Enam Dari Sepuluh Guru di Indonesia Intoleran

Erhaje88

Henny Supolo Sitepu, pemerhati pendidikan dan ketua Yayasan Cahaya Guru, yayasan yang kerap memberikan pelatihan bagi guru-guru di pelosok Indonesia, menyatakan sekolah-sekolah negeri di Indonesia sekitar 10 atau 20 puluh tahun lalu identik dengan murid yang heterogen. Namun sekarang kondisinya lebih homogen.

(Screenshot BBC Indonesia)

Intoleransi guru juga ditemukan dalam survei yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah kepada 2.237 guru Muslim di 34 provinsi.
Survei itu menemukan bahwa enam dari sepuluh guru Muslim memiliki opini intoleran terhadap pemeluk agama lain.

Selain intoleransi, survei itu juga menilik tendensi radikalisme, dan mendapati bahwa hampir setengah guru Muslim memiliki opini radikal.

Contoh pernyataannya adalah menganjurkan orang lain untuk ikut berperang dalam mewujudkan negara Islam. Contoh lain, (setuju atau tidak setuju) menyerang polisi yang menangkap orang-orang yang sedang berjuang mendirikan negara Islam.

Selain itu, PPIM juga menilik pandangan Islamis para guru dan menemukan bahwa 40.36% guru setuju bahwa seluruh ilmu pengetahuan sudah ada dalam Alquran sehingga Muslim tidak perlu mempelajari ilmu pengetahuan yang bersumber dari Barat.

Temuan ini selaras dengan hasil penelitian Alvara Research Centre pada November tahun lalu yang menemukan bahwa siswa Indonesia semakin intoleran, dan guru berperan besar dalam memupuk intoleransi itu - selain juga peran dari ulama dan media sosial.

Baik Yunita maupun Henny berpendapat bahwa intoleransi guru disebabkan karena homogenitas lingkungan para guru. Oleh karena itu mereka harus diberikan kesempatan untuk berjumpa dengan kelompok-kelompok yang berbeda.
Pandangan Islamis guru di Indonesia berdasarkan survei PPIM:

1. 40.36% guru setuju bahwa seluruh ilmu pengetahuan sudah ada dalam Al Quran sehingga Muslim tidak perlu mempelajari ilmu pengetahuan yang bersumber dari Barat.
2. 82.77% guru setuju bahwa Islam adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi segala persoalan masyarakat.
3. 62.22% guru setuju bahwa hanya sistem pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam yang terbaik untuk negeri ini.
4. 75.98% guru setuju bahwa pemerintah harus memberlakuan syariat Islam bagi para pemeluknya.
5. 79.72% guru setuju bahwa dalam memilih pemimpin (presiden, gubernur, bupati/walikota), umat Islam wajib memilih calon pemimpin yang memperjuangkan penerapan syariat Islam.
6. 23.42% Guru setuju bahwa pemerintahan Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945 adalah thaghut karena telah mengambil hak Allah sebagai pembuat hukum.
7. 64.23% Guru setuju bahwa non-Muslim tidak diperbolehkan menjadi Presiden di Indonesia.

Jadi pendekatan anak didik perlu lebih strategis. Untuk masa depannya kita tidak punya pilihan lain karena anak didik akan bekerjasama dengan berbagai latar belakang, kalau tidak terbiasa untuk bekerja sama dari masa kecilnya maka anak didik akan ketinggalan.

(Baca juga: Agama Dan Filsafat)

Juga perlunya memasukkan nilai-nilai HAM, agama, demokrasi dan kemajemukan bangsa --yang tertuang dalam Pasal 4 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003-- ke dalam akreditasi sekolah dan penilaian guru.

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: