(Prabowo) Kena Batunya

Prabowo keseleo lidah? Tidak. Ketika meresmikan Badan Pemenangan Prabowo-Sandi di Boyolali 30/10/2018 lalu dia terlalu bersemangat. Dia menunjukkan adanya ketimpangan kaya miskin dengan orang Boyolali sebagai contoh. Orang Boyolali digambarkan sebagai pihak yang belum sejahtera. Kalau masuk hotel di Jakarta, katanya, bisa-bisa ditolak karena tampang Boyolalinya. Ucapan itu disampaikan dalam lingkup terbatas, diantara para pendukungnya.

Ilustrasi lidah/kompasiana.com

Ternyata masyarakat Boyolali tersinggung dan Minggu 4/11 mengadakan pawai memprotes ucapan calon presiden nomor 2 tersebut. Pawai diikuti pula oleh bupati dan ketua DPRD serta sejumlah pejabat. Bupati Seno Samodro bahkan meminta rakyatnya untuk tidak memilih pasangan capres/cawapres nomor 2, Prabowo/Sandi. Bukan hanya itu, masyarakat juga melaporkan Prabowo ke polisi.

Kalau melihat narasinya dan ruang lingkup dia bicara sebenarnya tidak ada yang salah. Tapi ini masa kampanye apapun bisa dipelintir oleh mereka yang berkepentingan lain.

Ini persis seperti kasusnya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) saat berpidato di Pulau Seribu. Dia menyinggung salah satu surat dalam Alquran. Narasinya bukan untuk menghina salah satu agama, tapi oleh pihak lawan digoreng sedemikian rupa sehingga pidato Ahok menjadi penistaan agama. Jutaan orang turun ke jalan, demo berbau SARA berjilid-jilid dan kegaduhan tak terhindarkan.

Kebetulan saat itu dalam masa kampanye pilkada di mana Ahok menjadi salah satu calon. Kasus ini pun dijadikan alat kampanye pihak lawan. Bukan itu saja Ahok juga diseret ke pengadilan. Siapa saja di belakang mereka semua tahu. Saat itu Prabowo tengah sakit hati pada Ahok karena keluar dari Gerindra. Negeri ini nyaris terbelah oleh sikap antipersatuan, intoleran dan semacamnya.

Kedua kasus di atas sama, semua berawal dari pidato yang baik-baik saja tapi kemudian diperluas oleh mereka yang berkepentingan untuk menjatuhkan lawan apalagi menjelang pemilu/pilpres.

Dalam masa kampanye orang selalu mencari celah kelemahan lawan. Semestinya itu diisi dengan rencana besar yang ditawarkan kepada rakyat. Indonesia negara besar, banyak yang harus dikerjakan untuk kesejahteraan rakyat. Tapi akal sehat sering dikesampingkan, sebab tidak punya konsep. Jadinya ya... asal ngomong. Bukan rencana besar yang ditonjolkan tapi caci maki.

Harus diakui Prabowo beberapa kali blunder dalam menyampaikan pendapat. Misalnya, Prabowo melempar isu 99 persen rakyat Indonesia miskin. Kalau benar mana mungkin jalan-jalan di kota dan desa penuh kendaraan roda dua dan empat. Ini indikator kemakmuran. Dia juga bilang Indonesia tahun 2030 bakal bubar, tapi tidak didukung data dan alasan yang masuk akal.

***
Contoh asal bunyi yang lain, Jokowi menggratiskan biaya tol di jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) untuk semua jenis kendaraan. Dulu sepeda motor pun kena tol, lantas oleh Jokowi dihapus tinggal kendaraan roda empat yang bayar. Tapi sekarang dihapus semua. Komentar yang muncul, kebijakan itu hanya untuk pencitraan menjelang pilpres. Wakil Ketua DPR Fadli Zon (Gerindra) bahkan menantang Jokowi untuk menggratiskan tol Jagorawi (Jakarta, Bogor, Ciawi) yang merupakan tol pertama di Indonesia.

Untuk menandingi Jokowi, Cawapres Sandiaga Uno berjanji untuk menggratiskan semua jalan tol yang sudah selesai masa konsesinya. Sekarang ini jalan tol dibangun oleh investor karena menjanjikan keuntungan. Sebagai imbalan investor boleh memungut ongkos tol selama sekian waktu sesuai perjanjian.

Lha gimana caranya menggratiskan, wong jalan tol yang dibangun sekarang masa konsesinya sampai 30 tahun, memang mau jadi wapres seumur hidup. Ini kan janji kosong.
Jokowi belum banyak mengemukakan rencananya, dia fokus kerja saja. Bagi petahana, kerja itu kampanye juga. Dari hasil kerjanya selama ini lawan politik kesulitan mencari celah negatifnya.

Entah mengapa konco-konco Prabowo ini kebanyakan dari parpol yang bermasalah. Mantan Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaaq dihukum 16 tahun karena korupsi daging sapi, Partai Demokrat semasa berkuasa menteri-menteri dan pejabatnya banyak masuk penjara. Proyek-proyek pada masanya banyak yang mangkrak. PAN kini menunggu nasib. Relatif hanya Gerindra yang masih bersih, dia seperti masuk perangkap.

Prabowo dibiarkan sendiri menghadapi gugatan rakyat Boyolali. Kasihan, partainya bersih, hatinya bersih tapi lingkungannya tidak bersih. Kini dia kena batunya.

Oleh: Pramono BS

http://banjarmasin.tribunnews.com/amp/2018/11/11/kena-batunya

0 Response to "(Prabowo) Kena Batunya"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel