21 September 2019

Fenomena Khusus Muslim

Saat ini berkembang fenomena “khusus Muslim” dimana sebuah fasilitas hanya diperbolehkan atau diperuntukkan khusus bagi yang beragama Islam saja mulai dari perumahan khusus Muslim, kos-kosan khusus Muslim bahkan juga ada salon dan jasa Laundry khusus Muslim.


Pernah juga seorang warga diusir dari sebuah pemukiman hanya karena dia non muslim dan seorang pelanggan diusir dari salon yang khusus muslim. Juga terjadi seorang pembantu rumah tangga yang hanya mau bekerja pada majikan yang muslim dan seorang yang membutuhkan ASI yang hanya mau menerima donor dari sesama muslim.


Fenomena fanatisme dan penguatan identitas primordial ini sebenarnya cukup memprihatinkan dan meresahkan kita sebagai sebuah bangsa yang menjunjung tinggi keragaman dan kebhinnekaan sebagaimana semboyan kita “Bhinneka Tunggal Ika” yang tertulis dalam lambang Negara kita Pancasila.

Sikap ekslusivisme semacam ini sebenarnya berbahaya dan akan menjadi ladang subur bagi berkembangnya intoleransi, radikalisme bahkan terorisme.


Di era Orde Baru hal ini justru tidak terjadi. Di masa lalu seorang anak Kristen bisa bebas bermain dengan teman sebayanya yang Muslim. Saya bahkan dulu suka bermain di gereja dan ada teman Kristen saya yang biasa main di masjid atau mushola. Tapi di jaman kini kadang ada seorang anak yang dibully dan dijauhi karena agamanya. Sungguh fenomena yang tidak sehat yang mencerminkan sebuah bangsa dan masyarakat yang sedang sakit.

Benih fanatisme dan radikalisme ini sebenarnya sudah banyak disemai di era tahun 1990 an dimana ideologi Pan Islamisme dari daerah Timur Tengah mulai masuk ke negeri ini melalui berbagai kampus dan sekolah. Organisasi semacam Ikhwanul Muslimin dari Mesir (di Indonesia menjadi PKS) dan Hizbut Tahrir dari Palestina (di Indonesia menjadi HTI) dan sejenisnya gencar masuk ke Indonesia dan mencuci otak generasi muda kita yang sedang haus mencari identitas diri.

Saat ini mereka sudah panen dimana hasil didikannya sudah masuk ke berbagai institusi penting negeri ini termasuk DPR, KPK, TNI, Polri, BUMN, berbagai kantor negeri dan swasta serta berbagai lembaga seperti KPAI, KPI dan lain-lain. Ini adalah sebuah tantangan yang berat bagi para pemimpin negeri ini untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa ini dari ancaman perpecahan dan konflik berdasar isu SARA dan sentimen agama. Pilpres 2014 & 2019 serta Pilkada DKI 2017 adalah bukti betapa kuat dan berbahayanya kelompok ini.


Untunglah bangsa Barat yang mendominasi ilmu pengetahuan, tehnologi dan peradaban dunia saat ini tidak bersikap sebodoh dan sepicik mereka. Bayangkan bagaimana jika penemu listrik, mobil, komputer, internet, handphone, google, android, whatsapps dan sebagainya mencatumkan label dan tulisan “Hanya Khusus Kapeer”. Pastilah para bighot agama akan segera mundur ke belakang dan kembali ke jaman batu.
Salam Waras

Oleh; Muhammad Zazuli