Biografi Gus Ya'qub, Putra Hadhratussyeikh Hasyim Asy'ari

Nama KH Ya'qub Hasyim atau dikenal dengan sebutan Gus Ya'qub dijajaran putra putri Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari memang kurang terkenal di banding yang lain. Beliau adalah putra terakhir Yai Hasyim Asy'ari dari pasangan Bu Nyai Masruroh. Istri terakhir Hadratussyaikh ini, melahirkan Bu Nyai Khodijah Hasyim, Gus Abdul Kadir Hasyim, dan yang terakhir Gus Ya'qub Hasyim.

(Berziarah di makam Gus Ya'qub - Tebuireng/Facebook)

Beliau dilahirkan pada tahun kewafatan Hadratussyaikh, yakni tahun 1366 H atau 1947 M. Jadi beliau menangi (menjumpai) abahnya di waktu bayi, itupun hanya beberapa bulan saja. Selanjutnya Gus Ya'qub kecil ini diasuh oleh ibunya dan saudara tertua beliau, Bu Nyai Khodijah Hasyim.

Beliau tumbuh di keluarga yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan agama. Tebuireng adalah salah satu sumber ilmu di kala itu. Memang Gus Ya'qub sudah memiliki keanehan dari waktu kecilnya. Beliau melakukan hal hal yang kurang wajar yang biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya.

Masa belajar beliau hanya dihabiskan di Tebuireng. Belajar otodidak adalah salah satu cara belajarnya. Dengan banyak membaca dan belajar sendiri. Tetapi jika beliau tidak faham dengan kitab yang dipelajarinya, beliau pergi ke makam abahnya. Dan membanting kitabnya, sembari mengucap; "Yai, pie iki kitabe?". Mungkin karena beliau termasuk orang yang dekat dengan sang Kholiq, Allah membuka hijab antara Gus Ya'qub dan Kyai Hasyim, sehingga dapat berkomunikasi layaknya orang yang masih hidup. Keistimewaan seperti ini hanya diberikan kepada kekasihnya Allah, seperti Gus Dur yg kononnya bisa berkumunikasi dengan yg sudah wafat.

Gus Ya'qub juga sering menyendiri di kamar pojok, sebelah maqbaroh. Dan di dalamnya terdengar suara tanpa rupa. Konon katanya suara tersebut adalah KH Hasyim Asy'ari, yang sedang mengajari Gus Ya'qub.

Dia sering keluar rumah, hanya memakai celana pendek dan kaos yang sudah lusuh. Memang para kekasih Allah lebih mengutamakan kehidupan di Akhirat nanti, dengan memperbanyak amal solih, daripada kehidupan di dunia yg fana ini. Pakaian pun gus Ya'qub tidak mengurusnya, yang terpenting dalam diri beliau adalah kedekatan dan ketakwaan kepada Allah.

Allah tidak memandang jasad, bentuk, dan pakaian seseorang tetapi Allah memandang hatinya dan ketakwaannya. Gus Ya'qub itu lebih suka berjalan kemana-mana dengan sepedanya, daripada berdiam diri di rumah. Sehingga keluarga beliau mengkhawatirkan atas diri beliau. Keluarga Ndalem memerintahkan salah satu santri untuk mengikuti di mana gus Ya'qub pergi.

Sebagai pribadi yang berilmu, beliau memiliki tanggung jawab untuk mengamalkan ilmu yang diperolehnya, oleh karena itu beliau pernah mengajar kitab Bulughul Marom, tetapi karena beliau sangking fana'nya terhadap Allah, mengajarnya pun dengan seenaknya saja. Walaupun demikian tak sedikit santri beliau yang jadi (alim). Karena hakikatnya ilmu itu bisa diterima oleh santri, dengan keikhlasannya guru. Dari hati akan sampai ke hati pula. Orang yang mengajar dengan hati yang ikhlas, hasilnya pun akan berbeda dengan orang yang mengajar tanpa didasari hati yang ikhlas.

Menurut sebagian riwayat, jika ada santri yang tidak mengikuti pengajiannya, tidak segan segan beliau menampar santri tersebut. Tamparan ini berbeda dengan tanparan biasa. Tanparan guru itu untuk mendidik bukan bermaksud untuk menyakiti. Para Kyai kyai yang memarahi santrinya, menta'zir, menampar, semuanya itu tidak dilakukan kecuali karena hanya Allah semata, dan menginginkan santrinya mempunyai ahlak yang baik.

Diceritakan juga bahwa Gus Ya'qub pernah suatu hari mengajar Bahasa Inggris, padahal kenyataannya beliau tidak pernah belajar bahasa inggris. Mungkin ini adalah salah satu ilmu laduni, yang tak sembarang orang bisa mendapatkannya. Yang mendapatkannya hanyalah Orang yang diistimewakan oleh Allah.

Orang yang dekat dengan sang pencipta akan mencurahkan segala tenaganya untuk mengabdi kepadaNya. Sehingga ia akan menyelami lautan kenikmatan ibadah kepada Allah. Karena sangking nikmatnya beribadah dan cintanya kepada Allah, mereka di tarik akalnya oleh Allah. Dan semua perbuatannya dibawah qudroh dan pengawasannya Allah.

Orang orang seperti itu adalah yang sering kita sebut dengan Jadzab atau Majdzub. Orang Jadzab terkesan gila oleh pandangan dohir kita, tetapi mereka disisi Allah adalah orang yang sangat tinggi derajatnya dan dekat denganNya.

Jadzab menurut Ulama Sufi memiliki bermacam macam pengertian yang luas. Salah satunya yang dikemukakan oleh Imam Diya'uddin An Naqsyabani dalam kitabnya, Jamiul Ushul fi Al-Aulia:

ﻭَﺍﻟْﻤَﺠْﺬُﻭْﺏُ ﻓِﻰ ﻗَﺒْﻀَﺘِﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺑِﻤَﻨْﺰِﻟَﺔِ ﺍﻟﺼَّﺒِﻲِّ ﺍﻟﺮَّﺿِﻴْﻊِ، ﺗَﺘَﺼَﺮَّﻑُ ﻓِﻴْﻪِ ﻳَﺪُ ﺍﻟْﻘُﺪْﺭَﺓِ ﻛَﺘَﺼَﺮُّﻑِ ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﺓِ ﻓِﻰ ﻭَﻟَﺪِﻫَﺎ . ‏( ﺟﺎﻣﻊ ﺍﻷﺻﻮﻝ ﻓﻰ ﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ )

"Majdzub adalah orang yang ada dalam genggamannya (kekuasaannya) Allah, seperti anak kecil dalam asuhannya ibunya. Segala sesuatu yang dilakukan mereka itu dalam kekuasaannya Allah yang maha kuasa. Seperti asuhannya ibu kepada anaknya".

Jadi orang yang sedang Jadzab akalnya dikendalikan oleh kekuasaan Allah.
Ada yang mengatakan bahwa Gus Ya'qub adalah seorang wali Jadzab, memang benar pernyataan tersebut. Dalam keseharian beliau, banyak terjadi keanehan dalam perilaku, ucapan, tindakannya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Gus Zaki;

"Ya, Gus Ya'qub yang sehari bisa habis 7 bungkus rokok, yang bisa menghidupkan segala jenis kendaraan dengan kunci apa saja, yang terkadang tidur 10 jam sehari, yang membuat besi menjadi lembek, yang dawuhnya terkadang perlu juru tafsir untuk memahaminya, yang terkadang telanjang, yang Gus Dur segan kepada beliau"

(Silsilah Gus Ya'qub/Facebook)

Dari ungkapan gus Zaki tersebut kita bisa tarik kesimpulan bahwa gus Ya'qub sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Karena sangking fana'nya beliau kepada Allah.

