17 September 2019

Ketika Taliban Menguasai KPK

Beberapa minggu terakhir saya perhatikan ada tulisan-tulisan yang seliweran di berbagai WAG, bicara tentang fenomena yang sedang terjadi di KPK. Intinya, tulisan-tulisan ini mau bilang begini: 1. KPK sudah masuk angin, kena radikalisasi 2. Akibatnya, sekarang ada pertentangan yang keras antara kubu polisi Taliban dengan kubu polisi India. Maksudnya tentu polisi Taliban itu yang udah kena asupan radikalisme. 3. Kelompok polisi Taliban ini selama bertahun-tahun sudah “memelihara” LSM-LSM yang sekarang sedang dikeluarkan untuk meributkan pansel dan capim KPK.


  Dari poin-poin ini, garis besarnya adalah untuk nggak usah bantuin dan belain KPK karena KPK sudah tercemar, nggak lagi murni, dan sudah main politik. Tulisan-tulisan ini juga seakan-akan mengindikasikan bahwa pansel sedang berjuang untuk memilih capim yang bisa “bersih-bersih” di KPK nantinya.

Membaca tulisan-tulisan ini membuat saya langsung teringat beberapa tahun yang lalu, saat saya mulai melihat ada perubahan di KPK. Karyawan-karyawannya mulai banyak yang berpakaian ala hijrah-hijrahan. Jenggot, celana cingkrang, jilbab lebar. Pokoknya gaya-gaya tipikal anak hijrah lah. Saya mengernyitkan dahi melihat pemandangan ini. Belum lagi, mulai terdengar kasak-kusuk kalau di dalam sudah ada perseteruan yang melibatkan kelompok ideologi.

Puncaknya adalah saat masjid karyawan mengundang Ustad Al-Asy-embuh-lah yang sangat terkenal dengan twit-twit ofensifnya untuk berceramah di sana. Aktivis gerakan anti korupsi langsung bereaksi keras. Saya sendiri termasuk yang cerewet banget protes ke Pak Jubir. Ternyata kejadian itu membuat KPK bangun.

Mereka mulai men-screening siapa-siapa saja yang boleh diundang untuk ceramah di sana. Harus ustad moderat, nggak boleh ustad nganu-nganu. Mereka juga mulai memperhatikan concern yang selama ini dilayangkan masyarakat, terutama soal pakaian. Saat kerja, ada standard profesionalisme yang berlaku.

Mereka juga mulai mengobservasi dan memantau perilaku dan kinerja karyawannya. Tapi rupanya itu tidak cukup untuk menekan gosip-gosip miring tentang radikalisme di KPK.

Dua minggu lalu, saya dan rekan-rekan sejawat dari Perempuan Indonesia Antikorupsi berkesempatan audiensi langsung dengan pimpinan KPK dan jajarannya, ditemui langsung oleh Ibu Basaria Panjaitan dan Bapak Alex Marwata. Sebagai pemerhati percakapan masyarakat, saya nanya langsung dong ke pimpinan KPK tentang isu radikalisme ini.

 Pak Budi dari jajaran staff KPK menjelaskan bahwa mereka juga sangat concern dengan isu yang mendera khalayak ramai ini. Beliau kemudian menjelaskan bahwa KPK sudah datang ke BNPT. Mereka menanyakan semua hal mengenai radikalisme, bagaimana cara mengidentifikasinya, apa tanda-tandanya, dan lain sebagainya. BNPT menjelaskan panjang lebar.

Mereka menjabarkan spektrum radikalisme dari yang soft sampe yang hard, dan apa saja tanda-tandanya. Berbekal pengetahuan dari BNPT itu, KPK membawa pulang PR untuk mengidentifikasi apakah ada radikalisme di sana. Kalau ada, sudah di spektrum yang mana? Dan kemudian, bagaimana cara mengatasinya?

Lanjut baca >> di sini