28 April 2019

Perang Kata-kata Yang Bisa Merusak Indonesia

Pemungutan suara Pilpres dan Pileg sudah selesai. Namun, perang kata-kata antara dua kubu Capres 01 dan 02 terus saja berlanjut. Saling mengejek, menghina, atau merendahkan satu dengan lainnya. Seolah hanya diri sendiri yang baik, benar, hebat, unggul, sementara kubu kompetitor jelek, buruk, tidak layak.


Terlalu sedikit kata-kata penyejuk, yang membangun persahabatan, menyatukan, menguatkan, dan kepentingan bersama. Kebiasaan yang telah dibangun jauh-jauh hari sebelum dimulainya kampanye 23 September 2018 seolah sudah mendarah-daging, dianggap wajar, patut.

Yang tak mau ikut-ikutan, tentu bisa geleng-geleng kepala bila memerhatikan tampilannya di berbagai media. Mengapa? Karena yang menulis atau mengucapkannya bukan sembarangan. Umumnya mereka kaum terdidik di lembaga formal. Banyak yang bergelar sarjana sampai doktor dengan seabrek pengalaman dalam jabatan publik.

Mereka itu seperti tak merasa bersalah ketika menyebut lawan bicara d*ngu, t*lol, g*blok. Etika berkata-kata norma moral yang telah mereka terima sejak di bangku TK seolah tak berguna.

Saya tidak paham apa yang ada di benak mereka ketika menyemburkan kata-kata itu. Apakah merasa cerdas, paling pimtar, paham segala hal, sementara lawan bicaranya tidak. Apakah merasa puas, bahagia, sehingga terus mengulangi hal serupa? Kurang jelas!

Juga saya tidak tahu apakah mereka sadar bahwa mereka ditonton jutaan mata ketika hal itu dikemukakan pada dialog di berbagai TV, termasuk oleh anak-anak mereka sendiri dan anak-anak pada umumnya. Kurang jelas apakah mereka sadar bahwa yang dipertontonkan itu merupakan contoh buruk dalam berkomunikasi dan menyampaikan isi hati di depan publik.

Merusak banyak Orang

Tampaknya, banyak yang tak peduli hal itu. Kata-kata buruk yang terus disemburkan kepada publik sudah pasti tak mendatangkan hal yang berguna. Ia hanya mengundang hal buruk bagi siapa pun, termasuk diri sendiri. Dengan teknologi sekarang, satu kata buruk dilesatkan, maka dalam tempo sedetik, bisa melukai begitu banyak orang dan bisa membekas lama. Bahkan bisa menumbuhkan kebencian satu sama lain, merusak hubungan pribadi, melonggarkan kohesi sosial, menyesatkan pandangan publik seseorang, terhadap pemerintahan, bahkan bisa merontokkan keutuhan bangsa dan negara.

Hal Urban dalam bukunya Positive Words, Powerful Result (2007), pernah menulis akibat hebat yang ditimbulkan kata-kata. Kata-kata yang digunakan, tulisnya,  dapat membentuk sejarah, melahirkan ide, mencetuskan perang, revolusi, menginspirasi jutaan orang, membuat orang jadi kaya dan ternama. Ia juga dapat melukai dan mengejutkan atau menyembuhkan dan memberi semangat, bahkan dapat mengubah dunia entah membangun atau merusaknya menjadi puing-puing.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena semua kata-kata yang disemburkan kepada publik, baik yang membangun maupun merusak merasuk ke dalam pikiran, mengendap dalam hati, kemudian membentuk opini, dianggap wajar, benar, dan akhirnya menjadi sikap bersama di kalangan banyak orang.

Inilah yang disebut GIGO (garbage in garbage out) pada tulisan Yupiter Gulo tempo hari. Sebagian mungkin bisa mengabaikannya, tetapi sebagian lainnya tidak. Yang terakhir inilah yang berbahaya.

Bahayanya, tidak terbatas dalam dua kubu Paslon. Bisa berkembang luas di kalangan masyarakat. Sikap, cara berpikir, bahasa, dan kata-kata yang sama terduplikasi secara massif, dan pada gilirannya meracuni banyak orang sehingga membentuk dua kubu yang saling bermusuhan.

Jika hal ini tak dikendalikan, termasuk oleh media cetak, maka pada saat tertentu, tanpa bisa diprediksi kapan, bahasa dan kosa kata publik menjadi rusak. Secara perlahan juga bisa merusak kepribadian bangsa.

Bangsa Indonesia yang sebelumnya dikenal ramah dengan kosa kata santun, bersahabat, berubah menjadi kasar, tidak sopan, tidak bersahabat, dan penuh kebencian kepada yang lain.

Perhatikan misalnya teriakan anak-anak dengan melodi lagu anak-anak Menanam Jagung di Kebun Kita, pada pawai obor menjelang bulan Ramadhan tahun 2017 di Jakarta. Anak-anak polos berusia SD itu dengan penuh semangat meneriakkan "Bunuh Si Ahok, Bunuh Si Ahok". Yang dimaksud ialah Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI, yang secara bergelombang didemo atas tuduhan penistaan agama.

Mungkin saja mereka tidak paham makna dan dampak teriakan itu karensa bukan inisiatif mereka sendiri. Mereka hanya diperalat oleh orang tuanya atau orang yang ingin menumbangkan Ahok pada Pilkada DKI. Namun, disadari atau tidak, efek buruk dan emosi yang dibangun oleh kata-kata tersebut dapat menjalar kepada siapa saja. Kosa kata "bunuh" bisa dianggap wajar. Melanggar hukum, moral, dan etika, bisa dianggap lumrah. Orang yang tak disenangi seolah harus dihabisi dengan dibunuh.

Bisa dibayangkan betapa buruknya masa depan bangsa ini bila sikap dan watak semacam itu terus dikondisikan dalam Pilpres maupun Pilkada. Hanya untuk kepentingan lima tahun, masa depan bangsa dikorbankan. Predikat bangsa ramah dan santun rela diubah menjadi bangsa beringas, tidak mengenal persahabatan selain kelompoknya. Inikah yang kita mau?

Oleh: Yosafati Gulö

(Kompasiana)