Walaupun begitu, pihak keluarga juga menginginkan Gus Ya'qub normal saja, tidak Jadzab. Karena sering membuat pihak keluarga khawatir terhadap beliau, juga orang lain. Pihak keluarga berencana untuk menyowankan Gus Ya'qub kepada seorang wali yang masyhur, yaitu Mbah Hamid Pasuruan, guna untuk menyadarkan gus Ya'qub dari Fana' yang berlalu. Karena Mbah Hamid juga seorang wali, beliau memiliki keistimewaan yaitu bisa weruh sedurunge winarah. Sebelum keluarga memberangkatkan gus Ya'qub, Mbah Hamid malah sudah datang ke Tebuireng. Niat untuk menyowankan pun gagal, karena kerawuhan Mbah Hamid. Dari kerawuhan Mbah Hamid ini menandakan bahwa Gus Ya'qub memiliki tingkatan yang tidak rendah. Hubungan bathiniyah wali dengan wali yang lain itu sangat erat sekali.

Dakwah itu tidak terbatas dengan mengajar di dampar pesantren, di masjid, sekolahan, tapi juga di pasar, pabrik, sampai di kancah politik, perlu juga di dakwahi. Tak jarang pula, para kyai mengikuti parpol. Karena juga politik perlu didakwahi. Putra putri Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari tak sedikit yang mengikuti parpol, seperti KH. Karim Hasyim masuk di Golkar, KH. Kholiq Hasyim mendirikan partai AKUI, KH. Yusuf Hasyim mendirikan partai PKU, Gus Dur mendirikan partai PKB, Gus Ishom masuk di partai PPP, dan lain sebagainya. Dalam hal ini menunjukkan duriyah Hadratussyaikh banyak berkiprah dakwah di dunia luar. Politik sejatinya adalah kotor, tetapi jika tidak diduduki oleh orang yang baik, selamanya akan kotor.

Berpolitik adalah wasilah, maqosidnya adalah kebijakan yang maslakhah kepada halayak umum. Dengan niat yang benar berpolitklik juga akan mendapatkan pahala. Begitu pula Gus Ya'qub, tak tertinggal, beliau pun pernah menduduki kursi DPRD Jombang. Menurut sebagian riwayat, ketika Gus Ya'qub menjabat sebagai DPRD di Jombang, Beliau biasa menggunakan motor dan bercelana pendek, untuk pergi ke Jombang.

Seorang wali juga memiliki ilmu yang tidak dimiliki orang biasa, yaitu ilmu weruh sedurunge winarah. Apakah ini mendahului kehendak tuhan? Tentu tidak. Karena dalam kurikulum perwalian seorang wali tidak boleh memberikan kabar masa depan dengan bahasa yang sorih, tetapi harus dengan kinayah atau Isyarat. Ini juga dipraktekan Gus Ya'qub, beliau sering ngendikan dengan bahasa Isyarat yang sulit dipahami. Seperti pengakuan salah satu santri Tebuireng dulu, ketika santri tersebut bertemu Gus Ya'qub di jalan, beliau sambil bernyanyi nyanyi "Darah mengalir sampai jauh". Tak lama kemudian terjadi peristiwa pembunuhan para dukun santet yang sempat ramai di seluruh Jatim.

Setiap jiwa pasti akan merasakan pedihnya mati. Tapi, apakah kematian kita ini akan menyebabkan sedihnya orang yang masih hidup, atau menyebabkan kegembiraan? Semua itu kembali kepada diri kita masing-masing. Apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Sehingga kehadirannya dirindukan orang banyak. Kematian adalah hal pasti. Maka, mari persiapkan untuk menyongsongnya. Ada kematian yang membuat alam semesta ini sedih, yaitu matinya para kekasihnya Allah.

(Makam Gus Ya'qub/Facebook)

Pada tahun 1998 M atau 1419 H, sekitar berumur 51 tahun. Gus Ya'qub adalah salah satu dari sekian banyak walinya Allah di panggil kehadirat yang kuasa. Langit bumi, malaikat, masyarakat, santri merasa sedih dengan kepergiannya Gus Ya'qub. Beliau dimakamkan di pemakaman Masyayikh Tebuireng. Semoga Allah mengampuni seluruh dosanya, dam menempatkan beliau pada derajat yang tinggi. Amien...

*Jika menemukan kesalahan, mohon dikoreksi

[Khodim Fordisaf ]
Tebuireng, 6 Desember 2018

0 Response to "Biografi Gus Ya'qub, Putra Hadhratussyeikh Hasyim Asy'ari"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel