Politik Baliho Dan Provokasi Mesin Digital

Jalanan pedesaan tempat saya tinggal harusnya hijau dan tenang. Bunga padi sedang mekar, sebentar lagi akan berubah jadi gabah, menggumpal lalu mengeras jadi bakal beras. Jelang tahun politik, warna desa berubah semrawut dan semakin memburuk sebulan menjelang pemilihan umum. Warna ruang tidak lagi hijau. Ada biru, merah, dan kuning.

Warna alam digantikan spanduk dan baliho yang terpaku di pohon, di jembatan desa, di papan pengumuman pos ronda, bahkan di tembok kantor kelurahan dan pagar sekolahan. Sampah visual bergambar wajah calon wakil rakyat dengan ekspresi yang monoton makin brutal.

Sumber ilustrasi gambar: mojok.co

Calon wakil rakyat bergaya dengan tangan mengepal ke depan, tangan tersilang di dada, senyum yang mekar. Aksesoris jas formal dan atribut religius seperti peci adalah persona yang paling banyak ditampilkan, tetapi ada pula yang memakai aksesoris caping agar tampak lebih agraris, bahkan ada yang terang-terangan mengiklankan riwayat prestasinya sebagai leader bisnis Multi Level Marketing.

Barangkali, jika terpilih kelak, ia akan rajin memotivasi rakyat untuk memimpikan agenda jalan-jalan keluar negeri, kepemilikan mobil sport hingga kapal pesiar. Twit dari akun @PEMBIMBINGUTAMA jadi terasa telak: "Foto caleg di pinggir jalan kok ekspresinya senyum semua, tidak ada yang marah atau sedih atas penderitaan rakyat."

Warga tidak mengenal hampir keseluruhan wajah asing yang ada. Barangkali posisi mereka ada di Jakarta atau tinggal di tengah kota. Tubuhnya tak hadir kepada warga, tak ada komunikasi publik dua arah sebagaimana idealnya seorang calon pemimpin mendengar keluhan masyarakat. Satu-satunya yang tersisa adalah gambar bisu yang hanya memuat nama, identitas partai dan nomor urut pencoblosan.

Visi-misi yang muluk tentu tak cukup dimuat oleh stiker ukuran A4 yang ditempel ke tiang listrik. Kertas terbatas tersebut lalu dipadati dengan jargon menjanjikan seperti jujur, tegas, dan antikorupsi.

Kalau wujudnya sudah gaib begini, barangkali, masyarakat diminta mengeluh di hadapan tiang listrik, batang pohon, dan pagar sekolah. Atau jika perlu menaruh sesajen di bawah gambar-gambar tersebut.

Di ruang maya, dialektika politik juga semakin memprihatinkan. Dulu, trending topic Twitter memberikan informasi tentang segala sesuatu yang tengah tren di kalangan user secara organik. Ketika muncul satu berita yang relevan terhadap kebutuhan sehari-hari kalangan urban, pengguna memberikan pendapat pribadinya, kemudian saling retweet, lalu menjadi tren. Satu tren obrolan bisa bertahan sehari hingga tiga hari, tergantung seberapa relevan topik tersebut.

Di tahun-tahun politik, trending topic tak lebih dari kerja-kerja mesin. Narasi yang dimunculkan juga semakin tak masuk akal, seperti Capres A sayang ulama, Capres B Jumatan di mana, keluarga Capres B kafir, keluarga Capres A harmonis, serta narasi lain yang tak ada hubungannya dengan hajat kebangsaan.

Mesin-mesin trending topic tidak hanya digunakan untuk pencitraan atau menyerang citra capres kedua kubu, tetapi ia juga dimainkan ketika muncul sebuah wacana dari rakyat sipil yang seharusnya dapat direspons dengan argumen yang sehat dan variatif.

