Ngaji Islam Nusantara ke 'Nak Bali'

Erhaje88

Pulau Bali, Gudang Khazanah Peradaban Dokumen-Dokumen para Wali Songo

Salah satu mu'jizat Islam Nusantara adalah karena ada 'Nak (orang) Bali. Ya, karena orang Bali-lah, berbagai dokumen Islam Nusantara dari jaman Wali Songo hingga era Demak terjaga dengan baik. Sepadan dengan terjaganya Negarakertagama dan Pararaton -- tapi sayang orientalis dan murid-muridnya tidak mau mengakui ini.

Ini salah satu dokumen itu. Nah itu yang akan kita ngajikan, ayo merapat, sambil ngopi dan buang WA-WAnan dahulu...

Gambar: Naskah lontar/facebook.com/ahmad.baso

Kalau ada yang meragukan isi naskah-naskah lontar Bali ini, maka sudah semestinya pula bakal meragukan naskah-naskah seperti Negarakartagama, Pararaton atau Arjuna Wiwaha dari asal yang sama, Bali-Lombok. Naskah-naskah dari era Majapahit itu bisa bertahan hingga kini, lebih dari 500 tahun, dan belum pernah saya dengar ada yang meragukannya.

Tentu hal yang sama juga berlaku untuk naskah-naskah yang merekam sepakterjang tokoh-tokoh pengislaman Nusantara dari sumber yang sama pula, dari kurun waktu yang berdekatan. Meski ketiga naskah itu masing-masing hidup dalam lingkungan komunitas yang berbeda, kultur maupun agama.

Namun yang mencengangkan kita adalah tingkat akurasi penulis-penulis Bali yang menjaga dokumen itu tetap bertahan hingga kini. Kadar akurasi redaksional dan presisi maknanya hampir sempurna, tanpa otak-atik, improvisasi atau penyimpangan tekstual seperti yang kita temukan dalam teks-teks babad di Jawa.

Naskah kropak atau lontar ini berjudul Babad Sasak kode K. 15/P koleksi Pusat Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali di Denpasar. Naskah beraksara Bali bahasa Jawa bercampur kata-kata bahasa Bali ini terdiri dari 307 lampir atau lembar bolak-balik, milik Gusti Putu Djelantik Singaraja.

Gusti Putu Jelantik atau Anak Agung Putu Jelantik (wafat 1944) merupakan generasi ke-6 dari pendiri kerajaan Buleleng, Ki Gusti Anglurah Panji Sakti (1599-1680) dan raja ke-7 Kerajaan Buleleng. Beliau memerintah pada waktu Buleleng baru dijajah Kompeni Belanda. Dia juga yang membangun Puri Agung/Puri Gede di kota Singaraja pada 1920-an. Dia memerintah dari tahun 1929-1944.Ayahnya, I Gusti Ngurah Ketut Djelantik, diasingkan karena menentang kekuasaan Belanda di Bali.

Pada tahun 1928 Anak Agung Putu Djlantik mendirikan Perpustakaan Lontar Gedung Kirtya di bagian depan halaman puri di Singarja yg hingga kini masih bertahan.

Patut disayangkan, keberadaan naskah-naskah kropak semacam ini belum mendapat perhatian yang memadai dari para penelliti. Apalagi di kalangan orientalis. Beberapa nama besar dalam kajian sastra dan naskah-naskah sejarah Bali era Majapahit dan sesudahnya, seperti H.N. van der Tuuk, C.C. Berg, Henk Schult Noordholt, A. Teeuw, hingga Helen Creese da Adrian Vickers di masa kini. Apakah karena da anggapans elama ini bahwa eks-teks semcam itu dianggap dibuat di Lombok, dan bukan karya asli Bali—sesuai dengan anggapan umum yang ditanamkan sejak masa kolonial bahwa Bali itu asli Hindu.

Kalaupun ada anggapan bahwa itu ditulis orang Bali sendiri, meksipun non-Muslim, maka itu ditulis masa itu dalam rangka relasi kuasa dengan para bawahannya orang Lombok yang dianggap sebagai kasta kelima terbawah–seperti ditulis Vickers!

