Membenci Dan Takut Pada China

Sentimen dan kebencian terhadap suku/etnis China pada sebagian masyarakat Indonesia termasuk di kalangan berpendidikan tinggi dan yang "merasa" mengerti agama (Islam) begitu tinggi dan membuncah.
Orang China, si mata sipit di anggap sebagai sosok non pribumi kafir, kaum pendatang yang berbeda dan sebagai komunitas eksklusif yang dianggap hanya mementingkan kelompoknya saja.


Orang China menjadi kaya atau sukses dianggap karena mereka dulu adalah penjilat kepada penjajah sehingga secara turun temurun menjadi kaya, dan akhirnya banyak menjadi konglomerat seperti saat sekarang ini.

Dalam diskusi diskusi, komunikasi di sosial media apalagi, China sering jadi hujatan dan kambing hitam. Buruk dan negatif sudah menjadi predikat kepada (etnis) China. Baik personilnya maupun kepada negara leluhurnya.

Meski sama sama tergolong non pribumi, beda dengan Arab ataupun India, China lebih tinggi rasa ketidaksukaan dan retensinya. China dianggap tidak ada kaitannya dengan dengan Islam, tidak seperti Arab sehingga banyak sentimen rasial yang muncul dan terus terpatri.

Begitulah pikiran dan stigma yang melekat di benak sebagian masyarakat kita, tidak hanya di kalangan awam tetapi juga di kalangan golongan yang berpendidikan tinggi, dan bahkan di kalangan yang mengaku dan merasa agamanya lebih tinggi.

Di diskusi diskusi di forum grup sosial media ada istilah: "taikers, China Kafir, statement: seandainya orang China tidak ada di negeri ini.. Dan sampai ada komentar; Enyahlah China dari bumi pertiwi ini. Usir (etnis) China dari negara kita, dan lain sebagainya.

Benarkah China itu kafir? Benarkah China tidak ada hubungan dengan Islam apalagi berkontribusi terhadap (agama) Islam di Indonesia?
Berikut beberapa catatan tentang (etnis) China yang saya rangkum dari beberapa sumber, plus beberapa foto sebagai lampiran khusus keterkaitannya dengan Islam:


1. Sejarah kita banyak menuliskan bahwa penyebar agama Islam di Indonesia adalah orang Arab, Persia dan Gujarat (India). Padahal tidak hanya itu. Orang China juga sebagai penyebar agama Islam di Indonesia.

2. Menurut Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) hal demikian adalah propaganda VOC dahulu yang berhasil menjauhkan muslim asli Tionghoa di tanah Nusantara dari Islam.

3. Adalah Laksamana Cheng Ho, seorang petualang perwira tinggi muslim Cina (Abad 13 M) yang dinilai oleh para sejarawan sebagai penyebar agama Islam paling aktif di Nusantara.

4. Tercatat Laksamana Cheng Ho 7x melakukan Pelayaran Ke Indonesia dalam kurun Waktu 1405 M - 1433 M dengan sekaligus menyebarkan agama Islam Di Nusantara.

5. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa "Cakra Donya" kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh.

6. Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

7. Beberapa literatur sejarah pun menuliskan bahwa di Sriwijaya telah banyak orang-orang muslim dari daratan China yang menetap dan menyebarkan agama Islam di sana (bisa jadi kenapa orang Palembang mirip mirip atau seperti China).

8. Jika ditelusuri lebih dalam, maka kita akan menemukan bahwa sesungguhnya para Wali Songo yang merupakan penyebar Islam di tanah Jawa sejatinya rata-rata berdarah Cina.

9. Dan bisa jadi di antara kita yang muslim saat ini adalah dari keturunan yang dulu adalah karena peran orang orang China yang menyebarkan Islam ke Indonesia seperti Wali Songo tersebut. Bisa jadi. Bersyukurlah kita, meski kita tidak menyadari dan tidak tahu, kita muslim karena peran orang China terdahulu.

10. Penjajah Eropa-lah yang membuat banyak orang Tionghoa di Indonesia murtad dari Islam.

11. Pertumbuhan Muslim Tionghoa di Indonesia semakin pesat, khususnya di Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Hal ini disampaikan Wakil Ketua Bidang Kesra DPP Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Budijono.

12. Di Jakarta saja jumlah Muslim Tionghoa saat ini sudah ratusan ribu orang. Perkiraan PITI, 15 persen dari jumlah penduduk Indonesia adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa dan sebanyak lima persen dari 15 persen tersebut adalah Muslim. (Bila penduduk Indonesia 250jt, maka perkiraan WNI keturunan China yang muslim ada sekitar 5,6 juta orang).


13. Islam sudah masuk ke China sejak 1.400 tahun lalu ketika Said bin Abu Waqos membangun Mesjid di Guangzhou, China. Sementara di Indonesia, Islam baru masuk 700 tahun lalu.

14. Jadi sebenarnya di Cina, Islam sudah lebih dulu berkembang dan dianut puluhan juta orang. Kalau ada yang memisahkan antara keturunan China dengan warga Indonesia yang lain itu sebenarnya hanya politik penjajah untuk adu domba China-pribumi di masa lalu.

15. Istilah ‘baju koko’ bagi pakaian pria untuk shalat, sebenarnya merupakan kosakata yang berasal dari kalangan orang Tionghoa.

16. Komunitas Muslim Tionghoa di Indonesia terkumpul dalam sebuah wadah organisasi bernama Pembina Iman Tauhid Indonesia (PITI). Dulu, PITI adalah singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia.

17. Pergantian nama itu terjadi karena ada ketakutan terhadap hal-hal yang berbau Tionghoa. Begitulah orang orang yang tidak ingin warga Tionghoa bersatu dengan pribumi meski sesama muslim sekali pun.

18. PITI memiliki program pertukaran ulama antara Muslim keturunan China di Indonesia dan masyarakat Muslim di China. Mereka memiliki korps Mubaligh yang berdakwah untuk kalangan Tionghoa Indonesia. Banyak dari mereka ini masih cadel bahasa Indonesia karena biasa berbahasa China, tapi bahasa Arabnya juga jago.

19. PITI menolak persepsi sebagian orang selama ini yang menganggap bahwa etnis Tionghoa identik dengan non-Muslim. ”Tidak benar kalau etnis Tionghoa identik dengan non-Muslim dan cenderung eksklusif. Itu adalah produk kolonial Belanda yang diteruskan oleh pemerintah RI. Dan paradigma atau stigma itu dibawa terus sampai sekarang.

20. Stigma semacam ini merupakan akibat jangka panjang dari penerapan politik devide et impera yang dilakukan Belanda. Akibatnya kalangan non-pribumi menjadi kelompok terpisah dari kalangan pribumi. Hal tersebut dapat dilihat dalam Regeringsreglement tahun 1854, masyarakat Hindia Belanda dibagi dalam tiga golongan besar, yaitu Europeanen (golongan Eropa), Vreemde Oosterlingen (Timur Asing), dan Inlander (pribumi).

21. China termasuk bangsa di luar Arab yang mengenal Islam lebih awal. Ajaran Islam pertama kali tiba di Chhina pada sekitar tahun 615 M.

22. Disebutkan dalam berbagai literatur sejarah, Khalifah Utsman bin Affan yang menugaskan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk membawa ajaran Islam ke daratan China. Bahkan beberapa meyakini Sa’ad meninggal dunia di China pada tahun 635 M, dan kuburannya dikenal sebagai Geys' Mazars.

23. Pakar Studi Islam, Universitas Hawaii, Profesor James D Frankel punya kesan mendalam saat mengunjungi China. Di sana, ia menemukan pengalaman unik tentang China dan Muslim.


24. Frankel mengatakan meski sulit menghitung jumlah muslim di Cina, namun para ahli menduga ada lebih dari 100 juta muslim di China. Dari 100 juta, sebagian besar merupakan etnis Hui, yang secara historis memiliki keterkaitan langsung dengan peradaban Islam dan China.

25. Sebagai catatan tambahan, berikut kontribusi (etnis) China berupa hasil ilmu pengetahuan dari China untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia seperti : tahu, taucho, taoge, kembang tahu, mie, bihun, kuetiau, kecap, ragi, bakpao, baso, bakpia, capcay, proses fermentasi, kertas, tenun, kain sutra, keramik, porselen, guci dari tanah, kembang api dan mercon.

Jadi, masihkah kita membenci China karena China-nya? Mencap dan mengeneralisir China itu adalah kafir?

Masihkah kita berpikir bahwa China tidak memberi kontribusi terhadap Islam dan perkembangan Islam di negeri kita, dan tidak ikut membantu perkembangan peradaban negara kita?

Bahkan kafir pun bila mereka hidup damai, menghargai dan saling menjaga aturan, kita tidak boleh membenci, menghujat dan memusuhinya.

Benci-lah karena perkataan yang salah, tidak sukalah karena perbuatan dan kelakuan yang tidak benar. Bukan karena China-nya, bukan juga hanya kepada China, tetapi kepada semua yang melakukan hal yang tidak benar. Entah itu China, pribumi, beda agama, satu agama, beda suku, satu suku, dan sebagainya. Lakukan dengan cara yang benar.
Dan itu pun kita tidak serta merta memusuhi. Beri peringatan, saling mengingatkan. Beri ajakan, saling mengajak kepada yang baik.
Karena Islam tidak mengajarkan kebencian. Karena Islam mengajarkan kedamaian, rahmat bagi sekalian alam.

Dan kenapa takut dengan China? Sejatinya mereka juga punya peradaban yang lebih tinggi dan lebih dulu jauh sebelum sebelumnya. Hidup ini penuh aturan, etika dan tata krama.


Kalau pun mereka yang China bukan muslim, mereka adalah saudara dalam kemanusiaan, sebagaimana juga teman teman sekolah, teman kuliah, tetangga dan kawan kolega kita lain yang non muslim lainnya yang bukan China di negeri ini.

Dan... dan apalagi bila kita tahu Rudy Hartono, Liem Swie king, Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, Chris John, Daud Jordan, Richard Sambera, Rio Haryanto dan sederetan panjang olahragawan lainnya yang mengharumkan negara Indonesia.
Belum lagi sederetan pelajar pelajar peraih medali emas Fisika Internasional, peraih medali Matematika Internasional dst dst yang membuat negara Indonesia dikenal dan dikagumi dunia. Dan begitu banyak lainnya yang tidak bisa diuraikan satu - persatu.

Apa kontribusi kita ke negara, di kancah Internasional? Kita sibuk berkoar koar di sosial media, menjelek jelekan sekaligus seperti orang phobia tetapi juga setengah liar menyuarakan rasisme dan kebencian? Hebatkah kita? Tidak malu?

Mari bermuhasabah, mari merefleksi diri. Lihat perbedaan sebagai kekuatan untuk menyatukan. Jauhkan benci, lapangkan hati.

Oleh: Ferry Admi Ral

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=305028263165896&id=100009761742991&sfnsn=mo

Jangan Lewatkan Bacaan Ini

0 Response to "Membenci Dan Takut Pada China"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel