﺗﻠﻨﺎﻫﻢ " mereka muslim yang melampau (ekstrim) sehingga kita perangi". Sebelum dan setelah perang, termasuk korban perang dari khawarij diperlalukan dengan cara Islam oleh Imam Ali bin Abi Tholib.

Jadi tidak perlu murka, menutup mata, pura-pura tuli, atau membantah bahwa pelaku teror itu bukan umat Islam, tidak menyadari ada pemahamam Islam yang keliru. Akui saja, lalu benahi ajaran-ajaran atau faham Islam yang terbukti melahirkan intoleransi dan radikalisme. Tidak perlu pula mengkambing hitamkan kemiskinan, karena konglomerat seperti Usama bin Laden pun jadi teroris.

Terorisme dan radikalisme dalam tubuh umat Islam karena paham agama yang keliru. Karena terorisme tidak memilih miskin atau kaya, bisa menjangkiti semuanya.

Ketika terjadi aksi terorisme tidak perlu playing victim seolah ada upaya orang luar yang ingin merusak citra Islam, akui radikalisme muncul karena adanya potensi ekslusivitas dalam ajaran Islam. Seperti paham Muhammad ibn Abdl Wahab dan Ibn Taimiyah yang terus di ekspor dan dipromosikan ke berbgai negara. Ekslusifitas baik dalam hubungan antar umat beragama maupun kepada sesama umat Islam sendiri.

Tidak perlu menuding ada upaya untuk menyudutkan Islam. Bukan orang lain, bukan kelompok lain, muslim sendiri yang menyudutkan Islam.

Oleh: Shmad Tsauri