Padahal naskah-naskah semacam ini diproduksi di masa-masa perjumpaan orang Bali dengan Wali Songo pasca kejatuhan Majapahit. C. C. Berg sudah mencatat ramainya dunia tulis-menulis (panarikan, panulisan) di era zaman Gelgel di Klungkung abad 16 dan 17. Tapi ia mengabaikan justru naskah-nasah yang berisi sejarah pertemuan utusan Wali Songo dan Bali ini.

Naskah kropak Babad Sasak ini tetap terpelihara dengan baik. Termasuk dalam tradisi keislaman. Maka tidak benar kecurigaan van der Tuuk soal kemunculan bebeapa istilah Arab dalam naskah-naskah Bali, katanya itu ditulis di Lombok di bawah pengaruh umat Islam sana!

Padahal kalau diteliti secara jeli pilihan bahasa yang dipakai penulis Bali ini punya gayanya sendiri, yang berbeda dari aliran tulisan penulis-penulis Bali. Seperti yang saya bandingkan antara ketiga naskah sejarah Wali Songo ini, antara versi Bali (Naskah A) dan dua naskah asal Lombok (Naskah BL dan LW) dalm buku saya nanti Islam Nusantara Jilid 3.

Para ulama Waliyullah Keturunan Rasulullah SAW "Angajawi" (Ber-Nusantara")

Kita ambil satu dokumen Puri Buleleng itu di lempir atau lembar 137a:

[baris pertama] k [kebek] dining sastra, sapun layari mangke, hing Soma lunganipun, Nusa Jawa duk maksi kapir, wastane

[baris kedua] kang agermya, Rajeng Duta Samud, boyete Ki Jati Swara, pan punika, wiwitane wang a-

[baris ketiga] jawi [AJAWI], milane gami Slam. Sapun rata hing Jawa kalendih, sama kinut, gami hadi-

[baris keempat] l mulya, lanang wadon sunat kabeh, rame salat akawum, jekat pitrah lan mungga haji, tumare-

Terjemah:
[Kapal itu] penuh dengan buku-buku dan tulisan. Ia [utusan dan pedagang dari Campa itu: yakni Sunan Ampel] sudah berangkat berlayar di Hari Senin. Pulau Jawa masa itu masih kafir. Nama duta yang berdagang itu adalah Haji Samud [nama lain Sunan Ampel]. Ia adalah cucu Kiai Jatiswara [Syekh Jumadil Kubro]. Keluarga ini adalah generasi pertama yang datang ke Jawa dan menjadi orang Jawa di permulaan hadirnya agama Islam.

Agama Islam sudah merata di Jawa, agama lama pun terdesak dan tersingkir. Semua orang pun tertunduk, sama-sama mengikuti dan menganut agama baru itu, agama yang adil dan mulia. Laki-laki dan perempuan sudah dikhitan. Mereka sudah banyak yang menunaikan ibadah shalat dan puasa, serta menunaikan zakat dan zakat fitrah, serta naik haji ...

Penjelasan:
Teks ini memperjelas posisi keturunan keluarga ahlulbait Rasulullah SAW. serta jasa mereka dalam proses pengislaman Nusantara – seperti yang ditekankan juga teks Hikayat Raja-raja Pasai dan Sajarah Melayu.

Ajawi: “Ajawi” atau “angajawi” bisa berati datang ke Jawa atau menjadi Jawa. Jawi di sini bisa juga berarti Nusantara. Yang terakhir ini lebih pas, seperti dijelaskan nanti. Makna ajawi atau ngajawi ini menunjukkan bahwa proses awal kedatangan agama Islam di Nusantara atau proses terbentuknya wacana keilmu-keagamaan Islam Nusantara itu baru muncul ketika ada proses angajawi, yaitu transformasi kesejatian seseorang menyatu atau menjadi bagian dari ke-Nusantara-an ini.

Dengan kata lain, terbentuknya tradisi-tradisi berperadaban Islam Nusantara dimulai dari proses transformasi para Waliyullah misionaris Islam ini ber-“ajawi”. Itulah hakikat Islamisasi fase kedua, yang lebih berakar dan berkarakter. (Bersambung)

Oleh: Ahmad Baso

Sumber: facebook.com/ahmad.baso

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018