Kiai Dachlan, Sosok Pedagang Perhiasan Imitasi Serta Penemu Metode Qiraati

Tahukah Anda penemu metode pembelajaran Alquran dengan metode Qiraati adalah seorang pedagang perhiasan imitasi di Pasar Johar, Semarang?

Dialah KH Dachlan Salim Zarkasyi, yang juga pengasuh TPA (Taman Pendidikan Alquran) Raudlatul Mujawwidin. Ahli Alquran yang juga mengenalkan konsep pembelajaran membaca Alquran melalui taman pendidikan Alquran atau taman kanak-kanak Alquran.

(Referensi pihak ketiga)

Lahir di Semarang, Jawa Tengah, 28 Agustus 1928, Dachlan belajar agama kepada para ulama ahli Alquran dan hafdiz (penghapal) Alquran baik perseorangan maupun di pondok pesantren. Mbah Nur, seorang tunanetra penghapal Quran, adalah guru pertamanya. Ia kemudian mendalami ilmu Alquran di Pondok Pesantren Taman Alquran (PPTQ) Al-Asror pimpnan Kiai Asror Ridwan di Kauman Kaliwungu, Kendal, pondok pesantren khusus Alquran. Ia juga mengikuti kajian Alquran di Masjid Kauman Semarang yang diasuh oleh Kiai Abdullah Umar. Kiai Abdullah Umar adalah seorang hafidz Alquran yang sanadnya diperoleh dari Kiai Munawir Krapyak. Kiai Umar juga belajar Alquran kepada Kiai Arwani Kudus. Kiai Umar menulis buku Qiraatu ar-Rasyidah yang membahas uraian gharib musykilat. Dari Kiai Umar, Kiai Dachlan diperkenalkan dengan Kiai Arwani Kudus yang kemudian mentashih metode Qiraati.

Awal Mula Metode Qiraati

Sehari-hari, Kiai Dachlan berprofesi sebagai pedagang perhiasan imitasi di Pasar Johar, Semarang. Sore hari setelah berdagang, ia menyelenggarakan pengajian di rumahnya bagi anak-anak yang ingin belajar membaca Alquran. Dalam perjalanan berdagang ke luar kota, ia selalu mampir ke surau-surau. Dari suatu surau, ia menyaksikan bahwa pengajaran Alquran lebih difokuskan kepada kemampuan membaca dengan lancar saja tanpa memerhatikan tajwid dan ketartilan bacaan.

Melihat keadaan tersebut, ia terinspirasi untuk membuat suatu metode yang tepat, mujawwad dan tartil dalam membaca Alquran, sehingga terciptalah buku Qiraati. Ketika bisnisnya terbilang sukses, ia menyerahkan pengelolaannya kepada orang lain sementara ia fokus pada pengajaran Qiraati.

Pertama kali Dachlan menerbitkan Qiraati Buku Penuntun Membaca Alquran pada 1963. Nama ''Qiraati'' diberikan oleh Ustadz Syukri Taufik dan Ustadz Junaedi, keduanya adalah guru SD Ma’had Islam. Saat itu Qiraati masih berupa tulisan tangan sebanyak 10 jilid yang ditulis Ustadz Muslih Mardi dan Ustad Alkaf bin Yasin. Buku Qiraati yang ada sekarang sudah melalui revisi berulang-ulang.

KH Dachlan, Pelopor Taman Pendidikan Al-Qur 'an (TPQ)

Selanjutnya ia memelopori berdirinya Taman Kanak-Kanak Alquran pada 1963, suatu lembaga pendidikan model baru dan pertama dalam pengajaran Alquran untuk kanak-kanak. Ia juga ahli baca Alquran huruf Braile, dan mengajar Alquran bagi tunarungu. Kiai Dachlan pernah membuat percobaan dalam bentuk mengajar privat muridnya yang tunarungu dan berhasil menyusun tiga jilid buku Qiraati untuk mereka yang berkebutuhan khusus ini.

Keberhasilannya dalam menciptakan metode Qraati menjadikannya sebagai seorang tokoh di dunia pendidikan Alquran. Dari dialah muncul ide Taman Pendidikan Alquran pertama di Indonesia, yang hingga sekarang ini populer di Indonesia dengan sebutan TKQ/TPQ atau TKA/TPA.

Semula ia memulai mengajarkan baca Alquran dari teras rumahnya di Jalan MT Haryono, dan pada 1986 ditingkatkan dalam bentuk kelas-kelas. Santri mulai wajib berseragam dan bersepatu. Secara perlahan, TK Alquran Raudhatul Mujawwidin memiliki gedung pendidikan yang representatif.

Saat ini, ruang kelas yang dimiliki sebanyak 27 unit. Setiap tahun lembaga itu menggelar wisuda bagi santri yang telah khatam Alquran dan lulus ujian. Kini pengajaran Alquran metode Qiraati telah meluas. Di Indonesia, terdapat perwakilan di 78 daerah. Selain itu juga ada di Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Belanda.

Sistem Metode Qiraati

Metode Qiraati menekankan pengajaran yang berorientasi kepada hasil bacaan murid secara mujawwad murattal. Santri diajarkan Qiraati secara bertahap hingga mahir benar baru pindah ke buku jilid berikutnya. Total ada enam jilid yang harus dipelajari, kemudian ditambah buku pelajaran tajwid dan gharib. Seusai belajar semua materi tersebut, santri sudah bisa membaca Alquran secara tartil.

Metode Qiraati di-tashih oleh ulama-ulama besar penghapal Alquran dan ahli Alquran di Jawa Tengah yang sekaligus guru dari Kiai Dachlan, di antaranya Kiai Arwani Kudus seorang hafizh Al-Quran pimpinan Pondok Pesantren Raudhatuth Thalibin Kudus, Kiai Abdullah Umar, pengajar kajian Alquran di Masjid Kauman Semarang, Kiai Turmudzi Taslim dari Demak yang ikut mentashih penulisan bahasa Arab pada Metode Qiraati, K.H. Ahmad bin Abdullah, K.H. Munawir Prayitno, dan K.H. Hilal Sya'ban.

Setelah metode Qiraati menyebar, dunia pendidikan Alquran (khususnya untuk anak-anak) mengalami perombakan total. Dari pola pengajaran, waktu, tempat, materi dan guru pengajarnya harus memenuhi kualifikasi tertentu jika ingin berhasil. Metode ini juga meluruskan berbagai kesalahan dalam pengajaran yang sudah dianggap benar. Menurut kiai Dachlan, “Tidak ada anak yang bodoh, yang ada guru yang tidak bisa ngajar.

Kualitas Pengajar Metode Qiraati

Sebagian besar guru masih menganggap bahwa anak adalah objek pendidikan, bukan pelaku. Padahal sebenarnya mereka adalah pelaku, yang belajar bukan yang diajar. Karena jika anak-anak sebagai pelaku, maka setiap anak memiliki kesempatan untuk bisa. Kemampuan untuk menyerap ilmu yang disampaikan para guru. Oleh karena itu, K.H. Dachlan Salim Zarkasyi menyimpulkan bahwa tidak ada anak yang tidak bisa belajar, tapi yang ada adalah guru yang tidak bisa mengajar. Karena itu jangan heran jika di lingkungan Qiraati, kualitas guru sangat diperhatikan.

Ia juga menganjurkan kepada pengajar Qiraati agar senantiasa menjaga shalat tahajud dan mendoakan santri-santrinya, sering tadarus (membaca) Alquran dengan tartil, mengajar Alquran dengan tulus ikhlas, penuh kesabaran dan kehati-hatian, memerhatikan tajwid Alquran dengan tartil dan dan menghindari ketergesa-gesaan.

K.H. Dachlan Salim Zarkasyi meninggal dunia pada 20 Januari 2001, dan dimakamkan di kota kelahirannya.

Oleh: Suryana Sudrajat

Sumber: suaramerdeka.com; qiraati.org.

0 Response to "Kiai Dachlan, Sosok Pedagang Perhiasan Imitasi Serta Penemu Metode Qiraati"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel