Kursi Goyang

Tahun 2016, kursi goyang antik (kuno) milik pak kiai rusak bagian landasannya. Kemudian menyuruh santri untuk membawa kursi tersebut ke tukang kayu untuk diserviskan.

Sore harinya ada seorang pedagang mebel keliling menyeret gerobak yang isinya meja, kursi, bangku, dan kursi goyang, yang lewat di depan pesantren, lalu istirahat di mushala untuk shalat ashar. Selesai ngaji kitab tanbihul ghafilin yang dilaksanakan tiap ba'da ashar, pak kiai melihat kursi goyang di atas gerobak tadi. Kemudian menyuruh santri untuk menanyakan harganya kalau penjualnya sudah selesai shalat.

(Kursi goyang kuno/Facebook)

Singkat cerita, si santri melaporkan kepada pak kiai bahwa kursi goyang itu harganya 850.000. Lalu pak kiai memberi uang 1.050.000 (satu juta lima puluh ribu) rupiah kepada santri untuk membayar kursi goyang tersebut, sambil titip pesan kepada penjual kursi tersebut untuk membaca shalawat Syifa' 313 kali setiap malam, insya Allah anaknya bisa segera sembuh. Penjual kursi seketika meneteskan airmata sambil mengucapkan “Terimakasih ya Allah, akhirnya petang ini saya bisa mendapatkan uang sesuai kebutuhan saya untuk dibayarkan ke rumah sakit”, lalu bergegas meninggalkan mushala.

Dua minggu berlalu, saya disuruh bu nyai untuk mengantarkan kopi untuk pak kiai yang saat itu sedang membaca kitab sambil duduk santai di kursi goyang kuno yang sudah selesai diserviskan. Setelah selesai antar kopi, saya mau ke depan tapi malah disuruh duduk di kursi goyang yang baru untuk menemani pak kiai.

“Kang, mergo kursiku wis dadi, ngko bar isya' kursi kui balekno karo wenehno wong sing dodol kursi kui yo! Sampean weruh omahe toh?”
(Kang, karena kursi saya sudah jadi, nanti ba'da Isya' kursi itu kembalikan dan kasihkan orang yang menjual kursi itu ya! Kamu tahu rumahnya kan?)
Begitu pak kiai membuka pembicaraan.

Selesai shalat isya', saya ajak seorang teman untuk antar kursi tersebut. Sesampainya di rumah penjualnya, saya dan teman disambut oleh anak kecil berumur sekitar 10 tahun dan kemudian saya bertanya bapaknya ada di rumah apa tidak, anak itu menjawab ada, dan langsung masuk ke dalam memanggil bapaknya. Tak ada 2 menit, bapak itu keluar dan menemui kami. Lalu kami utarakan maksud kedatangan kami sesuai pesan dari pak kiai. Lagi-lagi bapak itu menangis dan menjelaskan bahwa baru saja ingin berangkat sowan kepada pak kiai sekaligus ingin menitipkan anaknya yang dulu sakit dan dirawat di rumah sakit yang sudah ditolong oleh pak kiai, untuk bisa belajar ngaji di pesantren pak kiai. Maka tak lama kemudian kami (saya, teman, bapak & anak itu) pun berjalan menuju pesantren.

Sesampainya di pesantren dan menghadap pak kiai, bapak tersebut mengutarakan niatnya. Pembicaraan malam itu penuh kehangatan bahkan pak kiai juga memberi penjelasan mengenai kursi goyang itu mengandung makna. Kursi bergoyang ke belakang, ke depan, ke belakang, ke depan maksudnya bahwa sebuah kursi yang tengah kita duduki (jabatan) bisa saja bergoyang atau digoyang orang lain. Dalam arti harfiah, kursi goyang membawa kenikmatan yang menduduki. Tetapi kursi goyang jenis kedua membikin pusing. Usaha untuk bertahan, agar goyangan bisa ditahan, sangat makan tenaga, dan pikiran. Bahkan juga uang. Maju mundur itu ibarat iman seseorang yang kadang maju (baik) kadang mundur (buruk), kadang stabil. Hidup ini meminta kita untuk lebih terampil mencari keseimbangan antara kepentingan diri dengan kepentingan orang banyak, dan antara nafsu dengan ketundukan. Selama ambisi, dan nafsu kita belum pernah ikut bersama kita untuk belajar tunduk, patuh, dan menyerahkan diri, selama itu mungkin kita akan merasa tetap terancam.

Damai dengan orang lain belum tentu bisa membawa rasa damai dalam diri kita. Tetapi bila pada intinya kita mulai terampil berdamai dengan diri kita sendiri, maka dengan dunia yang luas ini kita bisa mengibarkan panji-panji perdamaian. Maka, kursi goyang biarkan bergoyang, yang penting, jiwa kita, batin kita, iman kita, stabil. Orang boleh menjadi prajurit, atau ksatria, boleh menjadi raja agung, menjadi petani, buruh, tukang cendol, tukang rujak, menteri, presiden atau camat. Tetapi pada saat yang sama orang wajib pula menjadi brahmana yang tahu hidup ini apa dan untuk apa.

Akhir kata, kursi goyang itu berpindah tempat juga. Dari rumah penjual ke pesantren lalu kembali ke rumah penjualnya, dan kemudian berpindah ke rumah saya.

Oleh: Abdir Rahman

0 Response to "Kursi Goyang"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel