15 January 2019

Memelihara Benalu

Negeri ini memang terlampau baik. Coba bayangkan. Ada aparat didakwa korupsi duit negara, terus dihukum jadi narapidana tipikor (tindak pidana korupsi). Walaupun begitu bukannya menderita, mereka justru tetap menerima gaji dari negara. Luar biasa. Pantes banyak sekali orang yang ngantri buat jadi pengabdi di negeri ini.


Ini semua terjadi berkat ke-selow-an BKN  (Badan Kepegawaian Negara) yang tidak kunjung memberhentikan para ASN (Aparatur Sipil Negara) terdakwa korupsi. Padahal Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo; Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Syafruddin; dan Kepala BKN, Bima Haria Wibisana sudah meneken surat yang memutuskan bahwa paling lambat Desember 2018, semua terpidana korupsi dari kalangan ASN harus sudah dipecat. Tujuannya agar di tahun 2019 ini anggaran negara tidak tersedot untuk menggaji para aparat koruptor.

Seperti dilaporkan oleh koran Kompas, sejumlah 1.520 ASN terpidana korupsi sampai saat ini belum diberhentikan dan masih menerima gaji dari negara. Entah berapa rupiah kerugian negara yang dihasilkan oleh pemakan gaji buta ini. Dan masih belum jelas pula nantinya gaji yang telah diberikan akan dikembalikan pada negara atau tidak. Masalahnya kerugian negara sudah berlangsung sejak tahun lalu yang kalau diakumulasi bisa mencapai miliaran rupiah.

Fenomena amburadul ini terjadi bukan hanya karena kesalahan BKN saja. Kurangnya koordinasi dan kompleksnya birokrasi antarlembaga negara seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Dalam Negeri, serta Kementerian Hukum dan HAM turut menyumbang terselenggaranya penundaan pemecatan para koruptor magabut (makan gaji buta) tersebut. Jadi, mau sampai kapan benalu-benalu ini digaji? bulan depan? gitu aja terus sampai Atta Halilintar jadi presiden.

Oleh: Papa T. Bob

https://kaskus.co.id/post/5c3ccbaa337f9365a912847f/