22 February 2019

Doa Neno Warisman Cacat Logika

Beredar doa Neno Warisman, tim sukse. Doa yang dibacakan pada acara "Munajat 212" di Monas (21/02/19) itu berbunyi, "Ya Allah menangkanlah kami (Prabowo), jika kami kalah, kami khawatir tidak ada lagi yang menyembahmu". Pembacaan doa ini cacat logika.


Doa ini sebenarnya Doa Nabi Muhammad SAW pada saat kedua pasukan berhadap-hadapan. Nabi SAW menyiapkan pasukan yang jumlahnya hanya 319, sedangkan beliau saw melihat, pasukan musyrikin Mekkah ribuan orang. Doa Rasulullah SAW ini driwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim.

Saya tidak yakin mantan artis 80'an ini membacanya dari kedua sumber primer umat Islam itu, tapi mungkin dia pernah mendengar dari seorang ustadz yang mengisahkan cerita tentang doa ini.

Dalam syarah Muslim disebutkan, setelah Nabi Muhammad SAW mengecek barisan pasukan yang hanya sedikit, senjata seadanya, sedikit sekali dari 319 ini yang memegang senjata pedang. Kebanyakan menggunakan kayu dan alat-alat seadanya. Sementara lawan (kaum musyrikin-red), diseberang, berjajar rapi dengan persenjataan lengkap dengan jumlah pasukan berkali-kali lipat.

( ﺭﻭﻯ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﻗﺎﻝ : ﻟﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﻮﻡ ﺑﺪﺭ ﻧﻈﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ، ﻭﻫﻢ ﺃﻟﻒ، ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﺛﻼﺛﻤﺎﺋﺔ ﻭﺗﺴﻌﺔ ﻋﺸﺮ ﺭﺟﻼً ، )


Kemudian Nabi SAW menghadap qiblat dan bermunajat:
ﻓﺎﺳﺘﻘﺒﻞ ﻧﺒﻲ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ، ﺛﻢ ﻣﺪ ﻳﺪﻳﻪ ﻓﺠﻌﻞ ﻳﻬﺘﻒ ﺑﺮﺑﻪ : " ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺃﻧﺠﺰ ﻟﻲ ﻣﺎ ﻭﻋﺪﺗﻨﻲ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺁﺕ ﻣﺎ ﻭﻋﺪﺗﻨﻲ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻥ ﺗﻬﻠﻚ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻌﺼﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻻ ﺗﻌﺒﺪ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ "

"Ya Allah tunaikan apa yang telah Engkah janjikan kepada kami, ya Allah datangkan apa yang Engkau janjikan kepada kami, jika pasukan muslim yang sedikit ini kalah, Engkau tak akan lagi disembah dimuka bumi". (Dalam redaksi Bukhari: ﻟﻢ ﺗﻌﺒﺪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺃﺑﺪﺍً , Engkau tak akan disembah setelah hari ini).

ﻓﻤﺎ ﺯﺍﻝ ﻳﻬﺘﻒ ﺑﺮﺑﻪ ﻣﺎﺩﺍً ﻳﺪﻳﻪ، ﻣﺴﺘﻘﺒﻞ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ، ﺣﺘﻰ ﺳﻘﻂ ﺭﺩﺍﺅﻩ ﻋﻦ ﻣﻨﻜﺒﻴﻪ، ﻓﺄﺗﺎﻩ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ، ﻓﺄﺧﺬ ﺭﺩﺍﺀﻩ ﻓﺄﻟﻘﺎﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻜﺒﻴﻪ، ﺛﻢ ﺍﻟﺘﺰﻣﻪ ﻣﻦ ﻭﺭﺍﺋﻪ، ﻭﻗﺎﻝ ﻳﺎ ﻧﺒﻲ ﺍﻟﻠﻪ ! ﻛﻔﺎﻙ ﻣﻨﺎﺷﺪﺗﻚ ﺭﺑﻚ، ﻓﺈﻧﻪ ﺳﻴﻨﺠﺰ ﻟﻚ ﻣﺎ ﻭﻋﺪﻙ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ .

"Rasulullah saw terus bermunajat kepada Allah (sementara kedua pasukan sudah berhadapan), beliau saw menengadahkan tangan dalam keadaan menghadap qiblat, sampai rida, kain yang menjuntai dipundak beliau saw jatuh. Kemudian Sayidina Abu Bakar mengambil rida dan menempatkan rida di pundak beliau saw, lalu Sayidina Abu Bakar berdiam dibelakang Nabi saw. Lalu Abu Bakar berkata kepada Nabi, duhai Nabi Allah, cukup permohonan panjenengan kepada Allah, pasti Allah menunaikan apa yang dijangjikanNya kepadaMu".

Tapi sangat tidak relevan mencatut do'a ini kedalam peristiwa politik. Pertama, pembacaan ini mengandaikan kontestasi politik kedua belah pihak, diibaratkan muslim Madinah yang tertindas, yaitu kubu Prabowo, dan Kufar Mekah yang dzalim penuh aniaya, yaitu kubu Jokowi.

Peng-andai-an ini memang terus disuarakan Neno dan kawan-kawan sejak ramai tagar ganti presiden. Ini pengandaian yang sangat keliru. Karena Presiden Jokowi, KH. Maruf amin muslim taat, dan didukung jutaan umat muslim dan ribuan kiyai Habaib dan santri. Jika di kubu Jokowi ada non muslim, dikubu Prabowo juga sama. Bahkan adiknya, Hasyim, dan keponakan-keponakan Prabowo juga bukan muslim.

Kedua, Neno mencatut doa Nabi SAW dalam perang Badar kedalam kontestasi politik adalah perbuatan keji. Jika dirunut, Neno sedang memframing dan mempengaruhi alam bawah sadar bahwa rezim Jokowi anti Islam, memusuhi Islam, Presiden dan pendukungnyaa tidak beragama. Ini kekeliruan yang besar.

Jika mengadu kualitas muslim kedua belah pihak, maka muslim di kubu Jokowi lebih baik. Walaupun ukuran ketakwaan hak Preogratif Allah, tapi kuantitas duniawi bisa dilihat melalui parameter yang ada. Misalnya Pak Qurash ahli tafsir yang diakui dunia, level internasional, satu leting dengan Grans Syekh Azhar, beliau mendukung Jokowi. Tokoh-tokoh NU dan NW pengasuh ribuan pesantren.

Ketiga, doa Neno Warisman  secara simplistis Jokowi melarang pengamalan Islam di Indonesia, seperti Kufar Mekah yang ingin mengeyahkan praktek keagamaan umat islam Madinah, dan ingin membantai orang-orangnya. Ini fitnah luar biasa.



Saya berharap, POLRI tidak memberi ijin acara-acara yang diadakan gerombolan itu. Karena sudah dapat dipastikan mereka akan melakukan provokasi.
Hey kalian, pengajian macam itu yang dibubarkan Banser. Bukan sembarang pengajian. Yang dibubarkan adalah pengajian yang dijadikan ajang provokasi dan hasutan.

Sebaiknya tidak perlu membawa jargon-jargon agama kedalam kontestasi politik, saya tidak membayangkan peristiwa politik yang rutin 5 tahunan, seperti pilpres, pilgub, pilbup jika dipanaskan dengan hasutan agama, akan membuat persatuan bangsa kita raluh. Karena terus menerus dihajar dengan kebencian dan sentimen agama.

Ahmad Tsauri
Pekalongan, 22 Februari 2019.