Dua Tokoh Nasional Yang Sama-Sama Pernah Menjabat Menteri Agama

Tahun 1939, kereta api merapat di stasiun Jombang. Situasi stasiun tak terlalu ramai. Eropa tengah tergoncang tahun pertama Perang Dunia Kedua. Proklamasi kemerdekaan Indonesia masih enam tahun lagi. Keadaan Jombang baik-baik saja. Tenang dan normal.

Anggota aktif Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah itu keluar dari gerbong kereta. Pandangannya mengitari area stasiun, mencari seseorang. Seseorang dari Tebuireng yang dalam surat akan menjemputnya. Ditelusuri dengan pandangannya, orang yang dimaksud ternyata ada.

(2 Tokoh Nasional, KH Saifudin Zuhri dan KH Wahid Hasyim)

Seorang pemuda. Kulitnya putih, wajahnya tampan. Tubuhnya padat berisi dan sedikit pendek. Sangat sulit menilai jika orang yang menjemputnya ini adalah seorang santri atau dulunya seorang santri, karena pakaiannya tidak mencerminkan itu. Tidak mengenakan sarung dan blangkon. Tetapi peci putih ala Jawaharlal Nehru dan celana panjang. Tampilan yang terlalu modis dan modern tentu saja pada era itu.

“Ahlan wa sahlan, marhaban… ahlan.. ahlan,” kata sambutan meluncur sambil menjabat tangan erat. Si tamu tidak kalah ramah menyalaminya.

Keduanya baru kali itu bertemu setelah hanya bertegur sapa lewat surat. Sudah barang tentu keduanya menyebutkan nama masing-masing. Basa-basi memperkenalkan diri sekalipun sudah tahu sama tahu.

“Saifuddin Zuhri,” kata si tamu sambil terus menjabat.

Orang yang menyalami membalas, “Wahid Hasyim.”
Iya, dia adalah KH. Wahid Hasyim, ayah KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Zuhri lantas diantarkan Wahid keluar dari stasiun. Lengan Zuhri dipegang begitu erat, seolah Wahid takut Zuhri akan melarikan diri. Tangan Wahid yang lain menjinjing koper Zuhri. Keduanya langsung menuju jalanan depan stasiun. Di sana sudah menunggu delman milik Wahid. Setelah naik dan memastikan tidak ada yang tertinggal, keduanya menuju Pondok Pesantren Tebuireng.

Sepanjang perjalanan, Wahid bercerita banyak sekali kisah lucu di pesantren. Zuhri mendengarnya dengan antusias dan bisa mengikis rasa letih dalam perjalanan.

“Suasana jadi akrab sekali, seakan-akan kami dua orang sahabat yang telah lama berkenalan,” tulis Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2007: 140).

Sayangnya, cerita yang mengasyikkan dari Wahid ini tidak masuk semuanya ke pikiran Zuhri. Ada perasaan sungkan dan minder karena di hadapannya disadari benar adalah orang besar. Meskipun orang di hadapannya itu baru berusia sekitar 25 tahun, selisih sekitar 5 tahun lebih tua dari Zuhri, tetapi Zuhri sadar bahwa “Gus” yang jadi teman bicaranya adalah anak dari seorang kiai paling dihormati di tanah Jawa. Itu membuat Zuhri tidak bisa sepenuhnya menikmati percakapan.

“Dalam fantasiku, orang besar mestilah memperlihatkan mahal senyum. Kalau bicara dihemat. Perhatiannya dipusatkan kepada dirinya bukan kepada yang diajak bicara,” terang Zuhri. “Tapi orang yang satu ini tidak demikian. Pusat perhatiannya ditujukan kepadaku, orang kecil.”
Entah mimpi apa Zuhri sebelumnya, hari itu ia satu delman dengan orang yang diam-diam ia kagumi.

Mendekati Pesantren Tebuireng, dalam hati penuh syukur, Zuhri bisa diberi kesempatan mengunjungi salah satu pesantren yang termasyhur ini.

Begitu sampai, Wahid Hasyim menganjurkan Zuhri untuk istirahat sejenak, “Minumlah dulu, nanti aku antarkan menghadap Hadratus Syaikh.”
Yang dimaksud tentu saja sang ayah, KH. Hasyim Asy’ari. Mendengar akan menghadap Maha Guru, suasana hati Zuhri bercampur antara girang dan tegang. Gembira sekaligus takut. Orang yang akan jadi legenda itu akan ia temui langsung dan berhadap-hadapan. Sudah barang tentu merasa terhormat sekali Zuhri jadinya.

Zuhri mengakui untuk orang yang baru pertama kali bertemu dengan Hadratus Syaikh, akan ada pancaran wibawa yang membuat sedikit tertekan siapa pun yang bertamu.

“Ketika aku memberikan salam, beliau sedang duduk di atas permadani yang memenuhi ruangan tamu yang luas,” terang Zuhri.

Berbeda dengan putranya yang terlihat “modern”, Hadratus Syaikh masih setia dengan baju “Jawa”. Pakaian yang dikenakan terlihat seperti piyama yang tak berkerah. Berwarna putih kain katun, mengenakan sarung dan sorban. Saat Zuhri menghadap, Hadratus Syaikh sedang membaca sebuah surat.

“Aku heran sekali, melihat seorang tua yang usianya lebih dari 70 tahun masih dapat membaca tanpa kaca mata,” tulis Zuhri dalam otobiografinya.

Wahid Hasyim pun mendekat. Memperkenalkan Zuhri kepada ayahnya. Lalu keduanya terlibat pembicaraan menggunakan bahasa Arab yang bercampur bahasa Jawa. Sesekali Wahid menjawab pertanyaan Hadratus Syaikh dengan bahasa Jawa halus. Tentu bukan karena tidak mampu menjawab dengan bahasa Arab, tapi karena rasa hormat kepada orang tua sudah menjadi gerak refleks bicara Wahid.

“Tapi setelah KH. Wahid Hasyim memberitahu bahwa aku dari kalangan Pemuda Ansor, Hadratus Syaikh kontan menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan denganku,” terang Zuhri.

Meski begitu, sesekali Hadratus Syaikh juga menanyai Zuhri dengan bahasa Arab. Zuhri pun menjawabnya dengan bahasa Indonesia, mengikuti cara Wahid yang juga sesekali menjawab percakapan itu dengan bahasa Jawa halus. Artinya, dalam pembicaraan tiga orang itu, ada tiga bahasa yang digunakan oleh masing-masing. Bahasa Arab oleh Kiai Hasyim, Bahasa Indonesia oleh Zuhri, dan Bahasa Jawa halus oleh Wahid Hasyim.

Percakapan itu pun jadi panjang. Hadratus Syaikh memberitahu Zuhri bahwa surat yang tadi dibacanya adalah dari seorang ulama terkenal di Jawa Tengah. “Sudah aku anggap sebagai guruku,” kata Kiai Hasyim kepada Zuhri.

Zuhri tahu sifat Kiai Hasyim, salah satunya selalu memandang ulama seangkatannya sebagai guru. Bahkan kepada teman sesama ulama yang berbeda pendapat.

Surat di tangan Kiai Hasyim adalah pernyataan kiai yang (dalam bahasa Kiai Hasyim) “memarahinya” karena berbeda pendapat. Saat itu sedang ada perbedaan pendapat antara kiai tentang hukum terompet dan genderang yang akan digunakan oleh Gerakan Ansor kala baris-berbaris melakukan pawai.

Sebagian kiai membolehkan, sebagian lagi mengharamkan. Dan Kiai Hasyim adalah salah satu yang berada dalam kelompok yang membolehkan. Bagi Kiai Hasyim, penggunaan terompet dan genderang adalah salah satu bentuk identifikasi diri yang menyatakan berbeda dengan pihak Pemerintah Kolonial Belanda.

Pada akhirnya, Kiai Hasyim menyatakan akan sowan ke kiai yang berbeda pandangan dengannya. Dan dalam bahasa Kiai Hasyim, “akan menginsafkan para guru-guruku.” Tentu saja Wahid Hasyim dan Saifuddin Zuhri hanya menunduk tak ingin ikut campur urusan tersebut.

Padahal semua ulama di Jawa juga tahu, ketika masuk bulan Ramadan, Kiai Hasyim akan punya kelas khusus membaca kitab Al-Bukhari. Dan kiai dari seluruh pelosok Nusantara akan datang ke Tebuireng untuk mendengarkannya. Salah satu kisahnya adalah kedatangan Kiai Kholil Bangkalan, guru Kiai Hasyim sendiri yang ingin berguru ke Tebuireng.

Mengapa banyak kiai yang ingin berguru kepada Kiai Hasyim?
Sebab, ketika kajian kitab Al-Bukhari tersebut, berbeda dengan siapa pun di Nusantara, jika Kiai Hasyim yang melakukan kajian, terdengar “seolah-olah sedang membaca kitab karangannya sendiri.” Sebuah ungkapan yang menunjukkan penguasaan luar biasa dari Kiai Hasyim soal ilmu tafsir hadits.

Sikap rendah hati Kiai Hasyim dengan selalu menganggap orang lain merupakan guru dan mendatangi siapa pun yang bertentangan dengannya semakin ditegaskan pada 1935.

Saat Pemerintah Kolonial Belanda hendak menganugerahkan bintang kehormatan kepada Kiai Hasyim karena Belanda sadar akan cakupan pengaruhnya (terutama di Jawa Timur), jawaban Hadratus Syaikh terang menolak dengan berkata:

“Aku takut pada diriku sendiri akan datangnya rasa ujub dan takabur.

========== Disadur dari buku karya KH. Saifuddin Zuhri*

*Menteri Agama Indonesia ke-10 pada masa Presiden Sukarno, ayah dari menteri agama yang sekarang, yakni Lukman Hakim Saifuddin. Beliau Aktif di Gerakan Pemuda Ansor sejak 1939. Menjadi komandan Divisi Hizbullah Jawa Tengah dan salah satu tentaranya adalah Kolonel Soedirman pada peristiwa “Palagan Ambarawa” Oktober-Desember 1945.


(Abdir Rahman)

0 Response to "Dua Tokoh Nasional Yang Sama-Sama Pernah Menjabat Menteri Agama"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel