23 February 2019

Fenomena Sugi Nur Dan Potret Muslim Indonesia

Beberapa hari ini jagat maya diramaikan dengan viralnya video ceramah Sugi Nur Raharja yang tidak hanya penuh caci-maki, tetapi juga, bagi banyak kalangan, kerap mengutip rujukan yang keliru atau dalil logis yang dipaksakan. Banyak orang kemudian bertanya, walaupun pertanyaan serupa telah ditanyakan sejak era post-islamisme merajalela, kenapa bisa tugas dakwah/ceramah jatuh ke tangan ustaz-ustaz tidak kapabel?

(Sugi Nur Raharja/suaraislam.co)
Sugi Nur atau biasa dipanggil Gus Nur bukan yang pertama, dan sepertinya bukan akan jadi yang terakhir, juga bukan yang paling berpengaruh. Tetapi, viralnya video ceramahnya bagaimanapun membuat otokritik tentang nasib otoritas keagamaan kembali mengemuka-mendesak untuk ditanyakan kembali.

Bagaimana bisa seorang Sugi Nur menjadi viral? Kenapa "orang-orang" mau mendengarkan ceramahnya? Telah sejak lama para pemikir, budayawan, dan tokoh agama "menyindir" kompetensi ustaz di kanal media sosial dan industri televisi, tetapi sindiran itu tidak serta-merta membuat nilai jual para ustaz tersebut surut-alih-alih pangsa pasarnya tetap ada atau bahkan meluas.

Sugi Nur bukan dari kalangan selebritis, sepertinya tidak mewakili ormas Islam mana pun, tetapi itu semua tidak menghambatnya untuk "didengarkan orang-orang".

Ada beberapa alasan. Pertama, dengan mempertimbangkan intensitas penggunaan cemoohan politis semisal "cebong", Sugi Nur memuaskan syahwat kebencian di tengah politisasi agama yang memanas. Para pendukung paslon capres-cawapres dari kalangan awam butuh orang-orang yang ditokohkan, yang dianggap memiliki kredibilitas-terlepas dari apakah anggapan itu terjustifikasi atau tidak.

Ketika kebutuhan itu dipenuhi oleh pendekatan "dakwah" Sugi Nur, dengan serta merta ia menjadi dambaan. Bahwa dia salah kutip ayat, hadits, dan lain-lain saat memberi jawaban atau penjelasan, itu urusan belakangan. Yang penting dia mengakomodasi kebutuhan kebencian kolektif mereka untuk mencemooh dan memandang rendah pendukung kelompok (politik) lawan.

Situasi semacam itu telah diramalkan-dan dikhawatirkan-oleh salah satunya, (alm.) Nurcholish Madjid (Cak Nur). Ketika mengkritisi partai Islam, Cak Nur melihat bagaimana iktikad baik "Islamisasi sistem" tidak ditempuh dan dicapai secara idealis dan menyeluruh, sehingga malah mengakibatkan politisasi agama di mana partai, dalam upaya meraup suara, melakukan potong kompas yang mencederai semangat kemaslahatan Islam.

Misalkan ungkapan "dukung partai kami, kalian akan masuk surga". Apa yang dilakukan Sugi Nur, kendati bukan politisi dan tidak secara eksplisit menjadi juru kampanye partai, beririsan dengan persoalan tersebut. Dari sini kita melihat bagaimana timpangnya pendidikan politik dalam sistem pendidikan kita. Kalau kita mampir ngopi di warung, masyarakat awam hari ini akan dengan sangat bersemangat --bahkan emosional-- memperdebatkan capres yang dipilih, sebagai akibat dari fanatisme buta berbasis (politisasi) agama.

Tetapi, apakah itu hanya faktor satu-satunya? Tidak. Situasi pelik ini juga berhubungan dengan alasan kedua kenapa Sugi Nur banyak didengarkan --sekaligus poin lain yang menjadi
concern Cak Nur sejak lama. Apa itu? Persoalan sikap dan pola pikir kritis masyarakat Muslim di Indonesia.

Cak Nur sejak lama gelisah dengan situasi tersebut; bagaimana masyarakat Muslim kita tidak pernah diarahkan, dibangun, dan dibentuk untuk mahir dan gemar "bertanya" dan "mempertanyakan" hingga pada tahap di mana kedua sikap tersebut dianggap terlarang. Ada sikap antipati yang kuat terhadap tradisi bertanya (apalagi filsafat), sehingga sulit bagi sebagian orang untuk menerima bahwa fundamen awal dakwah Islam adalah "tradisi filsafat" yang dimiliki Muhammad muda.

Sebaliknya, pola pendidikan Islam sering terlalu menekankan pada sistem pengajaran satu arah di mana murid menghafalkan "kebenaran-kebenaran" yang disampaikan oleh guru-guru mereka tanpa diajari untuk bertanya "kenapa" dan "bagaimana". Freire menjadi salah satu kritikus sistem pendidikan banking pedagogy model ini; menganggap bahwa sistem ini tidak suportif terhadap pembebasan masyarakat --terhadap kedewasaan berpikir dan kemajuan peradaban.

Walau Christodoulou dan Wood menyatakan bahwa "hafalan" tidak "seburuk" itu, tetap saja itu tidak menjadikan pendidikan berbasis tradisi berpikir kritis menjadi tidak relevan. Kenapa? Karena pendidikan tanpa tradisi berpikir kritis dengan setiap masyarakat Muslim diajarkan untuk hanya sami'na wa atho'na akan membuka peluang bagi ustaz-ustaz "gadungan" yang jago dalam public speaking dengan konfidensi tingkat dewa untuk menguasai panggung-panggung dakwah dan menjadi role model yang diikuti secara taqlid buta. Persis sebagaimana orang-orang dapat dengan senang hati "percaya" pada ceramah Sugi Nur tanpa merasa harus mengecek dan mengkritisi.

Alasan ketiga, Sugi Nur menjadi viral bagaimanapun tidak lepas dari "manipulasi" sistem algoritma youtube dan media sosial. Terlepas dari apakah dia punya tim khusus atau mengelola semua itu secara amatir. Jikapun dia mengelola secara amatir, akan ada orang-orang tertentu, para buzzer "sukarela" yang mungkin merasa Sugi Nur dapat "berguna" bagi apa yang mereka kampanyekan, sehingga perlu diviralkan.

Atau, jika asumsi tersebut terlalu berlebihan, kita mungkin dapat melihat Sugi Nur sebagai seseorang yang memang mampu dan piawai "berselancar di tengah ombak". Jika demikian, Sugi Nur adalah orang yang cerdik membaca (kebutuhan dan "kualitas") umat awam. Berhasil melakukan positioning dengan segala konsekuensi baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masa depan religiusitas masyarakat Indonesia.

Pada akhirnya fenomena ini semakin menyadarkan kita tidak hanya untuk bahu-membahu membangun kesadaran berpikir kritis, dewasa dalam berpolitik, serta literate dalam bermedia sosial, tetapi juga untuk menyemarakkan kanal Youtube dan media sosial dengan kajian keislaman yang terpercaya dan valid. Syukur-syukur secara lambat-laun akan meningkatkan standar kualitas ustaz di tengah pseudo-demokratisasi ilmu pengetahuan akibat disrupsi teknologi tanpa mesti ada intervensi politis dari Kemenag yang problematis.

Oleh: Irfan L. Sathindi, pengasuh Salamul Falah

https://detik.com/news/kolom/d-4439510/fenomena-sugi-nur-dan-potret-muslim-indonesia