8 February 2019

Menjawab Tuduhan Ahmad Dhani, NU Mendukung NASAKOM

Saat ini viral di media sosial video yang berisi pernyataan Ahmad Dhani. Dalam sebuah ceramah di video itu suara Ahmad Dhani terdengat menyebut kemungkinan munculnya Nasakom baru, yang di dalamnya terdapat NU.

"Jadi, harus tahu benar sejarah bahwa NU dahulu mendukung Nasakom. Banyak anak-anak NU meskipun yang sudah di PBNU enggak paham itu bahwa dahulu yang dukung Nasakom bersama PKI dalam komunisnya itu PKI, itu (kelompok agamanya) NU. Nah , sekarang ini mereka sudah bergabung PDIP, NU, juga komunisnya" kata Dhani.

Baju Nazi Ala Ahmad Dhani/historia.id (2014)

Bak seorang sejarawan, Dhani menceritakan hal itu pada acara deklarasi dukungan untuk pasangan capres 02 di pondok pesantren Darul Muwahidin, Garut, Jawa Barat (24/Januari/2019).

Pernyataan Dhani bahwa NU mendukung Nasakom (Nasionalis, Agama Dan Komunis) adalah penggiringan opini bahwa NU adalah pendukung Komunis. Padahal faktanya tidak demikian. Dhani mencoba 'mengelabuhi' orang orang yang mendengar ceramahnya atas sepak terjang politik ulama NU masa itu. Dhani seakan-akan paham betul alur pikiran ulama NU yang dipelopori Mbah Wahab Chasbullah.

(Video Ahmad Dhani Tuduh NU Mendukung Komunis)



NU Mendukung Nasakom?

Diceritakan oleh Djoko Yuwono, wartawan senior dan budayawan, dari Syekh Jansen al-Kebayoraniyah, waktu itu Bung Karno hanya memberi waktu tiga hari kepada NU untuk menolak atau menerima Nasakom. Dalam waktu sesingkat itu, KH Wahab Chasbullah dan KH Idham Chalid mengambil keputusan menerima Nasakom dengan pertimbangan sebagai berikut:

Pertama, tidak mungkin mengumpulkan seluruh pengurus cabang NU yang tersebar di berbagai daerah dalam waktu sesingkat itu, sementara keputusan harus dibuat cepat mengingat PKI telah menghasut Bung Karno untuk membubarkan partai politik yang tidak mau menerima nasakom.

Kedua, jika partai NU dibubarkan maka praktis tidak ada lagi partai besar Islam yang bisa memperjuangkan aspirasi umat, baik di pemerintahan maupun di parlemen, mengingat partai Masyumi sudah dibekukan sebelumnya.

Selang beberapa bulan kemudian, setelah menerima Nasakom, NU mengumpulkan seluruh pengurus cabang untuk menjelasan dua alasan mengapa NU menerima nasakom seperti tersebut di atas. Seluruh pengurus cabang pun menerimanya.

Pada pertemuan itu KH Wahab Chasbullah berpesan, “Kecuali terpaksa, jangan bertempur di luar gelanggang, karena hanya sedikit mendatangkan manfaat bagi umat.” Kalimat ini menandai dimulainya pertempuran terbuka NU yang dikomandani oleh politikus cerdik, KH Idham Chalid, melawan PKI (baik di pemerintahan maupun di parlemen, sampai akhirnya pada tingkat akar rumput juga).

Sadar bahwa paham komunis sudah menyebar luas, NU pun mengusulkan kepada Bung karnio agar tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila. Ide ini dilontarkan untuk mengingatkan masyarań∑at bahwa dasar negara kita adalah pancasila, jangan sampai tergantikan oleh paham komunis; sekaligus menyatukan kaum nasionalis dengan Islam untuk melawan ajaran komunis.

Begitu PKI sudah begitu besar dan sulit ditandingi, NU pula yang memancing banyak pihak untuk mengangkat Bung Karno sebagai presiden seumur hidup, bahkan PKI pun terpengaruh dan paling lantang menyuarakan ide tersebut.

KH Idham Chalid sadar betul, bila pemilu pasca-Dekrit presiden diselenggarakan, bisa dipastikan PKI akan memenangkannya. PKI tidak menyadari bahwa ide menjadikan Bung Karno presiden seumur hidup sesungguhnya untuk meniadakan pemilu. Buat apa ada pemilu bila presiden sudah ditetapkan? Demikianlah logikanya. Pemilu akhirnya tidak terselenggara, negara dan bangsa selamat dari bahaya kemenangan komunisme.

Melihat sudah demikian mengguritanya PKI di masyarakat, NU pun mengadakan perlawanan pada tingkat akar rumput dengan melahirkan berbagai ormas tandingan. Lesbumi lahir untuk menandingi Lekra, Pertanu untuk melawan BTI, dan Banser Ansor untuk melawan Pemuda Rakyat. (Aktual.com)

Dari sejarah di atas bisa disimpulkan bahwa Ahmad Dhani keliru memahami dinamika politik para kiai NU masa itu.

Bahkan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Robikin Emhas, menyebut suami Mulan Jameela itu ahistoris dan ilusif karena menarasikan seolah-olah NU akan menjadi pendukung Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunisme) baru jika Jokowi menang Pilpres 2019. Narasi keliru yang disampaikan Dhani yang kini menjadi calon anggota DPR RI dari Gerindra tersebut didasarkan karena NU pada masa Bung Karno berkuasa pernah mendukung Nasakom. (Republika.co.id)