Mendadak Nyekar, Modus Politik Ambisius seorang Sandiaga Uno

Sejak jadi calon wakil presiden (cawapres), salah satu aktivitas Sandiaga Uno yang banyak disorot ialah ziarah politik. November 2018 lalu, ia membikin heboh karena videonya melangkahi makam seorang ulama pendiri NU, Kiai Bisri Syansuri, beredar luas. Untunglah warga NU itu pemaaf sehingga kasus pelecehan tradisi oleh pasangan Prabowo Subianto itu bisa mereda.


Dalam waktu berdekatan kemudian, kita membaca di media, Sandiaga kembali melakukan nyekar politiknya ke sejumlah makam yang populer di kalangan masyarakat tradisional kita. Antara lain ke makam Amangkurat I di Kabupaten Tegal dan ke makam wali pitu yang menurut brosur wisata tak tertulis merupakan para ulama level wali di Pulau Bali. Teranyar, baru-baru ini ia mengunjungi makam KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah di Yogyakarta.

Dalam keterangan yang dikutip media massa, tujuan, motif, dan sambutan Sandiaga Uno mengunjungi makam-makam itu ternyata juga berbeda-beda. Saat nyekar di makam Kiai Ali Bafaqih di Bali Barat, misalnya, ia mengatakan akan mengembangkan wisata religi untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat kawasan makam itu. Suatu pernyataan yang sebenarnya mubazir karena apa yang baru ia angankan telah dilakukan sejak lama oleh masyarakat Loloan.

Lain lagi saat nyekar di makam Amangkurat I, santri milenial versi PKS ini dilaporkan tengah puasa Senin-Kamis dan melakukan salat Zuhur sebelum ke makam. Selebihnya dilaporkan ia mengandaikan sambutan penduduk sekitar sebagai antusiasme menyambut perubahan (artinya ganti presiden).

Walaupun tidak mendapat respons yang berarti dari masyarakat luas, ziarah yang ia lakukan ke makam KH Ahmad Dahlan pada Jumat, 22 Maret 2019 lalu juga dilaporkan media massa. Di kompleks yang sama, ia juga menziarahi makam politikus HMI Lafran Pane.

Dalam retorikanya yang dikutip media massa, Sandiaga Uno mengaku terinspirasi oleh para tokoh bangsa ini dan menyatakan ziarahnya itu adalah bentuk apresiasi atas apa yang telah diperbuat para almarhum bagi kemajuan masyarakat. Akan tetapi, seperti dikutip Jawa Pos, cawapres berlatar pengusaha ini juga ujung-ujungnya mengajak warga Muhammadyah bisa bermitra dengannya membangun bangsa.

Apabila dicermati lebih saksama, makam-makam yang dikunjungi Sandiaga Uno di masa kampanyenya sebagai cawapres pasangan Prabowo Subianto ternyata merupakan makam dari tokoh dengan latar belakang yang berbeda-beda, yang karena beberapa faktor tertentu, telah ‘dimuliakan’ penduduk sekitarnya secara kultural.

Amangkurat I ialah Raja Mataram, KH Bisri Syansuri ialah ulama pendiri Nahdlatul Ulama, makam wali pitu di Bali ialah mitos yang diciptakan akibat perkembangan pariwisata. Adapun KH Ahmad Dahlan ialah pendiri Muhammadyah. Semua itu memiliki basis pendukung sendiri-sendiri yang bertahan secara kultural hingga hari ini.

Dalam budaya ziarah, keperbedaan latar belakang sosok penghuni makam itu sebenarnya mengandung arti sendiri-sendiri. Memberikan pula semacam garis imajinatif terhadap fungsi, keberadaan, dan cara-cara melakukan ziarah di tiap-tiap makam itu. Para peziarah makam ulama NU, misalnya, cenderung tidak melakukan ritual ziarah di makam seorang raja Mataram karena spirit yang dibawa makam-makam itu berbeda.

Wajarlah kemudian, ketika Sandiaga Uno menziarahi semua makam demi 'menciptakan lapangan kerja' dan 'ngalap berkah', timbul kecurigaan, apakah Sandiaga Uno ini betul-betul seorang peziarah sejati? Yang mengerti aturan-aturan imajiner dalam budaya perziarahan?

Politisasi Ziarah
Semangat yang menggebu-gebu dari Sandiaga Uno itu sesungguhnya hanya dapat dibaca sebagai bagian dari ambisinya yang keterlaluan untuk mendapat dukungan, baik secara gaib maupun dukungan masa demi pencawapresannya.

Lebih gila lagi, ketika selepas mengunjungi makam ulama NU, Sandiaga Uno mendadak Muhammadiyah dengan mengunjungi makam KH Ahmad Dahlan. Keraguan timbul karena orang Muhammadiyah sendiri umumnya tidak melakukan ziarah politik ke makam itu. Muhammadiyah tidak melarang ziarah dalam batas-batas akidah yang diyakini warga Muhammadiyah.

Namun, dalam pandangan warga Muhammadiyah, umumnya menziarahi makam secara terjadwal dan beramai-ramai, apalagi dilengkapi perangkat pengiring, dapat saja dianggap bida’ah yang buruk karena berpotensi melakukan kapitalisasi dan politisasi terhadap sesuatu yang sebenarnya bernilai sakral secara agama.

Pada titik ini, kita menilai ambisi Sandiaga Uno untuk dapat berkah di makam KH Ahmad Dahlan itu pada dasarnya suatu ‘pelecehan’ pada akidah umum warga Muhammadiyah. Terlebih lagi saat Sandiaga Uno menyatakan ajakannya agar warga Muhammadiyah untuk bermitra dengannya menciptakan kemajuan (yang berarti bermitra mendukungnya menjadi pemimpin nomor dua di Republik ini).

Jelas, motif politik dan ambisi yang cukup keterlaluan telah menjadi modus utama ziarah Sandiaga Uno ke makam pendiri Muhammadiyah.
Tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

http://mediaindonesia.com/read/detail/225931-mendadak-nyekar-modus-politik-dalam-kampanye-ambisiusa\

Jangan Lewatkan Bacaan Ini

0 Response to "Mendadak Nyekar, Modus Politik Ambisius seorang Sandiaga Uno "

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel