Katakan 'Ndasmu', Prabowo Telah Lukai Hati Rakyat

Tak habis pikir. Calon Presiden Prabowo Subianto sepertinya tak pernah merasa bersyukur. Apa yang pernah dinikmati sedari dulu hingga tubuhnya subur, gagah dan ganteng selalu saja dipandang dari sisi negatif. Bahkan, ketika berkampanye pun meluncur dari mulutnya kata-kata kasar.

Tanpa bermaksud menggurui, Prabowo sayogiaya harus bersyukur bahwa Indonesia dalam kondisi seperti sekarang, tidak terpecah-pecah seperti di Timur Tengah. Hal itu juga berkat jasa para elite politik dan pemimpin negeri sebelumnya. Lepas dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Apa lagi Indonesia kini tenteram hingga mampu menggelar pemilihan presiden.

Capres Prabowo Subianto menyampaikan orasi politik saat kampanye akbar di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (7/4). [Suara.com/Muhaimin A Untung]

Bukankah dengan makin meningkatkan rasa syukur, dapat ketaatan kapada Allah Swt dan tidak menyebabkan diri menjadi angkuh dan lupa kepada yang memberikan nikmat tersebut.

Bersyukur adalah ungkapan berterima kasih kepada Allah, lega, senang dan menyebut nikmat yang diberikan kepadanya dimana rasa senang, lega itu terwujud pada lisan, hati maupun perbuatan.

**
"(Pertumbuhan ekonomi) 5 persen, 'ndasmu'," kata Prabowo ketika berkampanye di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, Ahad pagi (7/04/2019), saat mengkritisi keberhasilan pemerintahan Jokowi mencapai pertumbuhan ekonomi 5 persen.

Mengenai kata 'ndasmu' itu, seorang kompasianer pernah menulis terkait kata tersebut. Giri Lumakto menyebut bahwa kata ndasmu sendiri merupakan umpatan terkasar dalam bahasa Jawa.

Ia menjelaskan, kata kata ndas merupakan kata benda level terbawah untuk menggantikan kata kepala. Di atas kata ndas ada sirah (untuk level orangtua) dan mustoko (level untuk sastra dan konteks keraton). Dan kata ndas sendiri merupakan 'kepala' yang diperuntukkan untuk hewan. Contohnya adalah ndas pitik (kepala ayam) atau ndas kebo (kepala kerbau). Tidak lazim dan tepat menyematkan kata sirah untuk ayam, sirah pitik.
Penulis tak paham Bahasa Jawa yang memiliki stratifikasi dalam penerapannya. Tapi, atas bantuan isteri yang berdarah biru asal Solo, maka setelah mendapat penjelasan mengenai penggunaan kata "ndas" tadi, sungguh penulis nilai sangat buruk. Jika meminjam ucapan Raja Dangdut Roma Irama, ucapan Prabowo itu "sungguh terlalu!".

Jika kata "ndas" tadi digiring untuk dialek orang Betawi, bisa disejajarkan dengan kata: "pala lu peang". Jadi, kembali lagi, kata "ndas" atau "kepala lu peang" sangat tidak patut, tidak elok digunakan. Apa lagi bukan pada tempatnya. Apa lagi ini diucapkan oleh seorang cakon presiden, pemimpin negeri yang besar dan kaya raya. Apa lagi dia adalah seorang putera begawan ekonomi yang beken itu, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo.

Prabowo pun selalu saja menyebut-nyebut kata bocor. Kekayaan Indonesia lari ke luar negeri. Tapi, jika mau jujur, apakah kata dan perbuatannya sudah seiya dan sekata. Kata dan tindakan sudah selaras. Prabowo yang banyak disebut sebagai sosok tegas, nyatanya tidak tegas memberikan solusi atas kebocoran di negeri ini.

Bocor. Bocor. Kalau jadi presiden nanti, berantas korupsi sampai akar-akarnya. Jika kalimat yang sering disampaikan bagai kaset rusak itu terus saja digoreng, publik pun akan merasa bosan. Dan, ini tentu saja akan mengantarkan dirinya memasuki gerbang kekalahan dalam Pilpres 2019.

Tapi, tentu kita berharap Prabowo masih punya spirit untuk bertarung sampai titik darah terakhir. Petahana Joko Widodo (Jokowi) memang beruntung punya penantang sekelas Prabowo meski pernah
keok pada pertarungan Pilpres 2014 silam.

**
Prabowo memang sosok petarung. Ia tak peduli kiri dan kanan para jenderal ngedumel lantaran ucapannya saat debat pilpres keempat beberapa hari lalu. Prabowo juga dinanti memberi penjelasan atas komentarnya bahwa TNI lemah sehingga memunculkan rasa kekecewaan para jenderal.

Andai saja keberanian yang dimilikinya ditunjang dengan kebaruan data, perluasan pemahaman dan pengetahuan, maka bisa jadi retorika di atas panggung, di atas mimbar akan menambah kualitas bicaranya. Bisa jadi, makin berbobot.

Nah, lantaran gitu-gitu aja, ya konsekuensinya, ya begitu juga. Anak milenial sekarang bisa menyebut dengan istilah kudet. Kudet singkatan dari Kurang Apdet (kurang update).
Orang sekitar Prabowo tentu punya kualitas dari berbagai sisi: akademis, ekonom, politisi, budayawan, agamawan mulai dari kelas teri hingga profesor. Andai saja semua orang-orang terhormat di sekitarnya dimanfaatkan dengan maksimal, mustahil bin mustahal, ucapan kata kasar seperti "ndas" tadi tak keluar.
**

Sungguh, realitas dalam perpolitikan di tanah air tak pernah lepas dari unsur mobilisasi, provokasi dan intimidasi. Sebagai instumennya kadang dimanfaatkan agama. Kadang muncul ucapan dari elite politik menakutkan, seperti negara RI bubar tahun sekian. Termasuk kampanye hitam dengan larangan azan.

Jika kita waras, sayogiyanya pesta demokrasi itu dapat memberi pencerahan dan pendidikan politik kepada rakyat. Apa lagi Pilpres itu adalah bagian dari pesta demokrasi. Yang namanya pesta: pernikahan, naik kelas dan resepsi ulang tahun kantoran, harus digelar dalam suasana gembira. Para undangan yang hadir ikut merasa senang dan nyaman.

Oleh karena itu, siapa pun, sudah seharusnya menyambut dan mengikutinya dengan kegembiraan dan penuh suka cita. Bukan dengan "ndasmu" yang bisa membikin luka "menganga" di tubuh warga bangsa ini.

Oleh: Edi Supriyatna Syafei


https://www.kompasiana.com/edysupriatna/5caa1567a8bc153f8e20bff2/ucapan-prabowo-ndasmu-bikin-luka-di-hati-warga

0 Response to "Katakan 'Ndasmu', Prabowo Telah Lukai Hati Rakyat"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel