(Seharusnya) Guru Itu Menyejukkan

Erhaje88

Guru pegawai negeri sipil (PNS) menyebarkan ujaran kebencian kepada anak didik untuk anti-Presiden Joko Widodo (Jokowi) jelas sudah keluar dari koridor tugas pokok dan fungsi guru untuk mengajar dan mendidik. Itulah yang terjadi pada diri guru Nelty Khairiyah. Menyebarkan ujaran kebencian terhadap seseorang, apalagi kepada seorang Kepala Negara jelas tidak etis.


Gambar:: Guru Nellty Khairiyah/google.co.id

Sama sekali tak konek urusan guru SMA dengan Jokowi, gempa, tsunami, penderitaan dan para korban. Memberi indoktrinasi sarat politicking di lingkungan sekolah, selain melanggar koridor hukum, bukan urusan seorang guru. Apa tujuannya? PNS, termasuk guru dilarang berpolitik praktis.

Maka, guru dilarang masuk tim pemenangan capres dan cawapres. Semua guru se- Indonesia mengetahuinya. Entah apa alasan Nelty Khairiyah, guru SMA Negeri 87 melakukan sebagaimana banyak diberitakan. Penyampaian ujaran kebencian jelas nonpedagogis dan berlawanan dengan statusnya sebagai guru agama. Nelty telah mengumpulkan murid-murid di masjid untuk diputarkan video berkonten gempa dan tsunami Palu, Donggala, dan Sigi. Kepada anak-anak dikatakan semua itu karena Jokowi. Masih mau memilihnya untuk periode kedua?

Pertanyaannya, apa tujuan Nelty membawa puluhan murid ke masjid. Jika untuk shalat, memperoleh siraman rohani dari ustaz, maka itu nilai tambah. Nilai tambah juga dengan acara nonton bareng atau “nobar” video gempa dan tsunami di Palu Donggala, Sigi. Tindakan yang wajar dan positif. Sambil nobar Nelty pun bisa menerangkan kepada para siswa tentang gempa bumi dari kacamata agama.

Video yang menayangkan gempa dan tsunami di Palu, Donggala, diyakini menggambarkan derita para korban. Para korban amat sangat menderita, lapar, dan haus. Derita yang sangat luar biasa. Ratusan ribu orang itu sungguh mencekam. Selain lapar, haus, sakit, trauma, komunikasi dengan dunia luar pun terputus. Gardu listrik PLN rusak, tidak berfungsi berdampak listrik mati total. Malam gelap gulita, diiringi gempa susulan ratusan kali.

Jaringan Telkom, telepon seluler terputus. Run way bandara sebagian rusak. Menara pengawas penerbangan roboh. Kota Palu, Donggala, Sigi tersisolasi dari dunia luar. Ini sungguh bikin merinding. Penderitaan korban mungkin berlangsung dalam waktu lama, bisa enam bulan, setahun, atau lebih dikarenakan puluhan ribu rumah hancur. Hampir 70.000-an orang menderita luka berat dan ringan.

Penderitaan mereka juga derita kita, menyentuh rasa kemanusiaan kita. Kita ibarat satu tubuh manusia. Jika tangan sakit, seluruh badan dan perasaan ikut sakit. Kita yang jauh dari lokasi gempa hanya melihat dampak bencana melalui teve dan koran, namun kita berempati, berdoa agar beban para korban diringankan.

Puluhan ribu keluarga menderita dan berduka di lokasi bencana seharusnya guru mengaitkan dengan kerja keras pemerintah, bukan sebaliknya. Begitu banyak perbuatan baik Jokowi, tanda negara hadir. Mengapa sisi baik Jokowi dalam menangani bencana tidak diceriktan?

Seluruh dunia mengetahui, kurang dari 48 jam usai gempa dan tsunami, Jokowi sudah berada di tengah para korban. Padahal, Bandara Mutiara SIS Al Jufrie di Palu dalam keadaan kurang sempurna untuk landing dan take off pesawat. Tidak berlebihan menilai, Jokowi memang presiden pemberani. Jokowi berani landing karena alasan utama: kemanusiaan. Presiden Jokowi dan beberapa menteri lebih dulu menyapa korban di tenda, meninjau lokasi reruntuhan ketimbang gubernur Sulawesi Tengah dan wagubnya, wali kota dan wakil wali kota Palu.

Hanya satu alasan tunggal Presiden Jokowi perlu segera hadir di tengah para korban: menyapa dan segera menolong. Ini bukti dia mencintai, memedulikan rakyatnya yang tengah berduka, lapar, haus, dan sakit. Saat rombongan Presiden dari Jakarta mencium bau kurang sedap dari mayat maupun limbah, pejabat lain dalam rombongan menggunakan masker, tapi Presiden Jokowi tidak memakai masker. Luar biasa! Presiden berkeliling dari tenda ke tenda penampungan berdialog dengan pengungsi.

Jokowi memberi semangat petugas dan relawan yang bekerja keras membongkar beton penghalang untuk menyelamatkan dan menemukan sejumlah orang yang terperangkap reruntuhan. Keberadaan Presiden Jokowi, representasi konkret kehadiran negara yang sigap menolong para korban. Kurang apalagi Presiden kita dalam menangani bencana di Palu, Donggala, Sigi, sehingga guru Nelty malah memprovokasi murid-murid SMA 87 agar anti-Jokowi?

Pusat Kebudayaan

Apa hubungan gempa, tsunami, korban meninggal, sakit, harta benda hilang, rumah roboh, infrastruktur rusak, dan eksistensi Jokowi? Lemparan opini Nelty tidak logis di mata siswa yang kritis. Pantas, indoktrinasinya dikritisi siswanya sendiri. Pada titik ini, dia jauh dari predikat pendidik pembangun manusia Pancasilais. Mendikbud Muhadjir Effendi pun menilai perbuatannya memalukan, sehingga harus ditindak.

Nama SMAN 87 viral. Seharusnya guru agama, apa pun agamanya, berkewajiban mentransformasi kesejukan dan kebaikan, bukan hasutan. Ujaran anti-Jokowi dianggap mengarahkan siswa, sebagai pemilih pemula, tidak memilih Jokowi pada Pilpres 2019.

Mungkin di daerah lain masih terdapat guru yang mengompori anak didik dengan ujaran kebencian, terutama bernuansa SARA, anti-Presiden dan antipemerintah. Kasihan anak didik kita masih labil, dalam proses perkembangan jiwa-raga, tapi telah diasupi benih kebencian.

SMAN 87 adalah tempat saya mengabdikan diri sampai purnabakti. Saya bangga menjadi bagian dari SMAN 87. Sampai peristiwa ini terjadi, sekolah bukan ajang menghakimi pemerintahan. Senang atau tidak, sekolah bukanlah arena berkampanye. Sekolah bukan alat atau agen partai politik. Dia juga bukan kubu capres dan cawapres tertentu.

Sekolah merupakan pusat kebudayaan untuk memajukan peradaban bangsa. Memang, kita berhak mengkritik pemerintahan, tapi harus cerdas. Rasanya, tidak etis dalam kegiatan belajar mengajar ada “jurkam”. Siswa harus cerdas memilah yang benar dan salah. Jika perlu, siswa mengingatkan guru, kalau ada yang menyimpang dari tugas mengajar dan mendidik. Semoga kasus ini cepat terselesaikan. Mulai hari ini dengan hati tulus saling memaafkan. Masa depan negara di tangan murid-murid. Kiranya damai sejahtera menyertai kita semua.

Oleh: Retno Adiani, pensiunan guru BK SMA Negeri 87 Rempoa, Jakarta Selatan

http://www.koran-jakarta.com/guru-harusnya-menyejukkan/

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: