KH Maimoen Zubair: "Kuliah Itu Termasuk Penghalang 'Sampai' ke Allah"

Saya mendengar dari KH. Zakaria, beliau dari Romo KH. Maimon Zubair dan beliau dari Romo KH. Abdul Karim, "Kuliah itu termasuk diantara penghalang "sampai" kepada Allah SWT" ﻣﻦ ﺣﺮﻣﺎﻥ ﺍﻟﻮﺻﻮﻝ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ .

Ketika saya hendak melanjutkan kuliah saya tanyakan kepada Maulana Habib (Luthfi bin Ali bin Yahya), sejauh mana pengertian maqolah (ucapan) itu. Putra Romo KH. Maimun sendiri mengenyam pendidikan di bangku kuliah bahkan hingga tingkat doktoral di Al-Azhar Syarif, tentu maqalah yang mata rantainya kredibel itu maknanya tidak tekstual.


Beliau menjawab, ﻣﻦ ﺣﺮﻣﺎﻥ ﺍﻟﻮﺻﻮﻝ itu kalau menomor duakan guru dibandingkan kuliah. Pengertian menomor duakan juga pasti sangat luas maknanya.

Empat bulan lalu ada tiga sarjana mengadu, belum mendapatkan pekerjaan. Mereka minta saya mencarikan pekerjaan menjadi Guru walaupun gajinya 300-400 ribu.

Yang penting tidak gengsi sama tetangga, dan kalau orang tua ditanya bisa menjawab dengan jelas anaknya kerja dimana walaupun dengan gaji tidak seberapa.

Saya tidak cocok dengan logika gengsi-gengsian seperti itu. Siap digaji tidak seberapa selama bertahun-tahun menunggu rezeki nomplok diangkat menjadi pekerja tetap. Hanya demi sebuah gengsi.

Akhirnya saya tawari kerja ditempat saya. Dengan bulanan yang lebih wajar. Setelah berjalan beberapa Minggu, saya mendapat informasi satu diantaranya selalu mengeluh, seorang sarjana mengerjakan hal remeh temeh belaka, membuat SOP, bungkusi paketan dll.

Saya baru paham, ternyata pendidikan formal atau bahkan pendidikan apapun bisa menyebabkan kita terhalang dari Gusti Allah karena tidak jarang membuat kita meremehkan orang lain, meremehkan pekerjaan atau hal-hal lain karena tidak sesuai dengan ukuran gengsi seorang yang merasa terdidik.

Dia tidak paham, bahwa di dunia ini segala sesuatu bisa menjadi besar atau kecil tergantung sikap dan cara kita memperlakukannya. Pertempuran fisik dalam membela agama tidak lebih besar dari perang melawan hawa nafsu yang berlangsung terus menerus tanpa jeda.

Yang mengenalkan huruf A, B, C diruang kelas yang rusak tidak lebih kecil nilainya dari profesor yang mengajar diruang ber-ac yang dilengkapi dengan berbagai alat peraga pendidikan modern paling mutakhir.
Begitu juga dengan pekerjaan lainnya. Yang penting bukan apa pekerjaan atau apa yang dijual tapi bagaimana cara kita bekerja dan cara kita menjual.

Hampir semua dari kita suka kopi, dan dimana-mana kita temukan petani kopi, tapi tidak semua bisa menjual kopi dalam bentuk permen hingga mereknya saja bernilai 1.2 T (Rp. 1200.000.000.000) yaitu Kopiko, belum termasuk nilai visibilitas dan captive marketnya.

Banyak makanan tradisional yang kita kenal turun temurun, jika ditangani oleh orang yang bisa melakukan suatu pekerjaan dengan cara terbaik, tempe, kripik singkong, dan cincau bisa bernilai hingga Triliunan rupiah.

Ilmu seharusnya tidak menjadikan kita angkuh dan congkak tapi lebih bisa menghargai apapun dan siapapun. Jika tidak, bukan hanya semakin jauh dari rezeki tapi ilmu juga semakin menjauhkan kita dari Tuhan.

Oleh: Ahmad Tsauri

Jangan Lewatkan Bacaan Ini

0 Response to "KH Maimoen Zubair: "Kuliah Itu Termasuk Penghalang 'Sampai' ke Allah""

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel