2 July 2019

Zalim

Seorang ibu yang terkonfirmasi Skizofrenia mengamuk di masjid membawa anjing. Seharusnya, persoalan itu dapat selesai bersama ketua RT/RW/Masyarakat setempat yang lebih paham kondisi dan kejadian sebenarnya.


Tidak semua persoalan dapat dilihat pakai frame Katolik pembawa anjing vs Takmir masjid. Ia cukup dilihat dari seorang perempuan yang punya masalah mental/psikologis dengan masyarakat biasa saja di lingkungan tempatnya tinggal. Masalah itu bisa beres dengan dialog santai, tak perlu menyangkut pautkan ndakik-ndakik dengan bumbu agama.

Video viral. FS yang disebut banyak orang sebagai pendakwah cerdas itu memanfaatkan momentum. Ia tahu kalau sekecil apa pun kejadian bermanfaat buatnya mengambil panggung, bahkan berkemungkinan untuk menciptakan proxy-proxy baru. Sesegera mungkin ia unggah video baru, riding the wave. Ia harus segera bilang kalau berpihak ke pengurus Masjid adalah berpihak kepada syariat, sedangkan berpihak kepada si Ibu adalah Muslim sok bijak yang tak pernah mau membela agama Rasulullah.

Ia bilang, hadits soal Badui yang mengencingi masjid lalu dibela Rasul dari amuk sahabat itu karena si Badui dalam kondisi tak tahu, sedangkan si Ibu jelas-jelas mengamuk kepada pengurus mesjid. Mas FS memang ahli bikin panas meskipun dengan retorika yang nampak manis. Hadits yang menggambarkan betapa Rasul adalah pribadi yang penyabar, penuh welas asih meskipun kepada orang yang berbeda dan tidak menyukainya, justru ia balik tafsirnya, demi kepentingan konten.

Harusnya ia bisa lebih sabar untuk mencari tahu. Harusnya ia tidak selalu memanfaatkan semua situasi untuk mendeklarasikan seolah ia paling berpihak kepada Islam yang sebetulnya ia sedang tak lebih produksi klik lewat konten di media sosial.

Di platform lain, mulut-mulut lain yang gemar menajamkan polarisasi lalu menggunakan pola yang serupa. Di twitter, situasi penyakit mental justru jadi bahan candaan.

"Orang depresi itu harusnya di rumah dan maunya bunuh diri, bukan mengamuk di masjid"

"Terbukti ya era Jokowi banyak orang depresi"

Iya, twit jahat itu dikirim oleh perempuan inisial ZZ yang mungkin mengetiknya dari sebuah rumah mewah, resto mahal atau mobil mewah. Privilej kesehatan, keturunan dan kekayaaan yang ia miliki menjadikannya bebas berbual apa saja untuk melampiaskan hasrat politisnya.

Dan kini, si Ibu dilaporkan ke Polres. Sesuatu yang seharusnya selesai dengan sangat sederhana, dengan misi maslahat dan memberi perlindungan, justru diperpanjang hanya untuk menang-menangan pakai jerat pasal penistaan agama. Korbannya minoritas: seorang perempuan dengan skizofrenia beragama Katholik yang memelihara anjing.

Oleh: Kalis Mardiasih