September, Pohon Mangga dan Ruang Kosong

Erhaje88

Suatu hari, dalam perasaan yang kalut, Kukila berkata pada anaknya, "Nak, dua hal aku benci dalam hidup; September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada."

Kukila mengatakan itu pada anaknya, agar si anak tahu, pada bulan September pernah terjadi peristiwa yang tak nyaman. Imajinasi September penuh dengan kisah gelap. Ia dikenang dan dibenci lantaran menyimpan bekas luka mendalam. Penggalan kisah itu bisa kita jumpai dalam salah satu cerpen karangan Aan Mansyur di buku Kukila. Bulan September hadir sebagai objek yang memicu ketabahan, juga kesedihan. Pergolakan cinta, pengkhianatan, dan kesetiaan yang dibalas dusta, diaduk Aan untuk menciptakan kisah bergelimang nestapa. Seakan pada setiap September, ingatan bikin Kukila harus puasa untuk bahagia.

Buku Karya Aan Mansyur, Kukila (Bukan Kumpulan Cerita Biasa)/Google Image

Tapi, Aan hanya berkisah tentang keluarga yang tak harmonis. Cinta yang dianggap salah. Konflik rumah tangga yang kompleks. Bukan pembunuhan atau fitnah. Bukan permerkosaan atau pembantaian, kecuali pohon mangga yang ditebang. Tapi, kita bisa saja menduga, sebagai usaha yang politis, untuk menolak lupa pada sejarah bangsanya, Aan melalui prosa ingin mengajak kita menziarahi sebuah tabir belum tersingkap penuh dalam narasi September di kehidupan keseharian kita.

Di luar kisah fiksi itu, di satu waktu dan tempat yang bereferensi faktual, September memang kerap hadir membawa ingatan kita pada rangkaian kisah-kisah tragis. September membuat orang-orang ribut. Ada benci. Ada tuduh-menuduh. Ada persekusi.

Kita digiring menyelami riwayat pembantaian, pemberontakan, pemerkosaan, fitnah, dan hal-hal mengerikan lainya. Tak sedikit orang tiba-tiba jadi ahli sejarah. Merasa paling tahu. Merasa menyaksikan dan mengalami langsung rentetan peristiwa pedih itu. Namun, kegemaran berdebat tak juga bisa dicap melulu baik. Di antara mereka hanya sedikit yang mau jujur dan menghargai intelektualitas. Fakta-fakta sering dipentalkan dengan emosional. Penemuan-penemuan ilmiah dianggap bertendensi politik, dan seketika tak bisa dipercaya.

Bulan September pun jadi momen tahunan yang ganjil. Membuat sebagian orang tak lagi merasa sebangsa setanah air. Bangsa berperang melawan dirinya sendiri. Nasionalisme pecah. Segregasi terjadi. Kita dihadapkan pada pilihan hidup yang sama-sama tak mengenakkan. Kecuali acuh tak acuh. Tapi, sejauh apapun kepedulian diredam, tak ada yang netral dalam hidup. Kita senantiasa berpihak meski tak pernah menyadarinya.

"Kita semua adalah korban," kata Gus Dur suatu kali. Tapi, sebagai sesama korban kita hanya bertemu jalan buntu. Seteru tak kunjung tuntas. Tak ada yang pernah selesai, sebab tak ada usaha serius untuk ke arah itu. Kita hampir tak pernah sama sekali bisa melalui September dengan suka cita. Dengan belas kasih dan damai di dada. Seperti lagu September Ceria ciptaan James F Sundah yang dinyanyikan Vina Panduwinata.

September kita sesak dengan keras kepala. Sebab ingatan susah hilang meski tubuh telah hancur. Kita tak bisa mengelak, karena di suatu masa yang aktual, fitnah meluluh-lantakkan segalanya. Dan, dari sana bangsa kita kehilangan separuh masa depannya.

Kasih/ kau singkap tirai kabut di hatiku/ Kau isi harapan baru untuk menyongsong/ harapan bersama// September ceria…milik kita bersama. Ataukah, jangan-jangan lagu September Ceria itu hanyak akal-akalan semata, untuk membuat lupa dan memaklumkan begitu saja kejahatan negara di salah satu fragmen sejarah bangsa kita? Seperti novel Jalan Bandungan (1989) karya Nh. Dini, atau Kubah (1995) dan Ronggeng Dukuh Paruk (2003) karya Ahmad Tohari. Kita diajak bergembira setelah melakukan penyangkalan terhadap suatu kelompok. Lalu, menjauhi duka lara demi harapan bersama. Tapi, harapan seperti apa?

September. 1965. Membuat kita terkenang pada tahun-tahun berlumur darah. Pada mulanya hasrat untuk berkuasa, lalu fitnah dilancarkan. Tak berselang lama, banyak manusia tinggal nama. Sebagian tak ditemukan jasadnya. Mungkin terpisah-pisah. Atau, dibuang begitu saja seperti sampah. Siapa yang tahan tak bersedih? Siapa yang bisa tak dibuat geram? Ironisnya mereka hanya dianggap dereten angka statistik yang tak punya jejak historis.

Kemudian pada akhir 60-an hingga menjelang tahun 2000, September selalu dirayakan pemerintah dengan pemutaran film berpretensi ideologis. Kepala orang-orang didesakkan berulang-ulang kali, tiap tahun, di seluruh penjuru negeri, tontonan yang menyesatkan alih-alih mendidik. Akhirnya, kebencian kian padat mengakar. Membakar. Maka tak keliru jika Aan Mansyur melukiskan laku pemerintah dengan sangat metaforis: "Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru."

Meskipun harus melompat dan menembus berlapis-lapis pemaknaan, metafora Aan mungkin cukup jelas merujuk pada satu praktik busuk pemerintah. Ia membayangkan, pada tiap bulan September pemerintah hanya menyulut api amarah di mana-mana lewat propaganda pemutaran sebuah film. Bukan untuk penguatan rasa persaudaraan. Bukan pula upaya untuk membangun rekonsiliasi.

Akhirnya, September selalu keruh dan kelabu. Dari situ, Ariel Heryanto mengandaikan kita seperti ikan-ikan yang hidup dalam kolam beracun. Racun yang bernama militansi kebencian dan normalisasi kejahatan. Dunia mencatat, betapa September 65 merupakan sejarah pembantaian paling biadab. Yang efeknya begitu dahsyat sampai tak berhenti berpuluh-puluh tahun setelahnya.

Tak ada lagi keceriaan pada bulan September. Kecuali ada yang tak ingin egois dan mengakui dengan jujur telah berlaku salah. Selalu ada alternatif bagi yang mau walau sulit, sebenarnya. Selalu ada sebuah perwujudan dunia yang mungkin. Di mana tak ada kekerasan, tak ada perang. Hanya persaudaraan berlandaskan keadilan dan kemanusiaan.

Tetapi, September tak pernah betul-betul mutlak. Ia selalu menyisakan ruang kosong yang bisa diisi bukan dengan kebencian, namun dengan bunga mekar merekah. Kita tentu saja tak boleh putus asa menuntut apa yang harus dituntut. Meski pada kenyataannya, menunggu negara menyelesaikan itu semua ibarat Vladimir dan Estragon dalam drama Samuel Beckett yang sedang menunggu Godot.

Oleh: Mario Hikmat, alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Bergiat di LISAN (Lingkar Mahasiswa Islam untuk Perubahan) cabang Makassar

https://detik.com/news/kolom/d-4233082/september-pohon-mangga-dan-ruang-kosong

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018