Ketika CEO Bukalapak Achmad Zaky mengkritik dana riset Indonesia rendah, tagar UninstallBukalapak segera trending  dalam waktu sekejap. Mesin bekerja dengan cepat untuk memprovokasi publik dengan narasi sentimentil seperti Zaky tidak tahu terima kasih kepada Jokowi. Padahal, data yang dipaparkan Zaky tidak salah. Anggaran riset Indonesia memang hanya 0,3% dari GDP. Zaky mengharapkan siapa pun presiden yang terpilih (nanti) memiliki perhatian khusus kepada anggaran riset agar selanjutnya dapat terwujud tradisi riset di bidang sains, sosial maupun teknologi terapan yang lebih baik lagi.

Kritik Zaky semestinya otoritatif, sebab ia adalah seorang pemilik bisnis e-commerce yang menjadi tempat transaksi lebih dari 4 juta pelapak. Zaky seharusnya tidak perlu meminta maaf. Sebagai anak muda pemimpin ekonomi digital, akan lebih baik jika ia percaya diri untuk menyambung twitnya dalam sebuah utas yang lebih panjang soal permasalahan riset Indonesia.

Zaky dekat dengan pelaku usaha, ia pasti mampu berbicara perihal jauhnya topik riset lembaga akademik dari kondisi riil masyarakat. Sekali lagi, potensi dialektika yang sehat justru gagal terwujud disebabkan oleh seruan boikot yang barbar para pendukung fanatik politik.

Sama seperti sampah visual bergambar wajah caleg di jalanan, perang tagar antara mesin dibalas mesin hanya menyisakan borosnya anggaran kontestasi politik yang berujung pada kesia-siaan. Pengguna media sosial yang ingin masuk rimba wacana, akan selalu sesat di jalan. Satu pendapat akan dilibas oleh ratusan akun yang dikomandoi mesin.

Pemilih yang telah mantap akan pilihannya, menikmati polarisasi sambil membayangkan dirinyalah yang tengah berkontes. Kemenangan satu calon adalah kemenangan eksistensinya, kekalahan satu calon adalah kekalahan eksistensi dirinya pula. Sebagian besar lain, telah amat jenuh dan tak berminat sama sekali dengan segala hal yang memuat intensi politik.

Memang ada calon legislatif yang memanfaatkan akun media sosial seperti Fanpage Facebook dan Instagram dengan baik. Mereka fokus membagikan foto kinerja mereka ketika melakoni profesi asalnya dan kiprah mereka di masyarakat. Meskipun, dalam amatan saya, ketika akun semacam ini berusaha menciptakan komunikasi dua arah, seperti menanyakan aspirasi masyarakat atau bagaimana pendapat masyarakat akan sebuah isu tertentu, rata-rata engagement tidak cukup baik. Komentarnya sepi-sepi saja. Dalam kondisi semacam ini, saya tak cukup yakin dengan data partisipasi milenial yang dihubungkan dengan strategi kampanye politik di internet.

Komentar paling ramai, tentu saja adalah milik akun capres yang isinya tak jauh dari saling memaki antarpendukung. Dua capres baik-baik saja, masyarakat akar rumput yang sedang berjaga di pos ronda saling berdebat hebat soal hoax PKI, penghapusan mata pelajaran agama hingga pelarangan azan. Pendukung berlimpah kuota berkelahi di grup WhatsApp keluarga dan alumni.

Entah mana yang salah: tokoh publik yang tidak mengedukasi masyarakat atau masyarakatnya yang memang malas jika topik mulai serius. Barangkali itu sebabnya, tokoh-tokoh politik tua maupun muda yang ada di layar gawai dan layar televisi tidak ada yang konsisten bicara gagasan dengan mendalam. Gelar doktor, tapi memilih membuat puisi jelek yang memancing kontroversi. Yang muda lalu membalas dengan retorika lantang yang sesungguhnya tak terlalu menantang.

Semua memilih ikut arus yang sedang ramai, menumpangi arus tersebut, ikut ngegas meninggikan gelombang, lalu memancing kerumunan datang. Begitulah seburuk-buruknya iman politik hari ini....

Oleh: Kalis Mardiasih, menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama

https://detik.com/news/kolom/d-4458607/politik-baliho-dan-provokasi-mesin-digital

Jangan Lewatkan Bacaan Ini

0 Response to "Politik Baliho Dan Provokasi Mesin Digital"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel