Ingat, Agama Itu Nasehat

Erhaje88

Fenomena persekusi yang terjadi akibat perbedaan pendapat sudah sangat diluar batas kewajaran. Entah apakah ini terkait dengan suasana politik yang semakin hari semakin memanas, ataukah memang didasari oleh oknum-oknum yang sulit menerima keragaman akibat cara pandang keyakinan yang sedemikian kaku dan ketat.

Gambar sedekah laut/google.co.id

Tak bisa dipungkiri, banyak hal yang terlibat dalam membentuk cara pandang seseorang sedemikian ketat, baik itu akibat situasi politik yang kurang kondusif dan penyebaran informasi yang sedemikian masif di media sosial. Belum lagi ditambah rentetan kejadian bencana alam yang terus menerus “dipolitisir” oleh kenyataan teologis yang menempatkan bencana sebagai azab Tuhan akibat penyimpangan perbuatan manusia.

Saya kira, kasus persekusi sekelompok orang atas tradisi Sedekah Laut di Pantai Baru, Bantul paling tidak dapat mewakili cara pandang yang kaku atas keberagaman, sehingga menganggap keberadaan tradisi ini bukan sekadar perbedaan pendapat tetapi perbuatan sesat yang akan menimbulkan murka Tuhan. Padahal, tradisi merupakan kekayaan budaya yang telah dilakukan turun temurun, tak ada kaitannya dengan fenomena alam apapun, apalagi dikaitkan bencana. Bahkan, bagi mereka yang terbiasa dengan beragam tradisi, justru ini merupakan fenomena “kebersatuan” atau menciptakan “keseimbangan” alam dimana manusia sebagai bagian dari alam raya, “berbuat baik” kepada alam sekitarnya.

Suatu tradisi atau budaya, tentu saja erat kaitannya dengan kebaikan alam dimana dalam pandangan tradisional, alam perlu dipelihara atau “diruwat” secara adat, bukan sekadar dimanfaatkan lalu menjadi rusak. Kebiasaan atau tradisi tidak identik dengan kemusyrikan yang selama ini selalu dipertentangkan dengan keyakinan agama. Sangat berlebihan, ketika tradisi dipersalahkan bahkan dianggap menyimpang dari agama. Bukankah agama juga merupakan tradisi yang diwarisi secara turun temurun? Lihatlah banyak ritual agama yang tanpa reserve justru diikuti secara turun-temurun oleh sekian banyak pemeluknya dan tak pernah ada persoalan sama sekali didalamnya.

Agama bahkan senantiasa mengajarkan kesantunan dalam berbagai relasi sosial, terbuka dan toleransi dalam setiap perbedaan pendapat. Itulah kenapa, pokok ajaran agama yang paling fundamental adalah nasehat (addiinu nasihah ). Sebuah nasehat tentu saja menjauhi unsur emosional, kesewenang-wenangan, ke-aku-an diri sendiri dan lebih menonjolkan sisi kebersamaan, toleransi, prilaku terpuji yang dalam banyak hal menciptakan kebaikan dan kemanfaatan antarindividu dan kelompok. Agama bahkan mengecam setiap perlakuan tidak baik, terlebih memerkusi pihak lain yang berbeda pandangan, karena dalam agama tak ada paksaan mengingat keyakinan setiap orang berbeda-beda.

Fenomena persekusi yang marak terjadi belakangan, justru mengaburkan makna agama sebagai nasehat itu sendiri. Memang, kebanyakan dari realitas persekusi dalam masyarakat terkait erat dengan keyakinan atau agama yang jelas terkontaminasi oleh suasana politik. Tak hanya soal Sedekah Laut yang terpapar persekusi, kegiatan lain yang bernuansa keagamaan dalam rangka saling menasehati juga tak luput dari upaya persekusi. Lalu, kemana larinya fungsi agama sebagai nasehat? Yang ada bahkan kenyataan saling hujat, dimana tanpa sadar mereka membongkar fondasi agama mereka sendiri. Ternyata, menyadari agama sebagai nasehat terlampau sulit bagi mereka yang justru selalu mengaku paling beragama.

Penting juga untuk dipahami, beragama merupakan keyakinan individual dan penataan yang baik terhadap berbagai relasi sosial sekaligus. Prinsip “nasehat” yang mengikat dalam suatu agama jelas berkonotasi pada upaya pembentukan pribadi yang saleh karena saling menasehati antarsesamanya demi membangun ikatan-ikatan solidaritas sosial yang kuat. Aneh rasanya, jika agama hanya dipandang sebagai keyakinan individual an sich lalu secara sewenang-wenang justru menggempur ikatan-ikatan solidaritas sosial yang telah ada. Beragama jelas saling menasehati, bukan saling memersekusi, karena agama dikendalikan oleh hati nurani bukan emosi.

Saya menilai, tradisi Sedekah Laut atau tradisi-tradisi lainnya yang hidup di tengah masyarakat sudah semestinya dijaga dan dirawat sebagai bagian dari warisan budaya. Jikapun ada persoalan yang dianggap tak sesuai dengan keyakinan agama, jadikanlah itu nasehat bagi diri anda sendiri, bukan lalu melakukan persekusi. Saya sendiri meyakini, tak selamanya adat atau tradisi itu dianggap penyimpangan sosial dalam perspektif keagamaan, karena dalam tradisi Islam adat atau tradisi justru bisa menjadi sumber hukum (al-‘adaatu muhkamatun ). Legalitas adat atau tradisi jelas diangkat dalam hal ini sebagai upaya pelestarian dalam mewujudkan kebaikan ikatan sosial.

Jika ada perbedaan pendapat, anggaplah itu sebagai rahmat Tuhan, karena sejatinya Tuhan-pun menciptakan manusia dalam nuansa diversitas, tidak dikotak-kotakan dalam pecahan individualitas atau komunitas. Agama, tentu saja diciptakan untuk membentuk ikatan-ikatan solidaritas sosial yang dibangun “tanpa paksaan” karena penerimaan manusia atas segala keragaman yang memang telah lebih dulu terbangun dalam masyarakat. Pemaksaan segala sesuatu apalagi dijalani dengan persekusi, jelas tak sesuai dengan entitas agama yang dibangun atas dasar fondasi nasehat. Agama jelas mengajak pada kewarasan berpikir melalui saling menasehati, bukan memersekusi!

Oleh: Syahirul Alim

https://indonesiana.tempo.co/read/128467/2018/10/17/syahirulalm/ingat-agama-itu-nasehat

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: