7 February 2019

Fadli Zon Kena Batunya

Sebagai seorang Anggota Dewan, Fadli Zon sangat produktif menuliskan puisi, sehingga produktivitas seharusnya sebagai anggota Dewan pun diabaikan. Tapi mungkin dia pikir, dengan posisinya sebagai Wakil Ketua DPR, karya puisinya akan lebih terbaca. Produktivitas Fadli ini seperti SBY ketika menjadi Presiden, aktif menciptakan lagu.

Itulah enaknya menjadi Fadli Zon, sebagai vocalis Oposisi dia selalu menjadi sorotan media, apa pun yang dicelotehnya menjadi santapan media. Apa lagi kalau dia sudah mengeritik Pemerintah, terlepas benar atau tidak yang dikritisinya, tetap saja menjadi santapan media.

Bukan cuma menciptakan puisi, Fadli juga aktivis media sosial, khususnya Twitter. Baru-baru ini dia dan putri Almarhum Gus Dur, Alisya Wahid, sempat Twit war terkait puisinya yang berjudul "Doa Yang Ditukar," puisinya tersebut diduga sangat melecehkan Kyai Kharismatik Maimoen Zubair.


Puisi tersebut sepertinya terinspirasi dari Do'a Mbah Moen saat mendoakan Jokowi agar terpilih lagi, tapi yang terucap malah nama Prabowo. Tapi memang kalau konteks doanya kalau terpilih kedua kalinya, secara nalar jelas dialamatkan pada Jokowi. Namun banyak pihak menganggap kesalahan itu adalah sebuah tanda dari langit, tetaplah perlu pembuktiannya pada 17 April 2019 nanti.

Berikut doa yang disampaikan oleh Mbah Moen saat berada di samping Jokowi:

"Jadikanlah Ya Allah orang di sampingku ini Presiden, Presiden ini (yaitu) Pak Prabowo, jadikanlah dia Ya Allah untuk kedua kalinya dengan perolehan suara yang banyak".

Atas kesalahan ucap nama tersebut, Romahurmuziy (Romy) mengambil inisiatif untuk memberitahukannya pada Mbah Moen, agar meralat nama Prabowo Menjadi Jokowi, upaya ini pulalah yang menjadi sindiran Fadli, itulah Inspirasinya menuliskan puisi "Doa Yang Ditukar," doa untuk Prabowo Ditukar menjadi Doa untuk Jokowi.

Memanglah makna kata dalam puisi itu mengandung multitafsir, setiap orang akan berbeda memaknainya. Penulis puisi bisa saja berargumentasi, bahwa maksud penyampaian puisinya bukanlah seperti apa yang tersurat dan tersirat, tapi ketika makna yang tersirat lebih kentara dari yang tersurat, maka disitulah timbulnya polemik.

Seperti umumnya, sesuatu yang salah kalau terus menerus disampaikan secara berulang-ulang, maka akan dicerna sebagai sebuah kebenaran, sebaliknya juga begitu, meskipun argumentasi Fadli dianggapnya benar, tapi ketika lebih banyak orang menganggap apa yang dituliskannya dalam puisi tersebut adalah penghinaan terhadap Mbah Moen, Fadli juga tidak bisa apa-apa.

Jelas Kali ini Fadli kena Batunya, sekian banyak puisi yang sudah dituliskannya, tapi puisinya Kali ini memang sangat sensitif, meskipun bahasa sebuah puisi itu tidak bisa dihakimi. Banyak juga penyair yang harus mendekam dibalik jeruji besi karena puisi. WS Rendra berkali-kali ditahan karena Puisinya sarat kritik terhadap Kekuasaan Orde Baru.

Sementara Fadli Zon aman-aman saja mengkritik Pemerintah Jokowi, tapi ketika puisinya dianggap menghina Kyai yang sangat dihormati ummat, maka Fadli sejatinya harus legowo mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Semua juga tahu kalau Fadli ini hanya hormat kepada Ulama 212, selain daripada itu sepertinya tidak dianggap Ulama.

Wajar saja kalau memang Fadli harus kena Batunya. Kalau Fadli memahami, bahwa apa yang dilakukannya selama ini, sudah banyak yang diluar batas, sementara Tuhan sangat tidak menyukai hal-hal yang diluar batas. Itu pun kalau benar Fadli keislamannya baik, dia Akan senantiasa istighfar, agar diselamatkan lisannya. Seorang Islam yang baik itu sangat terpelihara lisannya.

https://www.kompasiana.com/ajinatha/5c5ad03112ae942d7413b529/kali-ini-fadli-zon-kena-batunya