11 September 2019

Kronologi PB Djarum Dengan KPAI

Sejarawan ganteng dan baik hati serta gokil, Meneer Bonnie Triana, menulis "sejarah" konflik PB. Djarum dengan KPAI (komisi perlindungan anak dan ibu) sampai kemudian PB. Djarum memutuskan untuk menghentikan Audisi Badminton Djarum untuk dan remaja di berbagai kota di Indonesia yang sebenarnya telah berlangsung puluhan tahun (sejak 2006).

Dari kronologi ini, menurut saya memang KPAI rigid/kaku, lebai dan tidak bijaksana. Organizational behaviour-nya kayak pake kaca-mata kuda. Masalahnya ini mmbawa kerugian sebab bisa merenggut mimpi anak anak bangsa dan harapan orang tua mereka serta kemunduran dunia badminton Indonesia.


Semoga setelah banyak mediasi dan kegaduhan ini, segera ada solusi; KPAI bersedia "membuka diri" dan PB. Djarum juga tidak menghentikan Audisi Badmintonnya. Aamiin.
Dank U Well Meneer Bonnie

Kronologi PB Djarum VS KPAI

Bagaimana awal kisruh antara PB Djarum dengan KPAI? Awalnya pada Agustus 2018 Yayasan Lentera Anak mengadukan persoalan audisi bulutangkis PB Djarum ke KPAI. Lantas pada Oktober 2018 KPAI mengundang PB Djarum untuk klarifikasi mengenai aduan Yayasan Lentera Anak. Tuduhannya: Djarum mengeksploitasi anak dengan cara menjadikan mereka obyek promosi rokok merk “Djarum” sebagaimana tertera pada kaos jersey yang mereka gunakan selama rangkaian kegiatan audisi. KPAI menuduh PB Djarum melanggar Peraturan Pemerintah No 109 mengenai pengendalian produk tembakau.

Menurut PB Djarum pasal tersebut tak bisa diberlakukan karena Djarum yang dimaksud di sini bukanlah merk rokok atau produk tembakau melainkan nama klub badminton yang berdiri sejak 1969. Sementara KPAI bersikukuh bahwa nama Djarum merujuk kepada merk rokok. Pada 14 Februari 2019 KPAI menyelenggarakan jumpa pers, mengatakan kepada wartawan bahwa PB Djarum telah mengeksploitasi anak melalui kegiatan audisi bulutangkis karena anak-anak peserta audisi menggunakan kaos bertulisan Djarum Badminton Club oleh karena itu menurut KPAI kegiatan audisi harus dihentikan.

Karena tidak tercapai titik temu, maka pada Agustus-September 2019 KPAI dan PB Djarum kembali bertemu dengan mediasi Kemenkopolhukam. Melalui perundingan alot akhirnya PB Djarum bersedia menenuhi tuntutan KPAI: PB Djarum menghilangkan kata “Djarum” dari nama kegiatan, menjadi “Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis”. Anak-anak peserta audisi tak lagi menggunakan kaos atau jersey bertulisan “Djarum” tapi jadi “Blibli”.

Setelah pertemuan itu nyatanya KPAI masih menuntut juga kepada PB Djarum agar para legenda bulutangkis (seperti Susi Susanti, Alan Budikusuma, Christian Hadinata, Liem Swie King dlll) yang menjadi pencari bakat tidak menggunakan kaos Djarum. Masalahnya mereka ini memang atlet Klub PB Djarum bukan atlet PB Bodrexin atau PB Klobot. Bagaimana mungkin menghilangkan nama klub Djarum yang melekat pada diri mereka kecuali menghapus keseluruhan nama Djarum sebagai nama klub bulutangkis yang telah berdiri sejak 1969 itu dengan nama, misalnya PB Djarum Pentoel. Bagaimana pula misalnya dengan nama klub sepak bola PS Petrokimia Gresik? Apakah artinya klub sepakbola itu merangkap menjadi pabrik pupuk?

Itulah yang membuat PB Djarum akhirnya menghentikan kegiatan audisinya. Padahal tuntutan Lentera Anak dan KPAI sudah dipenuhi. Mungkin PB Djarum harus mengganti nama jadi PB Dja’um atau cukup PB Aum. Aum Ah Gelap..

Ttd.
Karyawan BUMD