Airmata Fairuz, Ikan Asin Dan Martabat Wanita

Apakah Anda pernah menikmati menu ikan asin? Saya sesekali memasaknya. Entah itu digoreng, dibumbu santan atau dicampur bersama daun kemangi dan tempe untuk dibuat pepes. Nikmat sekali. Apalagi jika disantap bersama nasi hangat, hm, selera makan jadi meningkat.

Tapi, jika kemudian ikan asin dijadikan sebagai bahan olokan atau penghinaan, lain lagi ceritanya.


Kenyataan inilah yang minggu-minggu terakhir ini ramai diperbincangkan. Yup. Fenomena"ikan asin" mendadak viral. Apa pasal?

Adalah seorang Galih Ginanjar, mantan suami Fairuz A Rafiq, sekitar satu bulan lalu diundang berbincang-bincang oleh Rey Utami dalam satu konten vlog miliknya.

Dalam bincang-bincang ringan tersebut, Rey Utami sempat menanyakan penyebab perceraian Galih Ginanjar dan Fairuz. Entah sebab apa laki-laki yang pernah berprofesi sebagai pemain sinetron tersebut tiba-tiba saja membawa-bawa nama ikan asin.

Galih mengatakan jika selama menikah dengan Fairuz ia hanya disuguhi ikan asin. Tidak hanya itu. Galih juga membongkar sesuatu yang amat privasi tentang diri Fairuz, yang tidak etis dan tidak layak diumbar di hadapan umum.

Kontan penayangan video tersebut mendapat tanggapan serius dari pihak keluarga Fairuz. Sonny Septian selaku suami beserta saudara-saudara Fairuz tidak terima atas penghinaan Galih. Apalagi dampak dari penghinaan tersebut membuat Fairuz shock serta tidak berhenti berurai airmata.

Bercerai Bukan Berarti Bebas Menghina Mantan
Fairuz A Rafiq, artis cantik putri dari penyanyi dangdut legendaris A Rafiq memang pernah menikah dengan Galih Ginanjar pada tahun 2011. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama King Faaz.

Pernikahan keduanya tidak bertahan lama. Dan harus berakhir pada tahun 2015. Mereka akhirnya menemukan pasangan hidup baru masing-masing. Galih menikahi Berby Kumalasari dan Fairuz dipersunting oleh Sonny Septian.

Sungguh miris memang, setelah sekian tahun berpisah, Galih Ginanjar tiba-tiba menyatroni kembali mantan istrinya itu. Dengan menghina dan menjelek-jelekkan Fairus di depan media sosial.

Apa salah Fairuz? Bukankah Galih tidak punya hak lagi untuk mengurusi pribadi Fairuz yang notabene bukan siapa-siapanya lagi?

Bercerai bukan berarti bebas menghina atau menjelek-jelekkan mantan, ya, guys.  Catat itu.

Dalam beberapa kali tayangan di infotainmet, sebenarnya pihak Fairuz pernah memberi kesempatan kepada Galih untuk meminta maaf. Tapi rupanya Galih Ginanjar adalah type laki-laki yang berego tinggi. Ia bahkan merasa sama sekali tidak pernah berbuat kesalahan.

"Minta maaf? Memang salah gue di mana?!" ujarnya dengan suara tinggi ketika dikonfirmasi oleh beberapa awak media.

Mendapati kenyataan Galih tidak beritikad baik untuk meminta maaf atas apa yang sudah diucapkan, pihak Fairuz akhirnya membawa masalah "ikan asin" ini ke ranah hukum.

Dengan menggandeng pengacara kondang--Hotman Paris Hutapea, Fairuz siap memperkarakan penghinaan terhadap dirinya. Bukan hanya Galih yang diseret ke ranah hukum, pembuat konten vlog pun, Rey Utami dan Pablo Benua, suaminya, ikut dilaporkan, Senin, 01 Juli 2019 kemarin dengan tuduhan menyebarkan tayangan video berisi konten penghinaan hingga sampai ke hadapan khalayak ramai.

Menghormati Mantan Adalah Kewajiban
Barangkali bukan hanya Fairuz yang mengalami hal demikian. Masih banyak di luar sana perempuan-perempuan yang mendapat perlakuan kurang etis dari mantan suaminya pasca mereka bercerai. Yang tidak terekspos oleh media masa. Penghinaan, ancaman atau hal-hal lain yang kurang baik yang bertujuan untuk menjatuhkan harga diri atau mental mantan istri.

Mari kita menengok sejenak. Menelaah kembali salah satu hakikat sebuah pernikahan. Pernikahan adalah menyatukan dua pribadi yang memiliki banyak perbedaan. Dan perbedaan tersebut bisa berupa perbedaan karakter atau kebiasaan. Ada karakter baik dan ada karakter tidak baik. Ada kebiasaan menyenangkan dan ada pula yang tidak menyenangkan.

Namun demikian masing-masing pasangan ketika memutuskan untuk menikah, secara langsung maupun tidak telah terikat oleh kewajiban untuk saling menghormati, saling menghargai dan saling menjaga nama baik.

Jika di kemudian hari terjadi perceraian, ikatan kewajiban tersebut tidak serta merta lantas lepas kendali begitu saja. Sebagai manusia yang beradab dan beretika, masing-masing pihak masih memiliki kewajiban untuk saling menjaga kehormatan dan martabat mantan pasangannya sekalipun sudah tidak hidup satu atap lagi.

Apalagi jika pasangan tersebut sudah memiliki keturunan.

Saya kutipkan kalimat indah sebagai perenungan yang disampaikan Ustaz Mohammad Fauzil Adhim dalam buku Kado Pernikahan untuk Istriku.

Aku ingatkan kepadamu. Begitu engkau menceraikannya, maka ia bukan lagi istrimu. Karena itu, apa urusanmu sehingga engkau sibuk memberitahukan kepada orang lain hal-hal yang tidak engkau sukai darinya? Mengapa engkau sibuk mengurusi orang yang bukan istrimu, sedangkan engkau tidak hendak menolongnya dan tidak pula mengangkat martabatnya?

Aku ingatkan kepadamu, jangan engkau hancurkan kepercayaan anakmu kepadamu, kepada manusia dan kepada dirinya sendiri dengan kesukaanmu membicarakan keburukan mantan istrimu. Sedangkan engkau tidak hendak membuat perbaikan dengan perkataanmu itu.

Jangan engkau sakiti hati anakmu dengan merendahkan Ibu yang merawatnya, sedang engkau tidak pernah memeluknya dan mengusap airmatanya yang telah mengering sejak lama.

Di akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan pesan: untuk Fairuz, hapus airmatamu. Tetap bersemangat, tetaplah menjadi istri yang solehah dan Ibu yang baik bagi anak-anakmu. Janganlah bersedih hati. Allah pasti akan mengangkat derajatmu.

Sedang untuk Galih Ginanjar. Semoga segera mendapat hidayah. Sebab seorang laki-laki yang menghina seorang perempuan, ia sebenarnya sudah merendahkan derajad dan martabat Ibundanya sendiri.
***
Malang, 04 Juli 2019
Lilik Fatimah Azzahra

https://www.kompasiana.com/elfat67/5d1d12810d8230695d0e01c5/ikan-asin-dan-martabat-seorang-perempuan

0 Response to "Airmata Fairuz, Ikan Asin Dan Martabat Wanita"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel