Antara Musibah di Palu, Donggala Dan Sugi Nur Raharja

Erhaje88

Belum sembuh duka akibat gempa Lombok (NTB) silam, Jumat 28 September 2018 gempa disertai gelombang tsunami terjadi di Palu juga Donggala, Sulawesi Tengah.

Kewaspadaan, kesiapan, serta ketangguhan dalam menghadapi bencana selayaknya menjadi bagian penting dalam setiap aktivitas masyarakat kita. Surga yang dianugerahkan Tuhan bagi Indonesia, berupa kekayaan alam yang melimpah ruah, juga dibebankan dengan potensi bencana yang besar.

Pernyataan Sobri Lubis yang keliru

Tanah air harus siap berteman dengan bencana karena hidup di atas jalur gempa teraktif, berada di atas tiga tumbukan lempeng benua: Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur. Daerah tersebut dikenal dengan istilah cincin api Asia Pasifik atau Ring of Fire.

Saat masyarakat Palu dan Donggala merintih kesakitan, menangisi orang orang yang dicintainya jadi korban musibah tersebut, ada saja orang orang yang mempolitisir musibah tersebut.

Adalah Ahmad Shobri, ketua umum Front Pembela Islam (FPI), bukannya berempati dan bersimpati atas kesedihan mereka yang mengalami musibah. Ia justru mempolitisir bahwa musibah gempa dibarengi tsunami di Palu lantaran pemerintah mezalimi seseorang bernama Sugi Nur Raharja (Gus Nur).

Sungguh sangat disayangkan sekali. Sebagai seorang muslim tidak elok jika ada suatu musibah atau bencana dikaitkan dengan status Sugi sebagai tersangka. Apalagi, mencatut Allah telah memberi azab. Pernyataan Shobri bukan cerminan akhlak Islam dan bukan bagian dari ajaran Islam. Apalagi, menyalahkan oranglain tanpa dasar.

Mengapa Shobri berani mengatakan hal demikian? Apa sih keistimewaan seorang Sugi Nur Raharja?

Ketua umum FPI tersebut akan membela 'mati-matian' setiap orang atau kelompok yang saat ini berlawanan dengan pemerintah. Pemerintahan saat ini diidentikkan sebagai musuh Islam. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Seseorang yang kalap, nalar kewarasannya akan hilang. Tak terkecuali Shobri. Sugi Nur yang bukan siapa-siapa dianggap sebagai ulama. Sebagai panutan. Padahal banyak yang paham siapa sebenarnya Sugi Nur itu.

Ia bukan insan yang suci. Ia bukan manusia yang tak pernah luput dari kesalahan, sama seperti kita semua. Jadi, mengaitkan musibah gempa dan tsunami di kota Palu dengan dijadikannya Sugi Nur sebagai tersangka ujaran kebencian adalah keliru yang fatal.

Dalam Islam, musibah harus dipahami sebagai ujian. Ujian ini diberikan kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Bisa kepada orang yang beriman atau orang yang tidak beriman. Intinya, dalam menghadapi musibah tidak lain untuk menguji ketabahan, kesabaran, dan mengambil hikmah agar memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Pernyataan Shobri jauh dari nilai nilai ajaran Islam. Mengapa demikian? Seorang Shobri hanya mengukur musibah sebab lantaran orang bernama Sugi Nur Raharja. Jangan salahkan orang lain saat menyimpulkan hal itu kepada Shobri.

Islam mengajarkan untuk peduli, empati, dan simpati terhadap siapapun yang terkena musibah atau sedang dalam ujian. Sekalipun mereka non-muslim, apalagi mereka sesama muslim.

Islam mengajarkan jika ada orang terkena musibah, katakan "innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (sesungguhnya kita ini milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepadaNya). Jika kita mampu, Islam mengajarkan untuk membantu meringankan beban mereka hingga mereka kembai hidup normal.

Habib Novel bin Muhammad Alaydrus dalam salah satu ceramahnya pernah mengatakan, "jangan selalu menganggap gempa sebagai hukuman dari Allah SWT. Jangan selalu mengartikan gempa sebagai azab dari Allah SWT. Sebab di zaman Rasulullah SAW juga mengalami gempa. Di zaman shahabat Umar juga pernah mengalami gempa".

Mempolitisasi bencana alam seperti gempa, tsunami dan lain sebagainya disebabkan buta politik yang berujung matinya nalar, fanatisme tak sehat kepada tokoh/partai/kubu. Seperti halnya Shobri Lubis, ia telah menggunakan bencana sebagai senjata untuk menyudutkan lawan lawannya yang tak sejalan dengan ormas yang dipimpinnya.

Menggunakan agama dengan tujuan politisasi akan memunculkan pada tafsir azab sebagai senjata untuk menyerang lawan atau kubu yang tidak disukainya. Dalam konteks kemanusiaan, jika kebiasaan seseorang (gemar) mempolitisasi bencana alam menandakan ada dua hal pokok yang melekat pada dirinya:

Pertama, matinya rasa empati dan simpati.
Kedua, buruknya etika politik, yang seharusnya dipahami serta dijalankan oleh seseorang serta para elite-elitenya.

Politik punya ruang tersendiri, begitu juga agama. Orang-orang waras sudah seharusnya menjaga solidaritas lintas sekat identitas saat bencana terjadi, tidak justru memanfaatkannya secara sempit..

Tonton video Habib Novel bin Muhammad Alaydrus di bawah ini:


COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018