22 February 2019

Jangan Anggap Remeh KH Ma'ruf Amin

Dari dua debat pilpres 2019 yang sudah diselenggarakan, banyak hal yang membuat kubu Prabowo terhenyak, karena mereka tidak menduga kalau Jokowi melakukan serangan yang diluar perhitungan, sementara ekspektasi mereka terhadap Jokowi sangat remeh.

KH Ma'ruf Amin (kiri)  dan Sandiaga Uno (kanan) dijadwalkan akan debat cawapres pada 17 Maret 2019/Gambar: akurat.co

Elite Politik disekitar Prabowo sudah memperhitungkan, kalau debat tanpa kisi-kisi, maka Jokowi akan kewalahan. Entah apa dasar pemikiran yang digunakan, padahal materi debat secara umum adalah wawasan pekerjaan yang sudah dilaksanakan Jokowi, dan Jokowi sendiri adalah seorang eksekutornya.

Sebagai seorang eksekutor, tentunya Jokowi sangat memahami persoalan dari hulu sampai kehilir, setiap pekerjaan baik yang sudah dikerjakannya, mau pun yang sedang dikerjakan.

Jangan melihat seseorang hanya dari penampilan fisiknya, tapi lihatlah dari performa kerja, dan caranya mengeksekusi sebuah kebijaksanaan. Kalau membandingkan penampilan fisik antara Prabowo dan Jokowi, jelas Prabowo juaranya, tapi melihat kapasitas seorang pemimpin bukan itu ukurannya.

Kalau melihat penampilan Kyai Haji Ma'ruf Amin, yang cuma pakai sarung, dan tidak memberikan kesan perlente, berbeda dengan penampilan Sandiaga Uno yang sangat kekinian. Lagi-lagi Saya mau bilang, jangan ukur kemampuan seseorang dari penampilan fisiknya, dan jangan anggap orang sarungan itu kurang pengetahuannya.

Saya percaya sekali, bahwa seseorang yang memiliki kekayaan spiritualitas itu akan memiliki kekayaan berpikir yang luar biasa. Justeru kekayaan sprirituallah yang menjaga kestabilan kekayaan intlektual dan emosional.

Cerdas saja tidak cukup, kalau tanpa diimbangi dengan spiritualitas, karena itulah yang sering membuat seseorang menjadi pongah dan sombong, sehingga menganggap remeh orang lain, dan hal itu pulalah yang dialami oleh kubu Prabowo.

Sekali lagi saya ingin mengingatkan, jangan anggap remeh Kyai Ma'ruf hanya karena melihat penampilannya. Kalau melihat rekam jejaknya, beliau bukanlah orang yang biasa-biasa saja, bukanlah orang yang cuma faham persoalan Agama.

Bagi pelaku usaha ekonomi dan industri perbankan-terutama yang menekuni bisnis keuangan Syariah-Ma'ruf bukanlah orang yang asing. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini pernah menjabat sebagai Ketua Harian Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI yang melahirkan puluhan fatwa seputar akad dan transaksi keuangan berbasis prinsip Islam.

Bagi pria kelahiran 11 Maret 1943 ini, ekonomi bukanlah hal yang asing. Guru Besar Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Jawa Timur ini meraih gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) untuk bidang Hukum Ekonomi Syariah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Cnbcindonesia.com)

Seorang ulama itu sama halnya seperti seorang Seniman, harus menguasai berbagai macam pengetahuan, tahu soal ekonomi, Politik, Sosial, budaya dan ilmu pengetahuan lainnya. Dalam Al Qur'an, semua pengetahuan tersebut sudah terangkum semua.

Bagaimana mungkin seorang Ulama bisa mencerahkan masyarakat tanpa kekayaan ilmu yang beragam. Inilah yang kadang tidak kita sadari, kita cuma melihat seseorang cuma dari penampilan fisiknya, begitu sudah berhadapan langsung, baru kita tahu kekayaan intlektualnya.

Tidak bisa mengukur kemampuan dan kapasitas sesorang cuma melihat penampilannya. Siapa yang bisa Kira Prabowo yang penampilannya baik secara fisik, mau pun intlektualnya, bisa dikalahkan oleh mantan tukang kayu yang katrok dan ndeso.

Itulah yang tidak dipikir oleh sebagian besar dari kita. Kita tidak pernah mau melihat adanya campur tangan Tuhan, dalam setiap peristiwa yang terjadi dimuka bumi ini. Sesuatu yang mustahil bagi kita, tidak mustahil bagi Tuhan. Apa pun bisa terjadi kalau DIA menghendaki.

Oleh: Ajinatha

https://www.kompasiana.com/ajinatha/5c6b4a0b677ffb29f101f415/jangan-anggap-remeh-kyai-ma-ruf-amin