26 June 2019

Tiga Legenda Jawara Betawi

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku dan daerah. Bahkan, Indonesia juga kaya dengan budaya. Setiap daerah pastinya memiliki tradisi masing-masing, dan setiap daerah tentu memiliki ceritanya sendiri.

Begitu pula dengan masyarakat Betawi yang memiliki kisah para pendekar, jago silat, dan jawara. Siapa tak kenal Pitung dan Jampang, Mereka adalah segelintir legenda yang membawa seni pencak silat mengakar dalam budaya Betawi.

Namun masih ada satu nama jawara lagi yang mungkin jarang terdengar di telingan kalian. Dia adalah Sabeni.

Berikut beberapa catatan kisah dari tiga jawara tersebut:

Si Pitung Yang Bisa Menghilang


Bicara tentang pendekar Betawi, benak kita langsung tertuju pada sosok Pitung. Selain jago silat dan sikapnya yang penuh rasa kemanusiaan, konon Si Pitung bisa menghilang saat dikejar musuh. Kisah tersebut ditulis oleh Tanu Trh. dalam ‘Si Pitung, Jagoan yang Bisa Menghilang’. Ketika itu Si Pitung datang ke rumah kakek Tanu untuk sekedar mengobrol di ruang depan.

Tiba-tiba Pitung masuk ke dalam rumah melihat seorang polisi belanda bernama Schout Van Hinne dan memberi tahu penghuni rumah jika dia ada disana. Schout Van Hinne memang mendapat tugas untuk menangkap Pitung. Setelah melakukan penggeledahan seisi rumah dengan teliti, Pitung tidak ditemukan. Jika melompat pagar itu tidak mungkin, karena rumah tersebut berbatasan dengan Kali Koneng yang banyak buayanya.

Tak lama setelah sang Polisi Belanda tersebut pergi, Pitung kembali muncul dari arah dapur. Misteri dimana Pitung bersembunyi saat itu tidak terpecahkan dan banyak yang meyakini jika dia bisa menghilang walaupun tidak ada bukti dirinya punya ilmu tersebut.

Jampang Jawara Betawi


Selain si Pitung, pendekar Betawi yang juga tersohor dalam legenda Indonesia adalah sosok si Jampang. Nama Jampang sebenarnya berasal dari nama daerah asal ibunya di Depok. Ayahnya berasal dari Banten. Dia dikenal sebagai sosok yang gagah dan jago silat. Berbeda dengan kisah Pitung yang melawan Belanda, Jampang tidak melawan Belanda.

Kisahnya diceritakan sosoknya sebagai perampok tuan tanah dan orang kaya yang tamak, kemudian harta hasil rampokannya dibagikan kepada rakyat jelata. Orang tua Jampang meninggal akibat sakit yang dideritanya. Jampang pun dibesarkan oleh sang paman. Hingga suatu ketika Jampang beranjak dewasa dia diperintahkan berguru silat di sebuah padepokan di Cianjur, Jawa Barat.

Disanalah dia mempelajari silat dengan serius kepada teman sang paman tersebut. Setelah dinobatkan lulus berguru silat, guru Jampang memberi pesan jika ilmunya bukan untuk kejahatan. Dia pun kembali ke rumah pamannya di Grogol, Depok dengan kereta api jurusan Buitenzorg-Batavia.Setiba dirumah, Jampang di minta berguru mendalami agama. Masa berguru pun selesai, Jampang mencoba untuk merantau ke Betawi.

Di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan dia menetap di rumah sahabat pamannya. Disana pula dia membantu pemilik rumah berkebun dan berdagang buah di pasar Tanah Abang. Di pasar inilah dia harus menghadapi ‘preman pasar’ yang meminta uang pajak. Jampang dengan segala kemampuannya dituntut untuk memberesi aksi preman ini.

Melihat penindasan oleh tuan tanah dan preman yang semena-mena, timbul keinginan Jampang untuk membantu masyarakat sekitar. Dia memutuskan untuk merampok harta tuan tanah rakus tersebut dan membagi-bagikannya kepada rakyat yang membutuhkan. Bagi korbannya, Jampang sangat dimurkai. Tapi bagi masyarakat disana saat itu, dia begitu disenangi karena selain dapat membantu dia juga bisa berbaur dengan siapa saja.

Sabeni Pendekar Silat Tanah Abang


Nama Sabeni pastinya langsung teringat dengan aktor film Betawi, Benyamin Sueb. Namun Sabeni yang ini bukanlah dia, melainkan pendekar silat asli Tanah Abang. Jika menyusuri daerah Pasar Tanah Abang, Jakarta kita akan menemukan sebuah jalan bernama Jalan Sabeni.

Sabeni bukanlah sekedar nama jalan biasa, penamaannya sarat akan makna dan kisah sejarah dibalik sosok sang pendekar silat ini. Dia terlahir di Kebon Pala, Tanah Abang pada tahun 1860 dari pasangan Channam dan Piyah. Nama Sabeni tersohor setelah mampu menghadapi jagoan Kemayoran. Saat itu Sabeni harus meladeni Macan Kemayoran jika hendak melamar putrinya.

Sejak itu masyarakat Betawi di Jakarta mengenalnya sebagai sosok pendekar silat sekaligus jawara baru. Dikisahkan dalam ‘Indonesia Poenja Tjerita’, di era penjajahan Jepang, putra Sabeni yang bernama Sapi’i diharuskan menjadi anggota Heiho (Tentara Sukarela Jeang untuk melawan sekutu). Sapi’i pun ditempatkan di Surabaya.

Namun, karena perlakuan tentara Dai Nippon, dia tidak tahan dan kabur dari surabaya menuju persembunyian di rumah orang tuanya. Pihak Jepang pun kelabakan mencarinya. Dan terpaksa menahan Sabeni sebagai jaminan. Jepang mengetahui Sabeni adalah jagoan silat dan ingin mengujinya. Sang Komandan Jepang menantangnya untuk diadu dengan anak buahnya yang jago karate. Duel berlangsung di Markas Kempetai, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Dengan jurus kelabang nyebrang si jago karate roboh.

Komandan Jepang tak terima, dihadapkanlah jago sumo untuk melawan Sabeni. Lagi-lagi, Sabeni berhasil merobohkannya dengan menotok ubun-ubun pesumo tadi.

Sabeni menghembuskan nafas terakhirnya di usia 85 tahun dua hari sebelum Proklamasi, tepatnya 15 Agustus 1945 didampingi murid dan anak-anaknya.

Untuk menghormati jasanya, jalan di depan kediamannya di Tanah Abang diberi nama Jalan Sabeni. Makamnya juga dipindahkan dari Gang Kubur ke Karet Bivak, berdekatan dengan makam M.H Thamrin.

Hingga kini, aliran silat Sabeni dilestarikan oleh anak-anaknya di daerah Tanah Abang. Hal tersebut adalah wasiat Sabeni untuk generasi penerus agar Silat Sabeni tidak hilang tergerus perkembangan zaman dan tetap lestari.

http://rri.co.id/post/berita/685385/budaya_dan_wisata/ternyata_betawi_punya_tiga_legenda_jawara.html