Ketika Muhammadiyah Harus Tunduk Pada Mbah Amien Rais

Mbah Amien Rais, seorang yang pernah disebut tokoh reformasi pada 1998 yang kini justru mendukung mati-matian anak petinggi Orba menjadi Presiden di 2019 (Prabowo anak Soemitro, menteri Soeharto) bersama-sama dengan anak Soeharto (Tommy Soeharto, Titiek Soeharto), kembali menjadi sorotan. Politisi PAN yang belum lama ini diperiksa Polda Metro Jaya karena kasus hoax Ratna Sarumpaet itu dengan gagahnya di hadapan wartawan mengatakan ingin menjewer Haedar Nashir, Ketum PP Muhammadiyah periode 2015-2020 karena tidak dukung Prabowo.


Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Muhammadiyah, beberapa hari yang lalu Haedar Nashir menegaskan sikap organisasinya yang tidak ikut dalam politik praktis, dukung mendukung parpol atau capres dan cawapres tertentu. Haedar bahkan membebaskan warga Muhammadiyah untuk memilih Jokowi-Amien / Prabowo-Sandi, karena yang terpenting adalah persatuan masyarakat. Sikap yang diapresiasi oleh hampir seluruh warga Muhammadiyah.

Namun begitu, Amien Rais yang terdaftar dalam Badan Pemenangan Prabowo-Sandi justru geram dan menentang sikap Haedar. Ia ingin Ketum Muhammadiyah mengeluarkan fatwa agar kadernya memilih capres tertentu (tentu saja Prabowo).

Kenapa Mbah Amien sangat ngotot? Tentu saja, Amien kini merasa malu, di BPN Prabowo-Sandi, Amien bisa mendapat posisi dan seolah menjadi ‘tokoh” karena bargainnya selama ini, yaitu Amien bisa mengatur dan mengarahkan suara Muhammadiyah yang diklaim memiliki 30 juta anggota di seluruh Indonesia.

Mbah Amien, sosok yang juga terkenal akan pernyataan “partai setan dan partai Allah”, (yang dukung Jokowi disebut partai setan) kini tengah menahan malu karena faktanya ia sudah tidak menjadi panutan Muhammadiyah, dan sekarang ngotot berusaha membuat Muhammadiyah tetap menuruti semua keinginannya.

Di depan wartawan, bapak dari Hanum Rais ini mengingatkan, kalau tahun 1998 ia dipilih menjadi Ketum Muhammadiyah dengan suara 98,5% yang artinya legitimasinya tinggi, sehingga kini ia merasa boleh menilai Haedar Ketum yang keliru. Amien pun tak lupa memberi label: Muhammadiyah konyol dan Muhammadiyah Sontoloyo karena di 2019 memilih sikap netral.

Bukannya mendapat dukungan, sikap sang Kakek ini justru mendapat perlawanan dari sayap organisasi Muhammadiyah terbesar, yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Ketum IMM Najih Prasetyo justru menyebut Amien keluar dari khitah / cita-cita dan kesepakatan seluruh warga Muhammadiyah bahwa Muhammadiyah berbeda dengan parpol, sehingga tidak boleh ada penyeragaman pilihan politik baik di Pemilu atau Pilpres. Khitah tersebut digagas tahun 1971 di Makassar dan kembali dikukuhkan pada Tanwir Muhammadiyah tahun 2002 di Bali.

Lebih lucunya sikap kakek Amien, dikomentari Abdul Mu’ti, Sekjen PP Muhammadiyah yang menunjukkan Amien ingkar terhadap dirinya sendiri. Saat menjadi Ketum Muhammadiyah, Amien mengeluarkan 5 doktrin Muhammadiyah dan pada doktrin ke lima ditegaskan bahwa: Muhammadiyah tidak boleh berpolitik praktis.

Amien kini telah ditinggal para 'penyembahnya' mulai dari anak-anaknya yang kini semua menjadi caleg PAN, namun setiap hari menjadi olok-olokan di medsos (menyebut Ratna Sarumpaet Cut Nyak Dien padahal hoax), hingga mesin uangnya Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan yang baru saja ditangkap KPK karena korupsi dana alokasi khusus di Kebumen Jawa Tengah, tengah mencari para penyembah baru dan kini ia menginginkan Muhammadiyah jadi menyembahnya.

Ngawur saja mbah!!!

Jadi, kalian warga Muhammadiyah, masih mau menuruti syahwat politik kakek Amien Rais?


Oleh: Rofiq Al Fikri (Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu / JAMMAL)

https://indonesiana.tempo.co/read/129334/2018/11/21/fikrirofiq69/muhammadiyah-yang-harus-tunduk-kepada-amien-rais

0 Response to "Ketika Muhammadiyah Harus Tunduk Pada Mbah Amien Rais"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel