HTI Dan Politik Suryakanta

Erhaje88

Untuk menetralisir keadaan, pejabat negara dan para pimpinan ormas Islam berkumpul di rumah dinas Wapres untuk menyatakan sikap atas pembakaran bendera HTI di Limbangan Garut (26/10/18). Dalam short video viral tampak Wapres Jusuf Kalla membacakan teks keprihatinan seakan-akan mereka telah mengambil-alih tanggung jawab atas kegaduhan, terjadi semacam pengakuan "bersalah" kepada HTI dan para simpatisannya.

Sumber gambar : https://nasional.kompas.com/read/2018/05/08/09394811/pan-dukung-upaya-banding-hti

Sudah semestinya para pejabat negara dan pemimpin ormas Islam harus bisa mengantisipasi keadaan. Tapi, tampilnya Wapres JK, Menag Lukman Hakim dan Kapolri Tito Karnavian melekat dalam dirinya mewakili negara dengan bobot tinggi. Saya miris menyaksikan negara pada posisi tawar yang tidak "apple to apple". HTI sudah dinyatakan dilarang, tapi masih diakui keberadaannya.

Negara telah menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya. Negara telah membesar-besarkan masalah, sudah masuk perangkap skenario HTI. Semestinya kasus anak-anak Banser Garut cukup ditangani kepolisian daerah setempat. Hal ini disebabkan salah penglihatan. Inilah yang saya sebut dengan Politik "Suryakanta".

Suryakanta adalah kaca cembung (biasanya berbentuk bulat) untuk membantu penglihatan ukuran benda lebih besar dari aslinya. Kalimat "lebih besar dari aslinya" mengandung unsur tipuan dalam ukuran; sesungguhnya kecil, tapi tampak besar.

Suryakanta juga bisa membantu penglihatan secara detail, jelas dan lebih dekat obyek yang sulit dilihat mata normal. Tapi, terlalu fokus pada detail atau hal spesifik-parsial, seringkali orang tidak melihat keseluruhan obyek.

Pada periode SBY, negara pernah melihat HTI dengan suryakanta, dikira HTI hanya sekumpulan orang-orang yang gemar pengajian seperti majelis taklim, bahkan SBY sendiri membentuk "majelis dzikir". Diluar dugaan, diakhir pemerintahannya, HTI mampu menghimpun 75.000 jamaah di Gelora Bung Karno, mengkonsolidir kekuatan demi mendirikan negara Khilafah (2015). SBY terpesona pada spesifik-parsial, tapi luput melihat keseluruhan obyek.

HTI adalah ancaman serius bagi keutuhan negara Pancasila. Membiarkan HTI demi memenuhi kaidah demokrasi sangat berbahaya. Bersama HTI, demokrasi bisa memakan bapaknya sendiri.

HTI bukan organisasi "innocent" dalam tampilannya yang ramah tanpa kekerasan, seakan-akan hanya barisan emak-emak menggendong anak sekedar ingin menyampaikan pendapat atau pikiran. Modalnya toa, spanduk, bendera dan tali rafia.

Bukan cuma itu. HTI adalah organisasi jaringan internasional salah satu terkuat di dunia. Pada momentum yang tepat mereka bisa angkat senjata. Apa yang terjadi di Libya, Suriah dan negara-negara Timur Tengah? Dalam suatu wawancara TV Al-Jazeera, Habib Ali Al Jufri, wartawan senior TV tersebut mengatakan, saya bukan cuma mendengar, saya menyaksikan langsung, mereka para pembohong agama. Katanya demi menegakan khilafah, yang terjadi meluluh-lantaka
n negara. Mereka bilang demi demokrasi dan hak azasi manusia, yang terjadi membunuh saudara dan memporak-porandakan negara.

Suryakanta dibuat orang untuk melihat sesuatu lebih jelas. Namun, sesuatu yang jelas belum tentu fakta yang sesungguhnya.; ini berbahaya dalam persepsi. Kucing akan terlihat seperti singa.

Wallohualam Bishowwab.

Oleh: R. Kurnia P. Kusumah

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: