Ridwan Saidi, Budayawan Yang Tak Patut Dicontoh

Ridwan Saidi, orang yang mengaku budayawan ini tidak patut dicontoh!. Di sebuah acara ILC, Ridwan Saidi ini membicarakan "stage act" alias aksi-aksi panggung. Dia bicara stage act, bukan konten isinya. Dia mengatakan bahwa peradaban Sandi itu lebih baik, dari penggunaan jas. Sekali lagi, penggunaan jas!.

Budayawan Betawi Ridwan Saidi pada acara ILC Selasa (19/3/2019). - Capture YouTube Indonesia Lawyers Club

Namun ia mengatakan "yang satu ini" (KH Makruf Amin, red.) jalannya diseret-seret. Ini adalah sebuah komentar yang rasanya sangat tidak terpelajar, dari orang yang menganggap dirinya sebagai terpelajar.
Jujur saja, saya sangat keberatan mengenai apa yang dikatakan oleh Ridwan Saidi. Saya sebagai warga negara Indonesia, merasa dilecehkan ketika mereka yang mengatasnamakan kebudayaan, malah menyerang kebudayaan orang lain. Kita harus sadar bahwa virus semacam ini tidak sedikit menjangkit di antara kubu oposisi.

Kami sebagai warga negara Indonesia, yang mengedepankan adat dan adab, merasa terhina dengan pernyataan beliau, yang dianggap sebagai sosok yang penting di DKI Jakarta. Bicara tentang penampilan, seperti mereka yang paling jago saja. Padahal tidak demikian.

Apa yang dikatakan, jauh dari akal sehat. Apa yang dikatakan, jauh dari apa yang dianggap sebagai sebuah kebenaran dalam berbudaya. Jauh dari kebudayaan Indonesia. Orang yang dianggap sebagai sosok jagoan di DKI, Ridwan Saidi ini benar-benar tidak elegan. Mengapa tidak elegan?

Pertama, orang ini mengomentari penampilan ketimbang esensi. Secara penampilan, memang harus diakui kedua cawapres ini ada perbedaan. Perbedaan, bukan ada yang rendah ada yang tinggi.

Perbedaan semacam ini, menjadi sebuah perbedaan yang sudah sering kita lihat. Tidak perlu diadu. Kalau mau adu, jangan adu penampilan. Mengapa? Karena cara berpakaian itu, tidak bisa mencerminkan seberapa tinggi peradaban kita.

Kalau mau dilihat Bob Sadino, orang ini secara penampilan biasa saja. Tapi secara cipta, karya dan rasa, orang ini jauh melampaui banyak orang sejawatnya. Orang ini bahkan menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya dalam berbisnis.

Penampilan tidak pernah berkorelasi langsung dengan peradaban. Penampilan yang biasa-biasa saja, tidak menunjukkan peradaban yang biasa-biasa saja. Penampilan yang keren, tidak menjadi ciri khas dari peradaban yang baik.

Kalau mau melihat dan menilai dari penampilan, seorang Ramyadjie, pria tulen itu menyamar dan berpenampilan dengan menggunakan jilbab. Asumsi orang mengenai jilbab, adalah perempuan yang baik. Dan itu sangat mungkin dimanfaatkan oleh para penjahat.

Jadi, bicara tentang penampilan bersarung Kyai Ma'ruf Amin, tidak bisa dibandingkan dengan penampilan berjas Sandiaga Uno. Tidak bisa dibandingkan!

Kedua, orang ini mengatakan bahwa ada "yang satu lagi", jalan diseret-seret, padahal hanya satu meter. Ini adalah sebuah pernyataan yang tidak penting, dan hanya memiliki motivasi yang mengolok-olok. Mengapa harus mengolok-olok cara jalan? Padahal kita tahu bahwa cawapres Kyai Haji Ma'ruf Amin ini adalah kyai sepuh yang dihormati. Mengapa harus menggunakan cara mengolok-olok demikian? Setelah mengolok sarung, mengolok cara jalan? Ridwan Saidi tidak boleh dicontoh.

Mengapa Ridwan Saidi tidak boleh dicontoh? Karena jelas, orang ini tidak memberikan teladan. Sebagai orang yang sudah tua, kedewasaan Ridwan masih terlalu rendah. Kurang dewasa dalam mengomentari penampilan.

Berbicara tentang debat, esensinya bukan penampilan. Esensinya adalah program kerja. Adu gagasan. Kita melihat bagaimanapun juga, penampilan tidak perlu dikomentari. Inilah tradisi para komentator.

Ketika kalah dengan pemikiran, yang diserang adalah permainan SARA dan penampilan. Inilah ciri-ciri pecundang. Pecundang ketika kalah di dalam pemikiran, yang dikomentari adalah rambut, lipstick, sarung, kurus, dan wajah ndeso.

Kebiasaan ini jangan sampai diturunkan ke anak cucu kita. Sebagai orang Indonesia, orang yang sudah tua, seharusnya Ridwan Saidi sadar bahwa apa yang ia bicarakan di acara ILC itu tidak pernah boleh keluar. Lagipula, topiknya sudah sangat jelas, apa itu?
Mengenai korupsi. Kok korupsi bicara tentang penampilan Kyai Haji Ma'ruf Amin? Apa yang ada di dalam pikirannya?

Jangan sampai kebencian menutup mata hati dan menutup kewarasan kita. Jangan sampai Indonesia dipenuhi oleh orang-orang semacam itu. Mereka butuh dididik. Tapi ketika mereka sudah merasa bahwa mereka cukup tua dan tidak perlu menerima nasehat lagi, di sana hari depan tertawan.

Mengritik penampilan itu bukan dalam acara yang membahas korupsi. Mengritik penampilan itu tidak salah, jika diletakkan pada sebuah posisi yang benar.

Sing waras ojo ngalah!

kompasiana

Jangan Lewatkan Bacaan Ini

0 Response to "Ridwan Saidi, Budayawan Yang Tak Patut Dicontoh"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Free Accessories & Cell Phones From Amazon.com!