Sayyid Al - Maliki, Aswaja Dan Saudi

Gambar Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani sering ditemui di tembok rumah keluarga santri di Indonesia. Mengenakan sorban putih melingkari kepala bagian atas. Kadang ditambah imamah hijau menutup kepala bagian belakang. Meski beliau bermukim di Makkah Al-Mukarramah, saya belum pernah menemukan potretnya mengenakan sorban dengan motif kotak-kotak merah-putih yang menjadi ciri khas Kerajaan Arab Saudi dan dikenakan kibarul ulama -nya seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.

(Sayyid Muhammad Al-Maliki dan Maulana Habib Luthfi bin Yahya)

Nama dan gelarnya yang panjang sering disingkat Sayyid Al-Maliki saja. Meskipun terkesan rancu karena kakek dan ayahnya juga bernama Al-Maliki merujuk tradisi keilmuan mereka yang bermadzhab Maliki. Kakeknya, Sayyid Abbas Al-Maliki, adalah mufti Makkah di era Khilafah Utsmani yang kala itu menganut Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) menurut Madzhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali). Banyak ulama besar dari Hindia Belanda yang berguru padanya, salahsatunya yang terkenal adalah Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Meski akhirnya Makkah dan Madinah diinvasi Kerajaan Nejed yang memaksa paham tunggal Wahabi di seluruh negeri yang dikuasainya, klan Al-Maliki tetap dihormati dengan tetap diberi ruang mengajar di Masjidil Haram dan diminta fatwanya oleh Kerajaan. Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki yang meneruskan jejak ayahnya konon menjadi kepercayaan Raja Faisal bin Abdul Aziz Al-Saud untuk wilayah Makkah.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki lahir tahun 1946. Keluarga besarnya selain bergelar Al-Maliki yang merujuk tradisi ulama madzhab Maliki, juga bergelar Al-Hasani yang menandakan keturunan Rasulullah Muhammad SAW melalui nasab Imam Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Sayyid Al-Maliki pertama kali menutut ilmu pada ayahnya sendiri di Makkah lalu berlanjut ke ulama-ulama lain di seantero Timur Tengah, Afrika Utara, bahkan Anak Benua India. Sambil mengikuti taklim yang tradisional, beliau juga menempuh kuliah formal hingga tingkat doktoral di Universitas Al-Azhar, Mesir, dan lulus dengan predikat mumtaz (cumlaude ) dalam usia 25 tahun. Gelar Profesor ilmu hadits beliau dapatkan di Universitas Ummul Qura, Makkah, sekitar setahun setelahnya.

Penguasaan ilmu yang luas dan kepiawaian menulis membuat Sayyid Al-Maliki menulis banyak kitab jempolan. Mulai kitab yang ringan semacam Al-Insan Al-Kamil tentang biografi ringkas Nabi Muhammad SAW, sampai yang kelas berat, yaitu
Mafahim Yajibu An Tushahah tentang pembelaan terhadap paham Aswaja tradisional dari label bidah Wahabi.

Serangan balik yang dilakukan Sayyid Al-Maliki rupanya meresahkan
kibarul ulama Kerajaan. Dengan segala cara, majelis taklim Sayyid Al-Maliki ditiadakan di Masjidil Haram karena dianggap bidah dan musyrik oleh Kerajaan sehingga beliau menyingkir ke Mahad Rushaifah yang didirikannya di pinggiran Makkah. Padahal yang beliau lakukan tak lebih usaha mengembalikan keberagaman madzhab dalam Aswaja yang selama puluhan tahun dikekang Kerajaan yang menerapkan paham tunggal Wahabi.

Banyak santri dari Indonesia yang umumnya pengikut madzhab fiqih Syafii belajar di Rushaifah meski Sang Guru Sayyid Al-Maliki adalah penerus madzhab Maliki. Kesamaan madzhab aqidah Al-Asyariyah rupanya menyatukan mereka. Juga pembelaan Sang Guru terhadap amalan tradisi Aswaja seperti Maulid Nabi Muhammad SAW dan Ziarah Waliyullah yang masih lestari di Nusantara menjadikan Sang Guru sebagai rujukan utama. Di Rushaifah santri bebas membaca Qasidah Barzanji bersama-sama meski di luar mahad perbuatan itu dilarang Kerajaan.

Masih terngiang di ingatan saya, cerita orang-orang tua tentang keberagaman madzhab di Masjidil Haram saat shalat berjamaah. Setiap sisi Kakbah yang berjumlah empat memiliki imamnya sendiri, masing-masing untuk madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Karena Masjidil Haram milik semua umat Islam di dunia meski di sekitar situ mayoritas bermadzhab Maliki. Berdirinya Kerajaan Arab Saudi menjadi akhir keberagaman itu. Kini hanya ada satu imam yang memimpin shalat berjamaah di Masjidil Haram. Mengikuti madzhab Hambali yang diklaim sebagai madzhab paling sunnah oleh kelompok Wahabi.

Perjuangan Sayyid Al-Maliki memang belum usai meski dikabarkan pernah memenangi perdebatan masalah agama dengan kibarul ulama yang disiarkan televisi setempat. Hingga akhir hayat beliau tahun 2004 Arab Saudi tetap berpaham tunggal Wahabi. Entah karena menolak kebenaran yang ilmiah karena ngotot dengan argumentasinya sendiri, atau jangan-jangan karena solidaritas kesukuan karena paham Wahabi dan Kerajaan Nejed yang menjadi cikal-bakal Arab Saudi berasal dari wilayah yang sama di pedalaman Jazirah Arab.

Sempat ada berita bila Kerajaan mulai melunak terhadap amalan Aswaja, Maulid Nabi, dan akan menjadikannya libur nasional pada 30 November 2017. Juga sempat beredar video pria seperti Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud yang ikut membaca kitab maulid bersama Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri dari Yaman yang menggemparkan dunia maya dan mendapat simpati dari kalangan Aswaja yang kurang teliti. Ternyata semua itu hoax belaka.
Wallahu Alam Bishawab ..

Oleh: Muhammad Musleh

https://indonesiana.tempo.co/read/129329/2018/11/21/muhammadmusleh.1/sayyid-al-maliki-aswaja-arab-saudi

0 Response to "Sayyid Al - Maliki, Aswaja Dan Saudi"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel