26 February 2019

Ibu-Ibu 'Kampanye Hitam' Ternyata Relawan Prabowo - Sandi

Ada beberapa artikel yang pernah saya posting, tentang bagaimana Semburan Dusta atau disebut sebagai Firehose of falsehood, yang menjadi senjata kubu Prabowo-Sandi. Ternyata, Semburan Dusta itu terus diproduksi, dan dijadikan senjata Politik untuk menghancurkan kredibilitas lawan.


Baru saja terungkap, 3 orang ibu-ibu yang berkampanye secara door to door, menggunakan Semburan Dusta, yang memfitnah jika Jokowi-Amin menang, maka tidak ada lagi suara azan, pernikahannya sejenis dilegalkan, yang intinya adalah untuk men-downgrade Jokowi-Amin.

Ibu-ibu ini sepertinya produk dari proses Cuci otak, indoktrinasi kampanye Hitam, yang menyasar akar rumput sebagai konsumen semburan dusta dan fitnah. Cara-cara ini dianggap efektif untuk meracuni pikiran kalangan akar rumput, karena sejak tahun 2014 memang kalangan inilah yang menelan habis berita bohong.

Ibu-ibu ini jelas tidak berdiri sendiri, dibelakang mereka ada
Mastermind yang dengan sengaja menggunakan sentimen mereka. Penangkapan terhadap ibu-ibu ini hanyalah sekedar prosedur hukum, tapi yang lebih Penting diungkap oleh kepolisian adalah Mastermind sebagai otak dari gerakan ini.

Seperti yang dilansir CNN Indonesia, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyatakan sejumlah emak-emak di Karawang, Jawa Barat, yang berkampanye tentang 'azan dilarang dan diperbolehkannya nikah sejenis jika Jokowi menang' merupakan relawan Prabowo-Sandi.

Dipertegas juga oleh Juru bicara BPN, Ferdinand Hutahaean mengatakan para emak-emak itu tergabung dalam relawan Pepes.

"Mereka itu dari relawan Pepes. Saya tidak tahu kepanjangannya apa. Tapi mereka memang dari Pepes. Mereka sudah dapat sertifikasi dari BPN," kata Ferdinand saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (25/2).

Sampai disini sudah cukup jelas, bahwa ibu-ibu yang mensosialisasikan secara door to door, kampanye hitam terhadap pasangan Jokowi-Amin, adalah relawan emak-emak dari kubu Prabowo-Sandi. Artinya semburan dusta yang dengan sengaja disosialisasikan, adalah produk dari relawan emak-emak Prabowo-Sandi.
Yang perlu ditelusuri, apakah kampanye hitam tersebut atas dasar inisiatif sendiri, atau memang sudah dipersiapkan untuk disosialisasikan, karena kalau melihat kepolosan dari ibu-ibu yang ditangkap tersebut, kecil kemungkinannya mereka punya pemikiran untuk merancang semburan dusta tersebut.

Dalam rekaman yang beredar di media sosial, sejumlah ibu-ibu itu mengatakan dengan bahasa Sunda bahwa Jokowi akan melarang azan dan membolehkan pernikahan sesama jenis jika menang Pilpres 2019.

"Moal aya deui sora azan, moal aya deui nu make tieung. Awewe jeung awene meunang kawin, lalaki jeung lalaki meunang kawin," kata dia.
Yang artinya kurang lebih, "suara azan di masjid akan dilarang, tidak akan ada lagi yang memakai hijab. Perempuan sama perempuan boleh kawin, laki-laki sama laki-laki boleh kawin".

Itulah yang disosialisasikan ibu-ibu yang tergabung dalam relawan emak-emak PEPES, yang merupakan bagian dari relawan Prabowo-Sandi. Apakah wajar ibu-ibu sepolos itu bisa merancang semburan dusta seperti itu, apalagi sebagai Relawan tentunya mereka terorganisir, artinya untuk melakukan sesuatu pastinya sudah melalui proses Konsolidasi dari oraganisasi induk, yakni BPN tentunya.
Semoga pihak kepolisian bisa mengungkapkan motif dibalik sosialisasi kampanye hitam yang menyerang pasangan Jokowi-Amin, jangan sampai hal seperti itu, yang cuma mengorbankan orang-orang yang Tak berdosa, demi kepentingan Politik sesaat.

Oleh: Ajinatha, penulis di kompasiana

https://www.kompasiana.com/ajinatha/5c73dc7c6ddcae5014382032/ibu-ibu-pelaku-kampanye-hitam-ternyata-relawan-prabowo-sandi