4 August 2019

Habib Umar Muthohar: Indra Kyai Syamsuri Dahlan Sangat Tajam

Kyai Syamsuri Dahlan merupakan pendiri Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggungharjo, Grobogan. Sebuah pesantren yang terletak 40 km dari arah pusat kota Kabupaten Grobogan atau 25 km dari kota Semarang. Pada tahun 2019, pesantren yang dirintis oleh Kiai Syamsuri ini menampung santri di asrama sebanyak tiga ribu orang.

Menurut cerita Habib Umar al-Muthohar, Semarang saat masih muda, sebelum ia menjadi ulama terkenal seperti sekarang ini, dahulu Habib Umar mempunyai kenangan menarik dengan Kiai Syamsuri.


Sekitar tahun 1980 Habib Umar mendapatkan tugas kuliyah kerja nyata (KKN) pada  salah satu desa di kecamatan Kedungjati, Grobogan. Sebelum terjadi pemekaran wilayah, desa Brabo yang merupakan desa domisili Kiai Syamsuri berada merupakan desa yang juga berada di wilayah administrasi kecamatan Kedungjati. Sekarang, desa Brabo sudah masuk kecamatan baru, Tanggungharjo.

Habib Umar al-Muthohar mengaku, sejak usia muda ia mempunyai kegemaran sowan-sowan (mengunjungi) kediaman kiai-kiai sepuh dengan tujuan selain silaturrahim juga dalam rangka mencari keberkahan para kiai sehingga pada saat ia diberi tahu oleh warga setempat bahwa di wilayah kecamatan Kedungjati terdapat kiai sepuh yang bernama Kiai Syamsuri Dahlan, Habib Umar tidak menunggu lama. Ia segera mencari kediaman kiai yang dimaksud tersebut.

Rumah Kiai Syamsuri sangat sederhana. Saat Habib Umar datang, tampak Kiai Syamsuri sedang duduk di grobog, tempat duduk dengan dimensi ukuran yang cukup lebar dan panjang di mana orang-orang desa zaman dahulu biasa menjadikan kursi tersebut selain dibuat untuk duduk santai, di bawah kursi biasanya dapat digunakan menyimpan gabah hasil panen.

“Assalamualaikum” teriak Habib Umar dari arah pintu luar rumah. Kiai Syamsuri yang sebelumnya duduk-duduk santai di siang hari kemudian menjawab dengan teriakan keras “Waalaikumussalam, monggo, Ndoro Sayid, monggo Ndoro Sayyid.” (silahkan, Tuan!). Kiai Syamsuri cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Sejenak kemudian, ia terlihat keluar dengan balutan busana putih layaknya menghormati tamu agung.

Benak Habib Umar tercengang. Bagaimana Kiai Syamsuri tahu kalau tamunya yang akan sowan ini adalah seorang keturunan Rasulullah, padahal antara ia dengan Kiai Syamsuri belum pernah saling bertemu sebelumnya.

Habib Umar yang baru berumur sekitar 20 tahun tersebut mencoba memberanikan diri bertanya kepada Kiai Syamsuri “Mbah, mohon maaf, tadi pada saat kami menyampaikan salam waktu datang, panjenengan kok kemudian menyambut dengan sebutan saya Ndoro Sayyid, padahal antara saya dan panjenengan kan belum pernah bertemu?” lalu dijawab oleh Kiai Syamsuri “gandanipun ketawis, Bib.” (baunya tampak, Bib).

Dengan demikian, kata Habib Umar, ilmu penciuman dalam tradisi kewalian itu ada. Kiai Syamsuri di antara salah satu contohnya. Ia adalah orang yang dekat kepada Allah, akhlaknya baik, hidupnya dibaktikan kepada Allah. Ia diberi kelebihan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di antaranya berupa alat penciuman yang baik sehingga ia mampu mencium hal-hal yang di mata masyarakat tidak bisa dijangkau akal.

Habib Umar menganalogikan kisah Kiai Syamsuri Dahlan tersebut sebagaimana ceritanya Nabi Yusuf. Nabi Yusuf adalah Nabi yang sebelumnya pernah dihasud oleh saudara-saudaranya sehingga menjadikan Nabi Yusuf dibuang ke dasar sumur oleh saudara-saudaranya sendiri.

Nabi Yusuf juga pernah mencatat sejarah pernah masuk penjara dan selanjutnya nasib Nabi Yusuf berubah menjadi pemimpin Mesir. Perjalanan kisah Nabi Yusuf yang lama tidak terdengar kabarnya membuat ayah Nabi Yusuf yang bernama Nabi Ya’qub menangis terus menerus sampai menurut satu riwayat Nabi Ya’qub mengalami kebutaan.

Suatu ketika Nabi Yusuf menerima tamu, justru mereka adalah saudara-saudaranya sendiri yang dahulu membuangnya ke dasar sumur, Nabi Yusuf akhirnya menitipkan pakaian bekasnya untuk diusapkan ke wajah ayahnya, niscaya kebutaan sang ayah akan kembali sembuh seperti sebelumnya.

Uniknya, pada saat pakaian Nabi Yusuf yang dibawa saudara-saudanya tadi baru dibawa sampai perbatasan keluar Mesir, belum sampai ke rumah Nabi Ya’qub, ayah Nabi Yusuf ini menyatakan bahwa ia sudah mencium aroma Yusuf padahal jaraknya masih sangat jauh.

Keajaiban yang dimiliki oleh para Nabi disebut sebagai mu’jizat, sedangkan bagi waliyullah disebut sebagai karamah. Secara umum, karamah tidak bisa diraih begitu saja. Ia perlu laku tirakat yang panjang.  Kiai Syamsuri, sebagaimana disebutkan dalam buku bigrafinya Jejak Sang Lentera, pada waktu sakit, Kiai Syamsuri disodori untuk menggunakan kasur, namun ia enggan menggunakan. Kata Kiai Syamsuri “aku tidak mau kenikmatan akhiratku menjadi berkurang sebab sudah kunikmati ketika di dunia.”

Selain hubungan kepada Allah yang terawat dengan baik, Kiai Syamsuri juga pedulu terhadap lingkungan sekitar. Hal ini terlihat bagaimana sikap Kiai Syamsuri kepada hewan, salah satu makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Pada saat ke sawah, apabila Kiai Syamsuri melihat ada burung yang datang ingin memakan padi yang ia tanam, Kiai Syamsuri tidak buru-buru mengertak supaya terbang lagi, namun Kiai Syamsuri malah ngumpet terlebih dahulu, setelah dirasa burungnya sudah kenyang dan kembali terbang, Kiai Syamsuri baru melanjutkan aktifitasnya kembali. Dengan kebaikan-kebaikan Kiai Syamsuri dapat memberikan pelajaran bahwa keramat tidak keluar begitu saja, namun melalui proses-proses.

Kiai Syamsuri wafat pada tahun 1989. Kepemimpinan Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin kemudian dilanjutkan oleh putranya Drs KH Ahmad Baedlowie Syamsuri, Lc. Sekarang, selepas Kiai Baedlowie wafat, pesantren diasuh oleh KH Muhammad Shofi Al-Mubarok, AH.

Ahmad Mundzir, pengajar di Pondok Pesantren Raudhatul Quran An-Nasimiyyah, Puspanjolo Semarang

https://www.suaramerdeka.com/news/baca/192164/kisah-ketajaman-penciuman-kiai-syamsuri-dahlan