5 July 2019

Mbah Siradj, Kiai Yang Selalu Pakai Baju Adat Jawa

Kiai Ahmad Siradj atau yang akrab disapa Mbah Siradj ialah salah satu ulama asal Solo yang dikenal di kalangan santri. Karomah dan kepeduliannya kepada umat menjadikannya sosok yang selalu dikenang.

Mbah Siradj lahir pada tahun 1878 dan tumbuh di lingkungan pesantren. Dia pernah menimba ilmu di beberapa pondok pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Meski seorang kiai, penampilan Mbah Siradj berbeda dengan ulama-ulama lainnya. Ronggojati Sugiyatno (58), yang sejak kecil bersama ayahnya menjadi pembantu utama Mbah Siradj, mengenang ulama kharismatik itu selalu mengenakan pakaian adat baik di rumah maupun saat bepergian, berdakwah atau melaksanakan salat berjamah di masjid.

Menurutnya, beliau tidak pernah pakai sarung, tapi pakai jarik. Pakaiannya putih polos dan pakai ikat kepala khas Jawa, kadang bawa keris.

Pria yang tinggal di kawasan Begalon, Laweyan, Solo, itu mengaku tidak tahu alasan Mbah Siradj mengenakan pakaian tersebut. Namun selama sekitar 10 tahun mengikuti Mbah Siradj, dia melihat cara dakwah yang dekat dengan umat serta sesuai budaya setempat.

"Beliau dakwahnya itu dakwah Jawa, dekat dengan umat di sekitarnya. Bahkan kalau jadi imam salat surat yang dibaca selalu Al-Kafirun di rakaat pertama dan Al-Ikhlas di rakaat kedua. Tujuannya untuk memudahkan umat mamaknai dan menghayati bacaan," tuturnya.

"Yang selalu saya ingat, beliau mengajarkan agar saya punya teman sebanyak-banyaknya, tanpa membeda-bedakan," lanjutnya.

Mbah Siradj bahkan dekat dengan lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Dengan ilmunya yang tinggi, Mbah Siradj pernah menjadi penasihat spiritual raja Pakubuwono (PB) X. Namaun demikia, Mbah Siradj tidak sulap. Dia tetap tampil bersahaja.

"Kalau Mbah Siradj sudah datang ke keraton, tamunya PB X yang lain disuruh pulang semua," kata dia.

Sedangkan kedekatannya dengan umat ditunjukkan dalam kebiasaannya berkeliling kampung. Saat melintasi rumah warga, dia selalu menanyakan tentang stok makanan.

Apabila warga tersebut tidak bisa makan, Mbah Siradj selalu berusaha membantu agar dapur warga sekitarnya tetap mengepul.

"Pernah nenek saya tidak bisa menanak nasi karena berasnya habis. Setelah Mbah Siradj datang melihat dan memegangi wadah beras, beliau lalu berdoa. Berkat usaha keluarga dan dibantu karomah yang dimiliki Mbah Siradj, selanjutnya keluarga kami tidak pernah kehabisan beras," kata dia.

Mbah Siradj juga punya cara tersendiri agar masyarakat bertahan hidup di masa penjajahan Jepang. Ada cerita menarik tentang caranya mengelabuhi Jepang saat masyarakat memasak.

Pernah dalam sebuah kesempatan, Mbah Siradj mengetahui bahwa stok beras di sebuah kampung di Solo tidak cukup banyak. Padahal anak-anak, terutama balita, harus mendapat asupan gizi yang cukup. Mbah Siradj lalu memerintahkan agar beras seadanya itu dimasak bubur agar bisa dibagi rata semua anak-anak di kampung tersebut.

"Kalau tahu memasak nasi, bisa bermasalah. Berasnya pasti akan dirampas Jepang. Jadi agar tidak ketahuan, warga kampung disuruhnya meremas-remas daun luntas yang baunya menyengat. Aroma masakan nasi tersamar, Jepang tidak tahu kalau ada yang memasak nasi," kata dia.

Keberpihakannya pada perjuangan kemerdekaan juga dicatat dalam ingatan warga Solo. Cerita tentang Mbah Siradj menyembunyikan warga dan para pejuang yang digerebek oleh pasukan Belanda, sangat terkenal di Solo.

Warga dan para pejuang itu dimasukkan dalam gulungan anyaman dinding bambu lalu didoakan secara khusus oleh sang kiai. Pasukan Belanda gagal menemukan para pejuang dan puluhan warga di dalam gulungan anyaman dinding bambu tersebut.

Terlepas dari karomah yang tidak bisa dinalar oleh manusia, Mbah Siradj selalu menunjukkan kepeduliannya kepada sesama. Hidupnya selalu bermanfaat untuk orang lain.

Banyak orang dari penjuru daerah mendatanginya untuk menimba ilmu. Kiai yang menjadi mursyid Thariqah Syadziliyyah ini kemudian mendirikan pondok pesantren (ponpes) yang kini berada di Jalan Honggowongso, Panularan, Laweyan, Solo, bernama As-Siroj.

Bangunan ponpes tersebut cukup kecil. Memang santri ponpes tersebut hanya datang di saat-saat tertentu. Sebab Mbah Siradj lebih banyak berdakwah berkeliling daerah.

"Salah satu santrinya yang terkenal itu Mbah Liem, pendiri pondok pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti di Klaten," kata dia.

Mbah Siradj meninggal pada tahun 1961. Begitu dekatnya dengan masyarakat, Mbah Siradj pun memilih dimakamkan di pemakaman umum di Pracimoloyo, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

"Setiap tahun digelar haul memeringati meninggal Mbah Siradj. Bahkan makamnya selalu didatangi orang-orang dari berbagai daerah," pungkasnya. (bai/mbr)

https://detik.com/news/berita-jawa-tengah/d-4612073/kiai-siradj-selalu-berbusana-adat-dan-peduli-kesengsaraan-umat

Mengenang Jejak KH Ahmad Siradj Solo;
http://www.nu.or.id/post/read/62158/mengenang-jejak-kh-ahmad-siradj-solo