Korupsi Budaya Pesantren?

Beberapa hari ini ruang lingkup medsos dihebohkan dengan screenshot viral yang berawal dari cuitan salah satu aktivis partai politik Demokrat atas nama akun twitter "Zara Zettira ZR". Meski pada akhirnya bukan hanya status cuitannya saja yang hilang, bahkan akun twitternya pun ikut lenyap entah kemana bagaikan kaum Nabi Luth yang ditelan bumi hilang tak berbekas.


Cuitan itu berisi sebagai berikut: "Tradisi Pesantren jangan dibawa ke Kementrian, camkan!", dengan capture screenshot berita dari berita detikcom sebagaimana dalam gambar ini.

Entah sengaja atau tidak, entah secara langsung ataupun tidak cuitan tersebut telah memantik seabrek kontroversi dan kritikan tanpa ampun dari netizen sejagat maya, khususnya para Santri atas ketergesa-gesaan nyonya Zara tersebut sekaligus terkesan memojokkan kapasitas dan kwalitas pesantren.

Kami tak perduli siapa dia, mau dia alumni universitas luar angkasa dengan bejibun gelar akademik apapun jika berkata tanpa difikir dengan matang dulu, maka bagi kami tak jauh berbeda dengan sampah got yang terus ngambang dan menyumbat aliran air sehingga menyembur bau busuk ke mana-mana. Fitnahan asal berkoar, ya tepatnya seperti itulah yang pantas diungkapkan ke dia sebagai aktivis dan politisi parpol yang kerap menjadi lumbung koruptor itu.

Sudah menjadi rahasia umum para politisi partai sejawat dia di masa sebelum Pak Jokowi memimpin, bahwasannya lalu lalang ngantri di pintu KPK sebagai tersangka dan terdakwa kasus korupsi. Masih ingatkah seorang politisi yang dulu pernah nantang minta gantung di Monas jika dia terbukti korupsi dan sederet koruptor-koruptor lain yang separtai dengan Nyonya Zara.

Oh iya mungkin dia mau menyitir salah satu perkataan pengacara kasus korupsi seorang aktivis parpol yang terkena operasi tangkap tangan beberapa bulan lalu yang mengatakan "Korupsi/Suap adalah Budaya Pesantren". Maaf ya nyonya Zara, mungkin anda tidak pernah makan asam garam di pesantren sehingga berkata dengan ringannya di cuitan anda.

Jika ungkapan salah seorang pengacara itu yang anda jadi pijakan pembenaran sebuah tuduhan terhadap pesantren yang dianggap mempunyai tradisi korupsi/suap, maka ungkapan pengacara itu sudah dibantah oleh seorang Ketua Lembaga Penelitian Al-Fithrah College, Surabaya dan Pengurus Lakpesdam PWNU Jawa Timur asal Pamekasan Madura, Gus Ihsan
Iksan Sahri dimana tulisan pencerahan beliau sudah dimuat di NU Online:
http://www.nu.or.id/post/read/107047/suap-bukan-tradisi-pesantren

Maka, tidak ada lagi argument sebagai modal pembenaran atas tuduhan plus fitnahan menjijikkan anda. Kami memang bukan termasuk jajaran politisi manapun atau aktivis parpol apapun yg bernafsu untuk menyerang lawan politiknya sedemikian massifnya, pun juga kami bukanlah daftar dari deretan ustadz-ustadz dadakan ataupun yang populer di TV-TV yang dengan mudah mengucapkan "Bertaubatlah Ukhti" sembari berdoa "Semoga Ukhti Segera Insaf dan Mendapatkan Hadiah". Tapi kami hanya debu-debu tak berharga yang selalu mengharap keberkahan Gusti Allah lewat para Ulama dan menatap berjuta kemanfaatan di dinding-dinding pesantren.

Hanya harapan dari kami sebagai pencari berkah pesantren untuk anda agar tidak mengulangi perbuatan yang sama dan mengucapkan perkataan yang sama yang semua santri tidak akan mudah menerima fitnahan, tuduhan dan hinaan macam cuwitan anda kepada pesantren.
Salam damai dan sejahtera.

(Dari Al-Faqir, Muhammad Arief Junaydi, di Sungai Buloh, Selangor DE, Malaysia.
06 July 2019)

0 Response to "Korupsi Budaya Pesantren?"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel