Islam Yang Tertinggal, Yang Merasa Paling Benar Sendiri

Di media sosial banyak bertebaran ujaran-ujaran kebencian: gara-gara beda pandangan keagamaan dengan sangat mudah seorang ulama dikatai munafik, bahkan seringkali lebih kasar daripada itu. Padahal sama-sama islamnya. Suasana sosial dan keagamaan di Indonesia saat ini memang sedang tegang, terlebih semakin mendekatnya pilpres 2019. Mulai dari makian, sampai tindakan ekstrim pun siap dilakukan cukup dengan alasan “beda pandangan”.


Yang menjadi sebab kita mudah disorong kesana kemari dan “digoreng” dengan isu-isu negatif itu adalah karena nihilnya prinsip nalar-kritis dalam masyarakat kita. Ditambah model beragama yang sedang trend saat ini. Banyak dari mereka yang terlalu empirik dalam beragama dan cenderung simbolik- dan puncak dari empirisme adalah egoisme dan mendahulukan pendapat sendiri, yang dalam berbagai kesempatan kita lihat digunakan untuk menyalahkan yang berbeda pandangan, beda pendapat.

Imbasnya, kini orang-orang tak lagi mengenal tradisi dialog yang arif, dan semakin menjauh dari apa yang kita sebut dengan toleransi. Pada akhirnya perbedaan tak berarti lagi: yang tak sependapat dengan pandangannya harus salah, kalau perlu digali makamnya, atau dimunafik-munafikkan, bahkan dikafir-kafirkan.

Kita bisa merasakannya sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Islam yang begitu agung dan luasnya, bahkan menjadi mayoritas dalam negara kita Indonesia, faktanya begitu terasing dan dibuat sekat-sekat oleh apa yang disebut dengan “perbedaan”.

Bagi kita, umat muslim, kini “keimanan hanya meninggalkan namanya saja, keislaman hanya menyisahkan alamat, Alquran hanya untuk sekedar dibaca dengan lagu yang merdu tanpa mengamalkan kandungan isinya”.

Untuk menuju perubahan yang bisa mengantarkan pada kedamaian dan kesejahteraan bersama, kita harus berjalan jauh menuju kedalaman nurani kita masing-masing. Oleh karena itu kita membutuhkan dialog agar lebih mengerti tentang satu “diri” dan “yang lain”, lalu membuang egoisme sejauh mungkin. Dan demi tercapainya tujuan, kita butuh berjalan bersama-sama.

Rupanya untuk memiliki rasa toleransi– tak harus merasa paling selamat dan paling “surgawi” sendiri– kita harus belajar kepada Imam Syafii yang pernah berujar, “Pandangan kami benar, tapi mungkin salah. Pandangan selain kami salah, tapi mungkin benar.”

Disadur dari artikel:
https://lirboyo.net/islam-yang-tertinggal-yang-merasa-benar-sendiri/

Jangan Lewatkan Bacaan Ini

0 Response to "Islam Yang Tertinggal, Yang Merasa Paling Benar Sendiri"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel