14 June 2019

Alasan Mengapa Banyak Orang Takut Simbol Illuminati Dan Teori Konspirsi

Ridwan Kamil berkali-kali disoraki oleh sebagian pengunjung Balai Asri Pusdai, Jawa Barat, Bandung, pada Senin (10/6).

Merujuk video berdurasi 1,5 jam yang diunggah akun Atalia Kamil (istri Ridwan Kamil) di YouTube, gubernur Jawa Barat itu sedang menjelaskan bahwa desain berbentuk segitiga (dikoreksinya sebagai trapesium) di Masjid Al-Safar, Jalan Tol Purbaleunyi km 88, bukan simbol Illuminati.


Tuduhan itu menjadi viral sebab Illuminati dihubungkan sebagai organisasi rahasia elite yang punya kekuatan serta kehendak mendominasi dunia.

Umat Islam diklaim sebagai target, dan strategi Illuminati antara lain meletakkan simbol mirip lambang perkumpulan mereka di masjid dan gedung-gedung lain.

Lambang Illuminati yang paling umum adalah segitiga yang berpuncak ilustrasi satu mata. Lambang diyakini tidak hanya membentuk interior Masjid Al-Safar, tapi juga eksteriornya: sekumpulan segitiga yang secara abstrak membentuk dinding bangunan.

Ridwan dan timnya adalah perancang masjid tersebut. Ia memanfaatkan diskusi untuk menjelaskan visi pembangunan masjid sekaligus membantah fitnah.

“Terinspirasi dari alam,” katanya. Ia lalu mencontohkan masjid-masjid lain di Jakarta sampai Madinah yang mengandung bentuk segitiga tapi tidak dipermasalahkan sebagai simbol Illuminati.

Di samping Ridwan ada dua orang lain. Di sebelah kanannya ada Ketua MUI Jawa Barat Rahmat Syafei selaku penggagas acara. Di samping kiri duduk Rahmat Baequni, ustaz yang memulai kontroversi.

Rahmat Baequni diberi giliran pertama untuk menjelaskan mengapa ia mengasosiasikan bentuk segitiga di interior masjid sebagai simbol "Illuminati".

Judul presentasinya "Paganisme Modern". Ia menjelaskan perkembangan sejarah terbentuknya simbol-simbol terkait zionisme, Dajjal, Illuminati, sampai keberadaannya di berbagai elemen pada masa kini.

Rahmat sering mengutip hadits. Ia sesekali meneriakkan takbir yang dibalas pengunjung secara bersemangat. Beberapa kali topik penjelasannya melebar hingga kritik terhadap keturunan raja Saudi, kegagalan demokrasi, atau naiknya rezim yang dipimpin oleh pengkhianat yang disepakati pengunjung sudah terjadi di Indonesia.

Analisis bahaya simbol yang dikaitkan dengan organisasi-elite-global-nan-rahasia-tapi-amat-berkuasa sudah sering diungkapkan Rahmat Baequni saat mengisi kajian-kajian Islami. Kontennya bisa diakses di berbagai akun YouTube, Twitter dan platform media sosial lain.

Pisau bedahnya serupa dengan pegiat teori konspirasi lain, yakni upaya menghubungkan beberapa objek yang berkaitan dengan hal-hal konspiratif secara serampangan. Lingkar akademisi menegaskan metode ini tidak saintifik. Meski demikian, tetap ada orang yang mempercayainya.

Sejumlah pihak membisniskannya melalui penerbitan literatur dengan tema-tema tak jauh berbeda dengan yang disinggung Rahmat: Illuminati, zionisme, dajjal, kiamat, amerika, yang manifestasinya diklaim ada pada simbol-simbol yang ada di sekitar manusia serta mengapa umat Islam perlu mewaspadainya.

Sosiolog UNY Amika Wardhana melihat kasus Ridwan Kamil bernuansa politis. Ia melihat mantan arsitek itu sudah ditarget kelompok oposisi karena dekat dengan Joko Widodo. Kelompok ini tinggal menunggu Ridwan seakan bikin kekeliruan, lalu mengeksploitasinya.

Amika kemudian membahas analisis Rahmat dan pegiat teori konspirasi lain sebagai ilmu cocoklogi. “Bahasa Jawanya othak-athik gathuk. Ini sebenarnya bukan hal baru, ada di tiap masyarakat dalam sepanjang lintasan sejarah” katanya melalui sambungan telepon, Selasa (11/6).

Baca selanjutnya di link bawah ini:
https://tirto.id/mengapa-orang-takut-pada-simbol-illuminati-dan-teori-konspirasi-ecf1