Perang Dunia (Maya)


Ini bukan perang antara pendukung pemerintah dengan oposisi pemerintah, tapi perang ideologi, yakni yang pro Pancasila melawan yang kontra Pancasila.
Jadi bukan perang kubu pro Jokowi melawan rival Jokowi.
Ormas yang terdepan membela ideologi Pancasila itu NU dan Muhammadiyah, melawan ideologi khilafah dan ideologi lainnya yang menolak Pancasila

Lihatlah hiruk pikuk dunia maya, terutama media sosial yang penuh dengan pertengkaran, ujaran kebencian (hate speech), dan konten-konten palsu (hoax).

Dunia maya hari ini adalah juga dunia yang sedang dilanda perang. Secara fisik mungkin semua orang kelihatan baik-baik saja. Tapi, korban-korban kejiwaan berjatuhan tak terhitung jumlahnya. Mereka yang kurang pintar sejak lahir dan belum pernah punya pengalaman menjadi pintar, jelas merupakan kelompok yang paling rentan.

Gambar : Ilustrasi perang dunia maya/google image

Apa boleh buat, ini perang. Dan para pendatang baru dunia maya dengan senjata HP-nya, dan dikendalikan oleh pembenci kedamaian. Kita diperalat oleh segelintir orang yang haus akan gelimangnya harta benda.

Makin maraknya pertengkaran, ujaran kebencian, dan berita palsu memenuhi media sosial, sehingga dianggap suatu kebenaran.

Penyakit sesungguhnya adalah berkurangnya keinginan mencari bukti, mempertanyakan sesuatu, dan berpikir kritis.

Dalam perang, hanya ada dua istilah. Kalau bukan teman, ya berarti musuh. Kalau tidak menang, ya pastinya kalah. Kalau tidak hidup, ya pastinya mati.

Tidak ada istilah mohon maaf, karena dalam peperangan jika tidak membunuh, ya dibunuh.

Dan saat ini dalam dunia maya, di negara kita tercinta terjadi perang terbuka antara pendukung Pancasila dengan yang berusaha mengganti Pancasila. Namun yang bakal jadi korban adalah Islam, karena Islam dijadikan tameng (perisai) oleh mereka yang anti Pancasila. Pendukung Pancasila dimotori oleh Nahdlatul Ulama (NU) yang moderat harus melawan gerakan Islam Radikal transnasional yang dimotori oleh Ikhwanul Muslimin & Wahabi yang ingin mengganti Pancasila.

Pertanyaannya adalah mengapa sesama Islam kok bisa perang? Jawabnya adalah karena memang ada kelompok Islam yang berfikiran radikal. Keradikalan pikiran tersebut juga dituangkan dalam tindakan nyata, maka terjadilah perang tersebut.

Satu diantara ciri radikal adalah merasa benar sendiri dan memaksakan kehendak. Pemaksaan kehendak dan sikap monopoli kebenaran tersebut diimplementasikan dalam 2 agenda, yaitu:
~ Pemaksaan agenda wahabisasi di Indonesia.
~ Pemaksaan agenda khilafah di Indonesia.

Dan ternyata salah satu penghalang dari Grand Design mereka adalah NU. Karena NU istiqomah berpaham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), yang mana Aswaja itu bertolak belakang dengan Wahabi. Dan lagi NU konsisten terhadap 4 pilar, PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945), atau dengan kata lain NU itu menegakkan konsep religius nasionalis, bukan religius fundamentalis yang anti nasionalis. NU itu Islam berkebangsaan, Islam Indonesia, Islam Nusantara.

Model Islam yang seperti ini tidak dikehendaki oleh kelompok radikal yang mana mereka ingin menerapkan Islam ala Timur Tengah sekalian mengimpor budayanya, yang berpaham Wahabi.

Karena NU dianggap penghalang agenda mereka, maka NU diserang dari segala penjuru arah mata angin, dari darat, laut, dan udara.

Tak mempan menyerang organisasi NU, maka mereka menyerang tokoh-tokoh NU. Serangan ke tokoh NU dihadapi oleh Nahdliyyin dengan kompak, sehingga bisa dipatahkan serangan tadi. Gagal serang tokoh NU, mereka memanfaatkan kaum Nahdliyin dengan perpolitikan Indonesia, karena mereka tahu bahwa Nahdliyyin akan bisa dipecah dengan politik untuk memilih pemimpin negara. Berbagai doktrin pasti akan termakan oleh sebagian Nahdliyyin sehingga bisa dibenturkan, diadu domba sesama Nahdliyyin.

Lihatlah, grup-grup (di Facebook dan media sosial lainnya) yang berafiliasi ke NU!!! Satu persatu tumbang dan jatuh ke tangan mereka, karena admin grup saling curiga. Itulah yang diinginkan oleh mereka, agar kita lengah dan mudah dikuasai. NU yang terbiasa dengan suatu perbedaan, malah dirubah oleh admin grup menjadi monopoli kebenaran menurut kepercayaan si admin. Sehingga jika ada yang berbeda pendapat, atau yang kelihatan nyeleneh maka akan ditendang keluar bahkan diblokir. Pokoknya yang paling benar dan merasa paling mengerti NU secara absurd itu hanya admin.

Jika terus terjadi demikian, maka tunggulah waktunya grup-grup itu tumbang dan beralih tangan. Grup yang seharusnya menjadi benteng dalam menjaga keutuhan NKRI dalam menangkal faham anti Pancasila bisa direbut oleh mereka, sehingga mereka bisa leluasa menyebarkan propaganda anti Pancasila dengan bertameng Islam.

Oleh: Abdir Rahman

https://facebook.com/abdir.rahman.7712

0 Response to "Perang Dunia (Maya)"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel