Lima Alasan Seseorang Berbuat Hoax

Erhaje88

Akhir akhir ini di dunia maya terutama media sosial bertebaran berita bohong atau hoax. Belum reda kasus hoax yang diperankan aktivis perempuan, Ratna Sarumpaet, ada lagi hoax terkait korban gempa di Palu. Bukan tanpa alasan seseorang berbuat demikian.

Ratna Sarumpaet mengakui telah berbohong soal penganiayaan

Penyebaran berita bohong atau hoaks secara prinsip tidak jauh berbeda dengan penyebaran hadits palsu dalam kajian ilmu hadits. Bedanya–mungkin–hanya sedikit atau bahkan hampir tidak ada. Jika dulu yang dibuat-buat atau dipalsukan adalah hal-hal yang berkaitan dengan Rasul SAW, yang meliputi perkataan, perbuatan, sifat maupun ketetapan, saat ini lebih global dan semua hal berpotensi bisa dipalsukan atau dibuat-buat.

Jika hal-hal yang berkaitan dengan Rasul Saw saja bisa dipalsukan, lalu bagaimana jika hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan Rasul? Tentu akan lebih sering, bukan? Bahkan lebih parahnya, saat ini ada yang sengaja menghubung-hubungkan kisah Rasul dengan kejadian yang menimpa para idolanya, walaupun terlalu dipaksakan.

Sebagaimana hadits palsu, penyebaran dan pembuatan berita bohong atau hoaks tentu memiliki latar belakang atau alasan tertentu. Para ulama hadits berhasil mengidentifikasi alasan-alasan tersebut dan merangkumnya menjadi beberapa hal. Tentu karena kajian penyebaran hadits palsu ini secara prinsip sesuai dengan prilaku pembuatan dan penyebaran berita bohong atau hoaks sekarang, maka hemat kami, tentu akan sesuai pula alasan-alasan penyebaran hadits palsu tersebut dengan konteks pembuatan dan penyebaran hoaks sekarang.

Apa tujuan seseorang berbuat hoax dan bagaimana cara menanggulangi hal tersebut?  Sayyid Alawi Al-Maliki dalam bukuny Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Haditsis Syarif  menjelaskan lima alasan dibuat dan disebarkannya hadits-hadits palsu (Lihat Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Haditsis Syarif , [Madinah, Maktabah Malik Fahd: 1421 H], halaman 148), atau dalam konteks sekarang bisa disebut hoax:

Pertama, “al-Intishar lil Mazhab”. Yaitu mempertahankan kepentingan pribadi atau golongan. Zaman dahulu, kaum syiah Rafidhah sering membuat hadits palsu untuk mendukung gerakan-gerakan politik mereka. Dalam konteks sekarang, bisa jadi para simpatisan partai atau organisasi juga melakukan hal ini demi mengangkat elektabilitas partai atau hanya sekadar membela partai atau organisasinya dari serangan lawan.

Kedua,  “ Thalabut Taqarrub ilal Muluk wal Umara’ ”.  Mendekatkan diri kepada pejabat tertentu (orang-orang yang berkepentingan), Dalam konteks hari ini, alasan kedua ini bisa saja terjadi pada simpatisan calon-calon presiden yang akan berkontestasi. Dengan adanya hoaks yang dibuat, harapannya sang pejabat semakin dekat dengan orang tersebut dan lebih peduli dengan orang tersebut. Tentu harapannya, agar orang tersebut dijadikan pejabat tertentu.

Ketiga, "Thalabul kasbi wal irtizāq bil wadh’ī " mencari pekerjaan. Dalam konteks sekarang, banyak juga institusi atau perorangan yang menyediakan jasa pembuatan hoaks dan penyebarannya, seperti Saracen dan MCA (Muslim Cyber Army).

Keempat, al-Intiṣār ilāl futyā ʽIndal khaṭā’ fīhā. Membela pendapat tertentu walaupun salah. Hal ini tentu banyak kita temukan sekarang. Tidak sedikit orang berbondong-bondong membela orang salah, tapi yang digunakan untuk membela adalah hoaks.

Kelima, Ṭalabut targhībin nās fi afʽālil khair. Menarik simpati orang untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, termasuk mengajarkan anak-anak tentang agama tapi dengan kisah-kisah hoax. Atau ajakan untuk membantu korban bencana alam, tapi foto-foto yang digunakan adalah foto-foto hoax.

Diakui atau tidak, lima hal itu terjadi di masyarakat maya dan nyata kita. Tentu, dengan adanya indentifikasi, memiliki harapan ganda, di satu sisi menjadikan orang yang berpotensi membuat dan menyebarkan hoaks bisa sadar sebelum melakukannya.

Di sisi lain, bagi para korban, agar bisa berhati-hati dengan berita-berita yang berkaitan dengan lima hal di atas. Alangkah baiknya jika seluruh berita yang diterima dicek terlebih dahulu kebenarannya.

Untuk menanggulangi dan mencegah hoax terjadi di dunia maya maupun nyata, KH Sholahudin Wahid menghimbau bilamana seseorang mendapatkan suatu berita hendaklah dicek dulu kebenarannya sebelum disebarkan. Apalagi yang akan disebarkan adalah berita yang menyangkut banyak orang. Wallahu a’lam .

http://www.nu.or.id/post/read/96945/gus-sholah-ajak-masyarakat-tidak-sebarkan-informasi-belum-jelas

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018