5 July 2019

Jokowi Dikepung Sejuta Tangan

"Saya sudah kirimkan nama 20 orang kader terbaik PKB kepada Presiden Jokowi untuk dipilih jadi menteri", kira-kira seperti itu ucapan vulgar Muhaimin Iskandar saat ditanya wartawan. Itu baru PKB. Belum PDI-P, Golkar, Nasdem, PPP, Hanura, Perindo, PSI dan PKPI. Dan itu baru dari partai pengusung. Belum lagi dari orang-orang TKN dan para pimpinan organ relawan yang punya kepentingan mendapatkan jabatan. Belum lagi berbagai orang atau kelompok yang merasa menanamkan saham saat kampanye Pilpres. Dan banyak orang lagi.


Prinsip mereka sederhana: "Tidak ada makan siang gratis".

Jabatan menteri hanya sekitar 30 portofolio. Yang menghamba ingin jadi menteri lebih dari 1000 orang. Mereka selalu memberikan embel- embel kata-kata bijak: "Tapi semua tergantung hak prerogatif Presiden, kami hanya mengirim- kan nama untuk dipilih Presiden". Terdengar begitu wise dan humble, bukan? Tapi nanti kalau keinginan mereka tidak dipenuhi oleh Presiden, benarkah mereka akan tetap bijak dan rendah hati? Saya tidak yakin.

Terkadang saya berpikir, apa yang telah dilakukan partai-partai politik itu saat masa kampanye Pilpres kemarin (2019)?? Jangankan mereka turun ke akar rumput untuk meyakinkan rakyat untuk memilih Jokowi-KH Maruf Amin, menaruh foto Jokowi-MA di spanduk Calegnya saja hanya segelintir orang caleg yang melakukannya.

Sebagai contoh gamblang adalah Dedi Mulyadi, ketua TKD Jawa Barat, dia juga Caleg Partai Golkar untuk Dapil Jabar 7 yang meliputi daerah Purwakarta, Karawang dan Bekasi. Alhamdulillah dia berhasil melenggang ke Senayan dengan perolehan suara sangat signifikan. Tapi hasilnya untuk Pilpres? Perolehan suara untuk Jokowi-MA di ketiga daerah tersebut jeblok ke dasar sungai. Pertanyaan saya, apa yang dilakukan Dedi Mulyadi sebagai Ketua TKD Jawa Barat untuk memenangkan Jokowi-MA di Dapil dia? Kok bisa hasilnya berbanding terbalik dengan perolehan suara dia sebagai Caleg? Hmmm... hanya Dedi Mulyadi yang bisa menjawabnya.

Dedi Mulyadi hanya contoh kecil dari ribuan contoh betapa minimnya peran partai politik pengusung dalam berkontribusi untuk kemenangan Jokowi-MA. Organ relawan pun demikian. Banyak diantara mereka yang tiarap saat-saat genting di masa kampanye 180 hari sebelum hari-H. Yang berkiprah diehard sampai titik darah penghabisan hanya beberapa organ relawan saja. Tapi lihat sekarang, saat sudah dipastikan Jokowi-MA menang Pilpres 2019, mereka ramai-ramai muncul kembali seperti cendawan di musim hujan. Mereka sibuk mengadakan pesta kemenangan. Mereka sibuk berlomba-lomba memungut balas jasa. Hmm...mengenaskan.

Tapi di sisi lain saya tahu pasti, banyak orang yang berjuang keras sekuat tenaga untuk meyakinkan rakyat untuk memilih Jokowi-MA, justru sudah melipir minggir kembali ke rutinitas, tanpa mengharap apapun. Mereka berjuang tanpa mengharapkan imbal jasa. Mereka bukan bermental buruh yang bekerja mengharapkan imbalan. Mereka kaum merdeka yang punya kehormatan dan harga diri. Mereka hanya berjuang demi Indonesia yang lebih baik.

Mari kita kembali membayangkan kepusingan yang dihadapi oleh seorang Jokowi saat ini yang sedang dikepung sejuta tangan dengan berbagai kepentingan. Meskipun saya yakin beliau orang yang tegas dan berpendirian teguh, beliau tetap orang Jawa yang punya rasa sungkan dan terkandang masih punya ekuh pakewuh. Saya tahu saat ini pasti beliau dalam posisi yang sangat dilematis.

Terkadang saya berpikir naif. Saya bermimpi orang-orang penghamba jabatan tersebut tidak merepotkan Jokowi. Saya bermimpi semua pemangku kepentingan legowo menyerahkan semua keputusan pemilihan putra-putri terbaik bangsa untuk dijadikan Menteri kepada Jokowi yang dibantu KH Ma'ruf Amin. Karena saya yakin Jokowi punya pertimbangan yang terbaik untuk memilih pembantunya.

Tapi saya tahu itu hanya mimpi orang yang naif. Karena mungkin saya bukan politisi atau bukan pimpinan organ relawan. Saya hanya rakyat pinggiran yang hanya mampu menjerit lirih melihat parade ketamakan dari kelompok orang yang haus jabatan.

Ada beberapa orang bertanya, apa tujuan saya banyak menulis dan turun ke lapangan yang terkesan militan mendukung Jokowi? Saya harus jawab jujur sekarang. Bahwa sebenarnya saya bukan mendukung Jokowi atau siapapun. Saya hanya mendukung Indonesia yang lebih baik, lebih maju, rakyatnya sejahtera dan kehidupan masyarakat yang harmonis penuh toleransi. Dan saat ini, untuk mencapai impian saya tersebut, saya yakin hanya seorang Jokowi yang bisa mewujudkannya. Jadi otomatis saya harus mendukung Jokowi bukan?

Apalagi saya tahu lawannya Jokowi adalah Prabowo-Sandi yang di dalam gerbongnya ada gerombolan Islam radikal pendukung ideologi khilafah, ya terang saja saya melawan keras mereka dengan cara apapun yang saya bisa. Paham kan sayang??

Terakhir, saya hanya bisa berharap Jokowi kali ini bisa menjadi orang yang lebih merdeka dibanding periode pertama dalam memilih para pembantunya. Jokowi harus yakin akan pertimbangan dan keputusannya sendiri. Dan Jokowi harus yakin bahwa yang memenangkan Jokowi-MA itu bukan partai politik atau organ relawan, tapi mayoritas rakyat yang digerakkan kehendak Tuhan atas Indonesia.
Mudah-mudahan Jokowi menyadari hal itu.....
Salam SATU Indonesia

Oleh: Rudi S. Kamri