22 January 2019

Serem, Orang Yang Dilangkahi Saat Tidur Bisa Bangun Dengan Roh Berbeda

Gugon Tuhon - Masyarakat Jawa masih begitu teguh memegang aturan-aturan baik itu anjuran maupun larangan. Dalam bahasa umum, tindakan ini sering disebut dengan tindakan "pamali". Seperti larangan melakukan sesuatu pada hari tertentu yang dianggap hari buruk, atau pantangan menebang pohon besar yang dianggap suci.

Jika dilanggar, menurut adat, maka hidup si pelanggar pantangan ini tidak lagi tenang karena akan takut akan mendapatkan celaka sebagai hukuman atas tindakan tersebut.

Ilustrasi bangun tidur/suaramerdeka.com

Pantangan yang pernah tersiar pada masa penjajahan Hindia Belanda dan sangat dipegang teguh adalah larangan melangkahi orang tidur. Selain larangan melangkahi orang yang sedang tidur, membangunkan seseorang dengan cara yang kasar juga dianggap sebagai sebuah tabu.

Diyakini, jiwa atau ruh seseorang yang sedang tidur untuk sementara meninggalkan tubuhnya dengan tujuan melakukan pengembaraan. Saat tubuhnya digoyang, maka jiwanya pun kembali. Maka jika membangunkan seseorang dilakukan dengan cara yang kasar, ada bahaya bahwa jiwa akan terhalang untuk kembali ke dalam tubuh. Bangsa Belanda percaya pantangan ini ada hubungannya dengan pepatah mereka: "Dia bangun dari tidurnya dengan roh yang berbeda".

Selain itu dikenal pula larangan menghina gambar atau bayangan. Hinaan terhadap lukisan seseorang dianggap sebagai penghinaan terhadap orang itu sendiri. Karena itu tidak diperkenankan juga menginjak bayang-bayang seseorang atau menancapinya dengan sebuah tongkat. Tindakan ini dianggap seperti menusuk orang yang bersangkutan.