Saatnya Santri Kuasai Teknologi Dan Aktif di Media Sosial

Perkembangan dunia komunikasi membawa dampak dan perubahan pada segala bidang. Salah satunya adalah dalam dunia dakwah. Untuk menghadapi perubahan tersebut, di era digital seperti saat ini, mutlak bagi para santri untuk menguasai piranti dakwah yang salah satunya adalah media sosial. Warga NU harus melek internet dan media sosial, sebab keduanya merupakan sarana dakwah yang efektif untuk saat ini.

Gambar: facebook/abdir.rahman

Media sosial yang relatif barang baru di tanah air, mulai sangat ramai di tahun 2008, kini 10 tahun kemudian, Indonesia menempati salah satu pengguna media sosial terbanyak di dunia. Hingar bingar dunia maya terbukti punya pengaruh kuat ke dunia nyata. Medsos berperan besar menggerakkan aksi 212, dan karena medsos juga seorang TZ, FH, JG, NW diusir oleh masyarakat.

Media sosial adalah medan tempur yang sebenarnya tidak bisa dianggap remeh. Kaum sebelah sudah sadar akan hal ini dan membentuk tim cyber, sedangkan para santri ketinggalan langkah. Dan sudah waktunya para santri, para pembela NKRI melakukan hal yang sama, bahkan harus bisa merebut dan menguasainya.

Berbagai berita palsu (hoax) disebar oleh mereka yang ingin tidak ada kedamaian di Indonesia. Namun upaya menangkal kejahatan berita hoax di medsos memiliki beberapa strategi, salah satunya bagaimana kita bisa membangun tingkat militansi kader yang termanifestasikan kepada membangun militansi teknologi. Salah satu bangunan militansi teknologi tersebut bisa dilakukan dengan cara bagaimana agar kader-kader NU itu bisa menguasai komponen media sosial sebagai penyebaran berita dan informasi.

Dengan demikian, ketika kita menguasai medsos diharapkan bisa menangkal setiap pemberitaan dan informasi yang dengan sengaja ditujukan kepada NU dengan serangan yang membabi buta seperti hoax, fitnah dan ujaran kebencian.
Selain itu, bangunan militansi untuk menangkal serangan itu bisa dilakukan dengan membangun militansi keilmuan. Saya yakin dengan khazanah keilmuan bisa membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (palsu). Artinya, kader-kader NU juga dituntut untuk menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bukan hanya bicara soal Agama saja, melainkan semua disiplin ilmu pengetahuan harus bisa dikuasai sebagai pondasi dan kekuatan kita.

Selama ini Nahdliyyin, khususnya para santri menjadi "Silent Majority" (Mayoritas yang diam). Sudah saatnya bangkit dan jangan hanya sebatas wacana saja, tapi harus mau melakukan upaya ekstra.

Saatnya kita melakukan sesuatu semampu kita, tidak bisa lagi bermalas-malasan dengan dalih sibuk kerja, karir & keluarga. Perbanyak wawasan dan literasi, dan asah terus kemampuan dalam menulis. Penuhi media sosial dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat, entah dalam bidang agama ataupun umum. Jika tidak punya kemampuan untuk menulis, maka;

~ Rajin menulis kiriman (posting).
Buka media sosial kini harus lebih rajin berbagi tulisan, atau gambar meme yang mengkritik radikalisme, mengkritik intoleransi, dan membela Bhinneka Tunggal Ika & Pluralitas.
Jangan cuma kasih jempol pada tulisan dari teman yang berjuang melawan radikalisme & intoleran, tapi ikut juga membagikannya.

~ Gabung di GRUP-GRUP media sosial, baik facebook, WA, dll. Jangan cuma grup yang sepaham saja, namun juga gabung ke grup yang isinya ada kaum intoleran, lalu SHARE tulisan/meme yang mengkritik mereka di grup tersebut.

~ Tangkas dan Tangkal berita HOAX.
Statistik menyedihkan media sosial adalah status HOAX bisa di-share sampai belasan ribu, sedangkan klarifikasinya cuma di-share ratusan sampai seribu saja. Ini disebabkan oleh APATISME (ketidak pedulian) dari silent majority. Jangan anggap remeh HOAX, karena berdasarkan survey, di tingkat akar rumput banyak yang percaya HOAX, karena penebar HOAX lebih rajin share berita HOAX.


Ingat: Berita palsu yang selalu dimunculkan secara berulang-ulang maka akan dianggap suatu kebenaran.

Sudah saatnya Silent Majority benar-benar bangkit tidak cuma retorika saja. Luangkan waktu sejenak dari kesibukan anda untuk melakukan poin di atas.

Terakhir, yang tak kalah pentingnya lagi bagaimana kader-kader NU itu harus bisa membangun militansi strategi. Karena, dengan militansi strategi ini bisa menjaga martabat NU dari berbagai serangan pihak luar. Ketika ada yang berupaya ingin menyingkirkan NU, berarti sama saja menghancurkan NKRI yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Ketika kita berjuang untuk NU, berarti kita berjuang untuk kedaulatan NKRI.
Demi NU, Demi NKRI, Demi Pancasila, Demi Bhinneka Tunggal Ika!

Oleh: Abdir Rahman

Tanah Rantau, 9 Agustus 2018. 12.27 WIT

0 Response to "Saatnya Santri Kuasai Teknologi Dan Aktif di Media Sosial"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel