17 February 2019

Dipangku Mati: Jokowi Belajar Kesantunan Ala Jawa Dari CEO Bukalapak

Kejumawaan bukanlah Jokowi. Kemegahan tidaklah Jokowi. Kekayaan tanpa batas sangat jauh dari Jokowi. Kesombongan jauh dari Jokowi. Keminter jauh panggang dari api Jokowi. Grusa-grusu tanpa berpikir tidak Jokowi banget.

Jokowi bukanlah konglomerat. Jokowi bukan kaya raya untuk ukuran seorang Presiden RI. Hidup sederhana. Kekayaan di bawah Rp 44 miliar sudah lebih dari cukup. Tidak ada keserakahan dalam diri Jokowi.


Jokowi mengagumi anak muda kreatif. Dia mendorong optimisme. Kreativitas anak muda. Dia mendorong riset dan teknologi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dipecah menjadi dua. Kementerian Riset dibangun. Dana dikucurkan triliunan rupiah.

Achmad Zaky tetangga Jokowi dari Sragen, bukan Solo, menikmati dukungan Jokowi. Bukan hanya dia. Istri Achmad Zaky pun didukung Jokowi. Selepas ultah Bukalapak yang dihadiri Jokowi, Diajeng Lestari pun diundang ke Istana 31 Januari 2019.

Namun balasan yang diberikan Achmad Zaky adalah khas khilafah. Menelikung. Menginjak kepala. Mau makan nangka tidak mau kotor oleh getah nangka. Kacang lupa kulitnya. Persis sama dengan panganut khilafah yang mau hidup dan makan di Indonesia namun tidak menghargai Indonesia. Edan.

Nah, bukan Jokowi kalau tidak jembar pengapurane (luas memaafkan). Jokowi memraktekkan ilmu perang ala Jawa. Dipangku mati. Ilmu Jokowi ini sungguh spektakuler.

Ketika semua orang menghujat Achmad Zaky, maka datanglah Jokowi. Dia bukan hanya memeluk Achmad Zaky, namun memangku Achmad Zaky. Achmad Zaky dijadikan Raja di Raja.
Pas sekali langkah Jokowi. Kerena Achmad Zaky adalah orang kaya raya – jauh melebihi Jokowi. Pun kegiatan Achmad Zaky menghidupi banyak orang. Masih banyak manfaat dari mudharatnya. Maka Achmad Zaky pun diterima oleh Presiden Jokowi di Istana Negara.

Kita tunggu saja ya kesederhanaan Jokowi memeluk Achmad Zaky.

Oleh: Ninoy Karundeng