Catatan Refleksi Harlah NU Ke 93: Dua Kekuatan NU

Bismillah...
Entahlah setiap kali membicarakan tentang Nadhlatul Ulama (NU), hati dan akal ini berbinar. Organisasi Islam terbesar di dunia ini emang 'aneh'. Pengikut dan simpatisannya kebanyakan kaum sarungan, jika dipandang sekilas memang tidak fashionable dan rada terbelakang.

Kebanyakan simpatisan dan anggotanya orang orang dari golongan menengah kebawah. Dari agak miskin, sedikit miskin sampai miskin sekali. Tapi anehnya orang orang tersebut memiliki jiwa sosial yang tinggi. Jika ada acara Maulidan, Pengajian, Manakiban dan Istigosahan (konon kegiatan kegiatan ini meningkatkan perekonomian rakyat hehehe), mereka berbondong bondong ikut membantu dana meski hanya sekilo beras atau gula atau semampunya.


Berbicara tentang NU harus berbicara tentang kultur. NU mampu menciptakan kultur yang menserasikan agama,budaya,kearifan lokal dan kebangsaan. Semuanya dikemas dengan indah,toleransi dan moderat. Kultur tersebut tidak bisa dibentuk dalam setahun atau dua tahun. Menserasikan kultur tersebut membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun. Siapa yang bisa menserasikan kultur tersebut? Semua sudah dimulai ketika Islam masuk ke Nusantara. Para wali lah yang berikhtiar untuk menyatukan kultur tersebut agar bisa serasi. Dan itu terus dilanjutkan oleh para ulama generasi setelahnya hingga puncaknya berdirilah Jamiyyah Nadhlatul Ulama.

Jadi NU berdiri bukan berpijak dari satu keadaan saja, akan tetapi NU BERDIRI UNTUK MELANJUTKAN PERJUANGAN PARA WALI DAN ULAMA ULAMA JAMAN DAHULU DIDALAM MENJAGA AGAMA, AKIDAH SERTA BANGSA DAN NEGARA.

Sesuatu yang ditanam dengan keikhlasan pasti akan menghasilkan buah. Tanaman dakwah itu telah ditanam oleh para Wali generasi awal di Nusantara, lalu tanaman itu dirawat oleh Generasi Wali dan Ulama setelahnya, dan puncaknya kini tanaman itu telah menjadi pohon yang besar, rindang, menghasilkan banyak buah, sejuk dan menyejukkan serta bisa menjadi payung bersama dalam urusan keagamaan, kebangsaan, kearifan lokal dan kebudayaan.

Semua ini bisa terjadi karena hebatnya para ulama dalam memahami agama, tidak gegabah, cermat, teliti dan memahami persoalan hingga akhirnya menghasilkan keberkahan ilmu, sumber daya manusianya, semangat beragamanya, semangat berbangsanya dan sebagainya. Setiap ilmu yang dipayungi keberkahan akan menghasilkan pemikiran dan perilaku yang lurus.

Menurut saya pribadi kekuatan utama NU ada dua:

1. Ulama NU
Selagi masih banyak pesantren pesantren bertebaran diseluruh Nusantara ini maka NU akan terus ada. Selama masih banyak ulama-ulama yang ikhlas berdoa untuk keselamatan agama, bangsa dan rakyat maka NU akan terus ada. Meski jika dilihat sepintas ulama ulama NU itu penampilannya ndeso ndeso tapi untuk pemahaman agama nya luarbiasa. Ukhuwah Islamiyah-Ukhuw
ah Wathoniyah-Ukhuwah Insyaniyah adalah sumbangan terbesar NU untuk peradaban dunia. InsyaAllah semua negara akan menerapkan metode seperti itu.

2. Amaliah NU
Selama masih ada majlis majlis Maulid, Manakib, Istigosah, pengajian umum disetiap jengkal di Nusantara maka NU masih tetap ada. Inilah senjata utama NU didalam berdakwah dan menyatukan masyarakat.

Dua kekuatan besar inilah yang menopang NU. InsyaAllah NU akan terus ada. Membenci NU sama juga membenci mata rantai sanad keilmuan yang bersambung pada imam imam ulama ahli akidah, fiqih dan tasawuf. Jika anda tidak suka dengan oknum NU yang bertindak diluar koridor, maka bencilah perbuatan oknum tersebut dan jangan musuhi NU nya. Karena ilmu titen, siapapun yang memusuhi NU nya akan hancur dengan sendiri. Yaa Jabbar Yaa Qohhar.

Dan akhirnya selamat Harlah NU yang ke 93. Semoga Barokah.
Alfatihah untuk para wali wali dan ulama ulama seluruh nusantara lahumul fatihah..

Oleh: Nauval Mutahar

Jangan Lewatkan Bacaan Ini

0 Response to "Catatan Refleksi Harlah NU Ke 93: Dua Kekuatan NU"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel